Sukses

Harga Garam Naik hingga 500 Persen

Polri berharap jajaran PT Ibu kooperatisf dengan memenuhi panggilan Polri agar kasus ini segera tuntas.

Liputan6.com, Pemalang - Melambungnya harga garam membuat para pelaku industri kecil terancam gulung tikar. Pasalnya, meski harga garam naik hingga 500 persen, namun mereka tak berani menaikkan harga jual karena takut tidak laku.

Seperti ditayangkan Fokus Malam Indosiar, Jumat (28/7/2017), sudah dua bulan ini pikiran Kasri tak bisa tenang. Ia harus memutar otak agar usahanya membuat ikan asin tetap bisa berjalan. Pasalnya, harga garam sebagai salah satu bahan baku, naik tak masuk akal.

Biasanya Kasri membeli satu karung seberat 29 Kilogram hanya Rp 30 ribu, kini menjadi Rp 150 ribu atau naik lima kali lipat.

Menurut Kasri, selama bertahun-tahun ia menggeluti usaha ikan asin, baru kali ini harga garam membuat usahanya limbung. Yang lebih parah, kini harga ikan juga ikut naik.

Meski demikian Kasri mengaku tak berani menaikkan harga, karena takut dagangannya justru tidak laku. Akibatnya ia harus menanggung kerugian besar.

Kini puluhan perajin ikan asin lain di kompleks Pelabuhan Asemdoyong, Pemalang, harus mengalami nasib yang sama dengan Kasri. Mereka hanya berharap pemerintah segera turun tangan meringankan beban para pembuat ikan asin.

Kondisi yang sama jug dialami ratusan pembuat telor asin di Kampung Bebek dan telur asin Kecamatan Candi Sidoarjo. Salah satunya adalah Selamet. Para pembuat telur asin harus membeli garam Rp 400 ribu per 50 kilogram, padahal normalnya hanya Rp 150 ribu.

Meski harga garam sangat mahal, Selamet mengaku tak berani menaikkan harga jual sehingga keutungannya turun drastis.

Selaian itu ia juga tak berani mengurangi ukuran garam, karena takut mempengaruhi cita rasa telur asin. Setiap hari Selamet membutuhkan sekitar 10 kilogram garam untuk membuat 600 hingga 1000 butir telur asin.

Para perajin mengaku hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah turun tangan. Kini harga garam melonjak sangat tajam. Di tingkat produsen, harga garam sudah mencapai Rp 3.000 per kilogram, padahal biasanya hanya Rp 500 per kilogram.