Sukses

Direktur Dialog Agama Vatikan: Indonesia Contoh bagi Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Toleransi menjadi salah satu 'merek dagang' Indonesia di luar negeri. Kerukunan antar-umat beragama, menjadi salah satu bahan pujian masyarakat internasional kepada Indonesia. Ini yang dirasakan Markus Solo Kewuta, SVD.

Lelaki Indonesia yang menjabat sebagai Direktur Dialog Antar-agama untuk Asia Pasifik di Vatikan ini merasa apresiasi itu diperolehnya karena berasal dari Indonesia.

"Kami ini menjadi contoh yang baik," kata Romo Markus, sapaan akrabnya.

 

Romo asal Lelowuran, Flores, Nusa Tenggara Timur, itu saat ini berkantor di Vatikan. Ia sempat hadir dalam acara Kongres Diaspora Indonesia, Sabtu 1 Juli 2017.

Di tengah-tengah kesibukannya bersilaturahmi dengan sesama warga Indonesia, rohaniawan Katolik ini menyempatkan diri untuk berbincang bersama Liputan6.com.

Sebagai tokoh lintas agama, Romo Markus banyak mengungkapkan pandangannya tentang bagaimana menjaga Indonesia. Dia juga berbagi cerita tentang pengalamannya di luar negeri. Berikut perbincangannya:

1 dari 4 halaman

Contoh Dunia

Bisa berbagi pengalaman Anda sebagai orang Indonesia di negeri orang?

Ketika kami tiba di negara asing. Kami ini menjadi contoh yang baik. Karena kami berasal dari Indonesia. Mereka selalu melihat Indonesia, walaupun terjadi ini dan itu, itu sebagai satu contoh.

Maksudnya?

Indonesia itu negara dengan keragaman yang luar biasa. Masyarakatnya itu hidup damai dan tenteram dengan toleransi yang tinggi.

Seorang peserta 'Aksi Kita Indonesia' membentangkan Bendera Merah Putih raksasa di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (4/12). Mereka juga membawa berkeliling Bendera Merah Putih raksasa sambil meneriakkan 'Kita Indonesia'. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Berarti masyarakat internasional sangat kagum?

(Indonesia) Contoh bagi dunia. Toleransi memang menjadi salah satu bagian kebudayaan kita. Budaya ini merupakan nilai yang kami teruskan juga ke luar negeri.

Artinya, Anda tetap menampilkan wajah Indonesia?

Sejauh-jauhnya kami merantau, jantung kami tetap berdetak untuk Indonesia.

2 dari 4 halaman

Wajah Toleransi Indonesia

Kemarin ada peristiwa "panas" di Indonesia saat Pilkada DKI Jakarta. Bagaimana masyarakat luar memandang? 

Ketika terjadi ketegangan seperti yang terjadi pada bulan-bulan terakhir, itu merupakan sesuatu yang sangat mengganggu. Mereka sangat sedih.

Anda sendiri bagaimana?

Saya sebagai orang Indonesia, mengenal jiwa orang Indonesia. Pasti suatu saat kita akan sadar dan kembali ke jalan yang benar.

Artinya ada yang salah?

(Bangsa) Kita memang mencintai toleransi. Tetapi kadang-kadang kita merasa itu taken for granted. Kadang kita merasa ini sesuatu yang biasa.

Festival Keragaman di Sulawesi Utara menampilkan kerukunan antar-umat beragama di Indonesia. (Liputan6.com/Yoseph Ikanubun) 

Kan memang demikian?

Toleransi itu suatu yang mahal. Saat seperti ini, kita tahu betapa mahalnya toleransi. Toleransi kita terkadang harus diuji coba. Apakah kita mampu bergerak dari toleransi naif ke toleransi yang reasonable. (Karena) Toleransi itu merupakan bagian dari identitas kita tetapi sesuatu yang rapuh pada saat yang sama.

3 dari 4 halaman

Menata Indonesia

Melihat Indonesia yang sempat memanas, apa yang harus dilakukan?

Banyak hal juga yang bisa dilakukan. Misalnya, kita harus berpegang pada prinsip: tidak ada perdamaian yang bisa diraih di Indonesia kecuali ada perdamaian antara agama.

Kenapa begitu?

Agama di Indonesia memiliki sensitivitas yang sangat tinggi. Itu berkaitan dengan identitas kita. Identitas kita yang paling kuat sebagai orang Indonesia adalah identitas keberagamaan. Banyak situasi di mana kita berlari mencari identitas kita. Sehingga pertanyaan tentang agama merupakan yang paling dominan.

Dalam hal ini, Anda melihatnya bagaimana?

Ada saat-saat tertentu yang mendukung atau mencari atau membutuhkan kita untuk menentukan identitas kita, di situ agama muncul.

 Pura dan masjid yang berdiri tetanggaan di Desa Balun, Lamongan, Jawa Timur. Desa ini menjadi potret semangat keberagaman yang dijunjung tinggi.  (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Harus seperti apa menyikapinya?

Ajakan pada kita di Indonesia untuk menempatkan agama pada tempatnya. Sehingga kita harus menempatkan agama dalam posisi yang benar.

Memang selama ini ada yang menempatkan agama secara tak benar?

Katakan secara terus terang. Kita harus menahan diri dari mempolitisasi agama, atau menggunakan agama sebagai komoditas politik.

Dengan kondisi seperti ini, kita sebagai warga Indonesia harus apa?

Sebenarnya, bhineka tunggal ika merupakan satu kebanggaan Indonesia yang harus kita majukan ke forum internasional untuk menjadi contoh dunia. Tidak ada jalan lain selain merawat bhineka tunggal ika.

Artikel Selanjutnya
Agum Gumelar: Purnawirawan Siap Hadapi Predator Pancasila
Artikel Selanjutnya
Ketua MPR: Pers Harus Jadi Pilar Demokrasi yang Mempersatukan