Sukses

Maria J Bicara Kepemimpinan Wanita di Konferensi International

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai bangsa Indonesia tentu bangga memiliki sosok Sri Mulyani yang pernah menjabat sebagai direktur Bank Dunia. Dan kebanggaan itu juga dirasakan oleh President University yang memiliki seorang Dr. Maria Jacinta Arquisola, BA, MHRM. Perempuan kelahiran Philipina yang hijrah ke Indonesia pada tahun 1996 ini, merupakan 1 dari 20 perempuan yang terpilih mewakili Indonesia dari 400 pesaing untuk mengikuti konferensi internasional yang bertema “Female Leadership and Higher Education Management in Developing Countries”.

Dalam konferensi yang diselenggarakan oleh German Rectors’ Conference (HRK) dan Deutscher Akdemischer Austauchdienst (DAAD) pada tanggal 28-29 Juni 2017 di Hilton Bonn, Jerman ini, Maria Jacinta diundang sebagai pembicara. Direktur Professional Development Center (PDC) ini mempresentasikan makalahnya dihadapan 150 pemimpin akademis perempuan, seperti Gulsun Saglamer, Presiden Asosiasi Rektor Wanita Eropa, Dr. Elizabeth Rakaesola, Presiden Africa Gong, Pan- African Wide Association of Women Academic Leaders.

“Makalah saya berjudul “I See Myself as Climbing a Mountain: Constraints and Sensemaking of Female a Academic Leaders in Indonesian Higher Education". Makalah ini hasil riset yang saya lakukan bersama 3 peneliti dari University of South Australia, Monash University dan Deakin University tentang perjuangan, kendala dan kisah sukses yang dialami 14 pemimpin perempuan dari 4 (empat) Perguruan Tinggi Negeri ternama,” ungkap Dosen Fakultas Ekonomi yang sudah bergabung dengan President University sejak tahun 2006.

Lulusan S2 Human Resource Management Massey University New Zealand dan S3 Management Deakin University, Melbourne Australia ini menyampaikan, konferensi tersebut menghasilkan banyak rekomendasi. Dari segi internasional, terbentuk South-South Cooperation Network, dimana pemimpin perempuan dari Afrika, Amerika Selatan dan Asia Tenggara bisa bertemu untuk bertukar gagasan, ide, wawasan dan pengalaman global tentang kisah sukses mereka. Network ini sangat diperlukan sebagai wacana bagi pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan kesetaraan perempuan dalam kepemimpinan.

Rekomendasi lainnya adalah program pengembangan kapasitas untuk pemimpin perempuan muda, terutama dalam menghadapi tantangan kepemimpinan di lingkup pekerjaan. Misinya Dorong Perempuan Jadi pemimpin Jacinta saat ini tercatat masih aktif menjadi anggota Human Resource Institute New Zealand, dan Society for Human Resource Management USA. Peraih Endeavour Awards 2012 dari pemerintah Australia ini merasa masih sangat kurang peran pemimpin perempuan di perguruan tinggi di Indonesia. Namun ia sangat bangga, President University pernah memiliki rektor perempuan, yakni Prof Dr Muliawati G Siswanto M Eng.Sc.

“Saya sangat menghormati beliau karena bisa menorobos 'glass ceiling' atau hambatan struktural
terhadap perempuan. Beliau memilih bidang profesi yang jarang dimiliki banyak perempuan. Beliau juga suka menulis dan banyak publikasi. However, Bu Mul itu sangat baik juga friendly and motherly. Good combination untuk female leader,” ungkap Jacinta.

Menurut Jacinta, masih sedikitnya rektor perempuan, karena perempuan kurang persiapan dan kesempatan menjadi pemimpin, dan masih dianggap nomor dua dibanding pemimpin laki-laki. Pria di Indonesia sudah secara alami menjadi pemimpin karena budaya patriarki, jadi pemimpin itu adalah hak istimewa kaum pria. Di sisi lain peran perempuan lebih diutamakan sebagai ibu yang mengasuh anak dan keluarga dibanding berkarir. Mereka kurang aktif bersuara dalam pembuatan kebijakan atau menjadi perwakilan di tingkat top level manajemen.

Jacinta sangat mendukung perempuan itu sebagai leader. Meski ada patriarki, tetapi ia percaya keadaan ini mulai membaik dengan adanya upaya pemerintah untuk mendorong peran perempuan secara aktif. Sudah banyak menteri yang perempuan, dan juga program pemerintah sekarang memberikan banyak peluang buat perempuan menjadi pengusaha sukses.

“Misi saya adalah mendukung generasi muda menjadi pemimpin perempuan agar mereka tertarik mengembangkan diri. Misalnya, saya suka coaching dan mentoring staff pengajar muda untuk berpartisipasi dalam kegiatan dimana leadership skill dan potensinya akan terlihat. Saya juga mendukung mahasiswi untuk mengambil S2 atau mengadakan penelitian yang bisa mendorong mereka berkembang. Dan saya selalu memberikan inspirasi dalam mentoring saya,” ungkap Jacinta yang ingin menjadi role model dan panutan buat generasi muda dan memberikan inspirasi bahwa perempuan bisa melakukan apa yang laki-laki kerjakan.

 

 

(*)

Artikel Selanjutnya
Top 3: Babak Baru Putri Jepang Bertunangan dengan Pria Biasa
Artikel Selanjutnya
Sepak Terjang RI Akhiri Konflik Rohingya di Myanmar Disorot Dunia