Sukses

Proses Sakral Mengganti Tali Tiang Bendera di Istana Negara

Liputan6.com, Jakarta Tali dari tiang bendera di Istana Negara selalu diganti setiap tahun. Proses mengganti baru dilaksanakan dua atau tiga hari sebelum upacara perayaan HUT RI dimulai.

Proses ini dinilai sakral. Tidak sembarang orang boleh mengganti tali tiang tersebut. Tali yang akan digunakan pun bukan sembarang tali yang dibeli di "pasar loak".

Pembina Paskibraka 2017, Subagyo, mengatakan sosok yang mengganti tali, mengukur panjang tali, sampai membuat patokan untuk lebih memudahkan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dalam bertugas nanti adalah turun temurun.

"Awal tahun 1980 yang mengganti tali itu adalah saya dan bapaknya," kata Subagyo sambil menunjuk sosok pria berbatik warna hijau dan mengenakan topi bertuliskan Paskibraka 2017 yang tampak begitu serius mengukur dan menggarisi tali.

"Setelah bapaknya meninggal tahun 2000 an, anaknya yang saya tunjuk sampai sekarang untuk mengganti tali itu," ujar Subagyo kepada Diary Paskibraka Liputan6.com, Sabtu, 12 Agustus 2017.

Subagyo merasa agak berat memberi tanggung jawab ke orang lain. Ia lebih percaya pada anak sahabatnya itu karena sedari kecil sudah sering melihat sang ayah bekerja.

"Kakak belum percaya sama yang lain. Belum kelihatan ada yang seperti dia. Kalau ini kakak sudah yakin, karena sedari kecil sudah tahu masalah tali," kata Subagyo menambahkan.

Bahkan kalau tiang bendera di Istana Negara mendadak ngadat, sosok yang dimaksud Subagyo itu bisa naik ke atas dengan cara memanjat. "Itu juga yang membuat kakak semakin yakin sama dia," tambah dia.

Kerja sama antara Subagyo dan anak dari sahabatnya itu tak sebatas mengganti dan mengukur tali. Mereka juga punya "ritual" wajib sebelum memasangkan tali ke tiang bendera, yaitu harus dimasak.

"Bukan berarti habis beli tali baru langsung dipasang begitu saja. Harus dimasak dulu sampai benar-benar matang. Harus benar-benar paten supaya saat dipasang tidak mulur," kata Subagyo.

Permasalan tali, kata Subagyo, jarang menjadi perhatian. Orang-orang selama ini terlalu menganggap sepele untuk hal-hal sekecil itu. Karena itu Subagyo agak sedikit kesal bila ada orang memandang remeh terhadap upacara bendera.

Kalimat 'Buat apa pakai Paskibraka untuk menaikkan bendera? Satpam saja bisa, kok' yang terlontar dari mulut orang-orang sering kali ia dengar jelang 17 Agustus. Mereka tak tahu bahwa Paskibraka itu adalah sejarah.

"Termasuk masalah tali itu, itu sejarah," kata Subagyo.

Menjadikan tali layak dipakai bukan proses singkat. Tali yang dipilih harus halus, tidak ada sambungan, direbus, dijemur sampai matang. "Orang boleh saja menganggap ini sepele, tapi makna di balik itu sangat besar," kata dia lagi.

Menurut mantan pelatih yang kemudian menjadi pembina Paskibraka paling senior sampai detik ini, militer sendiri tidak tahu mengenai hal itu. Ia adalah mantan TNI yang belum pernah tahu pelajaran seperti ini.

"Setelah kakak jadi pelatih Paskibraka baru mengetahui semua itu. Saat itu kakak mulai mengumpulkan sejarah asal-usul bendera, sejarah bendera, sampai pembuatnya. Sampai ke hal-hal kecil," kata Subagyo.

Lebih lanjut, tali tiang bendera harus dimasak dua kali selama dua malam. Setelah itu dijemur kemudian dimasak lagi. Apabila sekali masak saja sudah bagus maka cukup.

"Tapi umumnya dua karena kurang yakin. Biar enggak mulur harus dimatangkan betul-betul," ujarnya.Tali itu memiliki panjang 17 meter dikali 2 dengan diameter 10 milimeter. Setelah dimasak, dijemur, dikeringkan, akan digulung untuk disimpan yang kemudian akan dipotong-potong mengikuti ukuran tiang.

"Diameter tali itu ada yang enam, tujuh, dan paling besar 11. Kakak selalu menggunakan yang 10 biar pas dengan rol dan laher," kata Subagyo.

Setelah dirasa cukup, baru tali itu dipasangkan ke tiang bendera Istana Negara, diberi tanda untuk lebih memudahkan petugas upacara, dalam hal ini Paskibraka 2017, saat akan mengibarkan Sang Saka.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Artikel Selanjutnya
Dirgahayu Indonesiaku
Artikel Selanjutnya
Kala Sang Saka Merah Putih Berkibar di Langit Korea Utara