Sukses

Mahasiswa Indonesia Ingin Menjadi Penemu Teknologi Komputer

Liputan6.com, Jakarta Saat ini kita telah memasuki era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik, perkembangan neuroteknologi, financial technology (fintech), dan lain sebagainya. Namun, penemuan-penemuan itu banyak dihasilkan oleh peneliti dari luar negeri, padahal peneliti Indonesia tidaklah kalah mumpuni.

Alasan tersebut yang akhirnya mendorong Melvin Harsono bercita-cita menjadi seorang peneliti, dengan meneruskan kuliah S2 di Beijing Jiaotong University. Pria berusia 22 tahun ini sudah sejak lama tertarik dengan bidang electronic, programming, pelajaran matematika, dan fisika.

Lalu, pada 2013, Melvin memutuskan mengambil kuliah Jurusan Teknik Elektro di President University. Ia memilih President University karena universitas ini pembelajarannya full English dan dosen-dosennya rata-rata lulusan luar negeri. Anak pertama dari 2 bersaudara ini pun merasa beruntung kuliah di President University karena memiliki kesempatan untuk magang.

“Saya pernah magang di PT. Denso Indonesia, sebelum masuk saya diberikan test dan berhasil mendapat nilai A. Di sini saya dapat mengenal langsung dunia industri. Bahkan, pernah memberikan masukan kepada PT Denso agar produktivitas salah satu produknya lebih baik. Meskipun saya dari basic teknik elektro, saya jadi belajar teknik industri ketika saya magang, sehingga nantinya siap masuk dunia kerja ,” ujar Melvin, yang punya motto hidup “selalu belajar dari pengalaman”.

Saat menyandang status mahasiswa, ia aktif di beberapa organisasi dan juga pernah ikut kompetisi.

“Saya aktif di Robotic Club President University Major Association of Electrical Engineering (PUMA EE), sebagai sekretaris selama 2 periode (2014-2015 & 2015-2016), mengurusi segala yang berhubungan dengan proposal kegiatan, laporan kegiatan, dan dokumentasi surat-menyurat. Saya memang memiliki passion dalam mengorganisir data. Saya juga aktif di KMB (Keluarga Mahasiswa Budha) Ashokavardana, meskipun tidak memiliki jabatan tetapi saya sering ikut membantu dalam event-eventnya,” ucap Melvin, yang merupakan Finalis Electromedic Competition di UMY.

Memperdalam ilmu teknologi komputer

Setelah lulus dari President University pada 2017, putra asli Pontianak tersebut mendapatkan beasiswa S2 di Beijing Jiaotong University.

“Saya ingin belajar lebih lanjut mengenai thesis saya yang berjudul Brain Computer Interface (BCI) for Land Mobile Robot Control Using Attention and Eye Blink Detection of FP1 Brodmann Atlas. Kemudian, dosen pembimbing saya, Dr. -Ing Erwin Sitompul merekomendasikan Beijing Jiaotong University sebagai universitas tujuan. Kemudian, saya mendaftar dan berhasil mendapatkan full scholarship untuk kuliah di China dari CGS (Chinese Government Scholarship),” kata Melvin, sang sarjana ber-IPK 3.89.

Saat ini, ia tinggal di Beijing Jiaotong University Dormitory, di mana dirinya mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Di sini banyak mahasiswa internasional, karena saya dulu dari President University, maka saya tidak kesulitan dalam hal komunikasi. Saya juga menggunakan bahasa Mandarin untuk berkomunikasi denganmasayarakat lokal di sana,” ujar Melvin.

Alasannya memilih melanjutkan kuliah S2 di negeri tirai bambu itu, karena China sekarang merupakan salah satu negara yang terkemuka dalam hal teknologi. Melvin mencontohkan, di Beijing sendiri, mereka mulai mengaplikasikan sistem less cash (non tunai) dan menggunakan WeChat pay dan Alipay untuk transaksi pembayaran di toko-toko hingga jajanan kaki lima. Sehingga, di sini ia bisa lebih memperdalam ilmu yang berkaitan dengan teknologi komputer.

“Saya bercita-cita menjadi seorang peneliti, dan mimpi besar saya menjadi penemu teknologi. Saya juga ingin mendirikan perusahaan yang menggabungkan BCI dan Virtual Reality (VR) untuk masa depan manusia yang lebih baik,” ucap Melvin, yang ingin menjadi seorang konseptor dan menciptakan konseptor-konseptor lain lagi di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan teknologi komputer.

Menurutnya, sejauh ini perkembangan teknologi di Indonesia masih standar dan kurang memiliki fasilitas yang memadai, serta mengandalkan impor fasilitas dari negara lain. Solusinya, agar teknologi Indonesia tidak tertinggal adalah menyiapkan sumber daya manusianya.

Selain itu, juga jangan berharap kepada pemerintah saja dan harus memiliki lebih banyak konseptor untuk mempersiapkan penggunaan SDM di bidang teknologi komputer dalam jumlah yang lebih banyak. Tidak hanya itu, para pelaku usaha bidang teknologi komputer harus berkontribusi dalam Research and Development (R&D) agar teknologi komputer bisa berkembang dan tidak hanya tergantung aplikasi dari negara luar.


(*)

Artikel Selanjutnya
Kemenperin Buka Lowongan CPNS, Ini Formasinya
Artikel Selanjutnya
Bukan Facebook dan Apple, Ini 5 Perusahaan Teknologi Tercerdas