Sukses

6 Paskibraka 2017 Ini Diajak Ganti Tali, Calon Tim Pengibar?

Liputan6.com, Jakarta - Proses mengganti tali tiang bendera di Istana Merdeka pada Sabtu, 12 Agustus 2017 melibatkan enam anggota Paskibraka 2017. Selesai diganti, tali akan digarisi yang nanti akan dijadikan patokan tim pengibar upacara Kemerdekaan Republik Indonesia 72.

Rianto Fajriansyah (Bengkulu), Muhammad Wildan Arsyad Muzakki (Jawa Timur), Alfares Deo Simangungsong (Kalimantan Timur), Rahmat Hersa Widiatmoko (Kalimantan Barat), Mohammad Alfin Abas (Gorontalo), dan Agus Putra Pratama Yudha (Nusa Tenggara Barat) ditunjuk langsung oleh Subagyo, pembina senior untuk melihat proses sakral tersebut.

Konon, orang-orang yang diajak ke tengah lapangan untuk mengganti tali tiang bendera adalah mereka yang nanti akan ditugaskan jadi tim pengibar, benarkah? Apalagi ke-enam nama itu berasal dari dua tim yang berbeda, yang masing-masing cukup sering dilatih jadi pengerek, pembentang, dan komandan kelompok 8.

Baca juga: Proses Sakral Mengganti Tali Tiang Bendera di Istana Negara 

"Sebenarnya, mereka bertugas atau tidak ada di pelatih. Tergantung nasib. Kalau hoki bisa saja terpilih. Yang kita bawa memang yang sudah biasa menaikkan dan menurunkan bendera," kata Subagyo kepada Diary Paskibraka Liputan6.com, Rabu, 16 Agustus 2017.

Subagyo termasuk pembina senior yang kerap diikutsertakan dalam menilai peserta Diklat Paskibraka. Pada tahun ini pun, ia terlihat beberapa kali turun langsung ke tengah lapang memberitahu cara yang benar jadi tim pengibar.

Berikut video proses mengganti tali tiang bendera di Istana Merdeka yang juga melibatkan enam orang anggota Paskibraka 2017

 

"Kalau saya melihat mereka mainnya sudah halus, dan mereka punya keyakinan besar. Ya, sekali lagi, pelatih juga yang akan menentukan," kata Subagyo.

Pelatih tentu saja punya kriteria khusus dalam menilai anggota Paskibraka 2017 yang layak jadi tim pengibar. Menurut Subagyo, kalau untuk Komandan Kelompok, baik 17 maupun 8, hal paling penting yang mesti diperhatikan adalah suara, gerakan, dan yang terakhir ketenangan.

"Kalau tidak tenang tidak bisa menguasai situasi dan kondisi lapangan, apalagi yang emosian," kata Subagyo.

Hal yang serupa juga berlaku untuk pengerek dan pembentang. Selain itu, harus kerja sama yang baik dan gerakan harus halus."Psikologis itu utama, harus pede," kata Subagyo.

Pengalaman ini dirasakan Amarik Fakhri Marliansyah, pengerek tahun 2016 dari tim Bima. Sewaktu proses mengganti tali, ia tidak diikutsertakan. Kala itu, Abu Sadiki yang ditunjuk oleh Subagyo.

"Waktu itu sempat diledekin sama teman-teman karena bukan saya yang ikut ganti. Sempat down, tapi pasrah saja," kata Arik.

Akan tetapi yang membuatnya yakin dapat diberi tugas jadi tim pengibar adalah sewaktu gladi bersih ia ikut dimainkan. Dan saat melihat duplikat bendera pusaka, ia dan dua orang temannya yang diizinkan masuk.

"Kalau sudah seperti itu, 90 persen dia yang main," kata Arik.

Artikel Selanjutnya
Kala Anggota Paskibraka 2017 Menari dalam Ajang Apel Kebangsaan
Artikel Selanjutnya
Cerita Paskibraka 2017 Asal Kaltim Raih 2 Posisi Terbaik