Sukses

Hari Anak Nasional, Pekerja Hulu Migas Sapa Anak dari Lapangan

Liputan6.com, Jakarta Salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh mereka yang menjadi pekerja lapangan industri hulu minyak dan gas bumi (migas) adalah harus berpisah dengan keluarga untuk waktu yang lama. Rindu untuk bertemu dengan buah hati kerap harus ditahan sampai pergantian waktu kerja tiba. Dalam rangka memperingati hari anak nasional para pekerja ini menyapa anak-anak mereka langsung dari lapangan migas.

“Maaf ya, Ayah harus jauh dari kalian karena sedang bertugas. Kalian jangan nakal ya, jagain bunda,” demikian pesan Nikko Rachmat kepada dua orang putrinya. Nikko saat ini bekerja sebagai assistant manager operation production di Lapangan Migas Pangkalan Susu, yang dioperasikan oleh PT Pertamina EP di Sumatera Utara. Sebagai pekerja lapangan, Nikko memang tidak bisa setiap saat berkumpul dengan dua buah hatinya tersebut. Namun dia berjanji akan mengajak anaknya bermain bersama begitu giliran bertugasnya digantikan oleh rekannya yang lain.

Rangga Fajar Wiwaha yang bekerja sebagai Production Operator harus melewati kesempatan mengantar putranya yang baru pertama kali berangkat sekolah. Rangga bertugas di Lapangan Kerisi, Wilayah Kerja South Natuna Sea Blok B. Lapangan ini berlokasi di Kepulauan Anambas yang merupakan salah satu titik terluar Indonesia.

“Selamat memasuki dunia pendidikan. Maaf selama 21 hari ke depan Bapak tidak dapat menemani Azam, khususnya di hari pertama Azam sekolah,” ujarnya. Meskipun tidak bisa mengantarkan anaknya ke sekolah di hari pertama, Rangga tetap berharap anaknya dapat belajar sebaik-baiknya di bangku sekolah tersebut. “Selamat belajar Nak, dengarkan apa kata gurumu, semoga sukses,” pesan Rangga untuk buah hatinya.

Para pekerja lapangan hulu migas tersebut menyampaikan pesan-pesan bagi anaknya melalui video-video yang diunggah akun instagram @humasskkmigas dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 23 Juli 2017.

SKK Migas atau Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi merupakan lembaga negara yang diberi mandat untuk mengawasi dan mengendalikan kegiatan usaha hulu migas. Menurut catatan SKK Migas, saat ini terdapat 277 wilayah kerja migas yang tersebar di seluruh nusantara. Blok migas ini dioperasikan oleh perusahaan migas yang dikenal dengan sebutan kontraktor kontrak kerja sama atau Kontraktor KKS.

Meskipun sebagian para kontraktor ini merupakan anak perusahaan multinasional, kedudukan mereka menurut kontrak kerja sama migas tetaplah sebagai kontraktor yang mengerjakan proyek negara dan dikendalikan oleh SKK Migas. Salah satu aspek yang dikontrol oleh SKK Migas adalah dalam pemakaian tenaga kerja asing.

Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) dibatasi hanya pada bidang yang masih belum cukup dipenuhi oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau sebagai perwakilan investor. Itu pun, mereka tetap harus memenuhi berbagai persyaratan, di antaranya memiliki pengalaman kerja 10 tahun di bidangnya. Dengan persyaratan tersebut, TKI mendominasi industri hulu migas Indonesia. Data tahun 2016 menunjukkan dari total 30.531 pekerja hulu migas, jumlah TKI mencapai 29.836 atau sekitar 98 persen.

SKK Migas juga menggagas beberapa alternatif untuk meningkatkan kompetensi TKI. Di antaranya adalah menginisiasi pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi Kegiatan Usaha Hulu Migas (LSP Hulu Migas). Lembaga ini mewadahi pengembangan kompetensi sumber daya hulu migas nasional melalui sertifikasi kompetensi-kompetensi yang ada pada kegiatan hulu migas.


(*)

Artikel Selanjutnya
Menaker Hanif Kunjungi Pusat Pelatihan Keterampilan Kerja TKI
Artikel Selanjutnya
1.500 Pekerja Wanita Ikuti Pemeriksaan Dini Kanker Serviks