Sukses

Menanti ISIS di Tapal Batas

Liputan6.com, Jakarta - Sepanjang pekan lalu, warga Sulawesi Utara (Sulut) diresahkan dengan beredarnya informasi tentang ISIS yang dikabarkan sudah mulai masuk ke wilayah perbatasan, khususnya di Kabupaten Talaud dan Kabupaten Sangihe. Informasi itu tersebar lewat media sosial dan terus viral. Apalagi setelah situasi di Marawi, Filipina Selatan semakin memanas.

"Kami menerima informasi, bahwa ISIS sudah menguasai wilayah Talaud. Ini membuat kami cemas akan saudara-saudara kami di sana," ujar Lui Mengko, salah satu warga Manado yang berdomisili di Jakarta.

Dia mengatakan, menyebarnya informasi itu sangat meresahkan mereka, apalagi kondisi politik dan keamanan di Filipina sedang memanas. "Talaud kan hanya beberapa jam dijangkau dari Filipina, dan ini yang membuat kami cemas," ujarnya.

Namun, Kepolisian Daerah (Polda) Sulut menyatakan informasi tentang ISIS yang telah masuk ke daerah perbatasan Indonesia dan Filipina tidak benar. Namun, polisi mengakui jika Indonesia sedang meningkatkan pengamanan di wilayah perbatasan untuk menanggapi konflik di Marawi.

"Hingga kini daerah perbatasan aman. Itu (ISIS masuk Talaud) hanya isu yang tidak benar. Sampai saat ini perbatasan Indonesia-Filipina aman, meski jarak dari Miangas (pulau paling utara) ke perbatasan Filipina jaraknya tiga jam," kata Kabid Humas Polda Sulut Kombes Ibrahim Tompo, Jumat 9 Juni 2017.

Sejumlah tentara pemerintah mengambil posisi saat memerangi kelompok Maute di Kota Marawi, Filipina, (28/5). Sekitar 61 militan, 20 anggota pasukan keamanan dan 19 warga sipil terbunuh akibat pertempuran tersebut. (AP Photo/Bullit Marquez)

Dia menambahkan, kemungkinan isu tersebut muncul karena banyaknya aparat, baik Polri dan TNI, yang siaga di perbatasan. "Dalam waktu dekat, pasukan Polri yang disiagakan di perbatasan akan ditambah dengan pasukan Brimob dari Mabes Polri," kata Ibrahim.

Namun, jangan dikira kalau kehadiran ISIS di Indonesia sebagai isapan jempol. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bahkan menyebut di Indonesia ada belasan titik sel ISIS.

"Di Indonesia, ada 16 tempat ISIS. Sudah bergabung dengan kita," ujar Gatot di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis 15 Juni 2017.

Untuk itu, kata Gatot, TNI sudah bergerak cepat agar ISIS tidak menyebar ke seluruh Indonesia. Menurut dia, TNI sudah menutup pintu masuk pelarian ISIS ke Indonesia.

"Kalau kita tidak segera tutup pelarian ISIS yang ke Indonesia, maka akan berbahaya. Maka TNI sudah lakukan kegiatan-kegiatan mulai dari pulau-pulau yang paling dekat, Marore, Miangas," ucapnya.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan keterangan usai sertijab Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) di Jakarta, Selasa (14/3). Brigjen TNI (Mar) Suhartono resmi menggantikan Mayjen Bambang Suswantono (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Tak hanya itu, ucap Gatot, beberapa tempat pelarian seperti Tarakan Kalimantan Timur, Bitung lewat Marore, Miangas, Tahuna dan Kalawu juga sudah ditutup.

"Menuju ke Maluku Utara juga kita tutup dengan operasi udara, dengan militer, patroli udara dan laut, kapal selam pun ditaruh di sana dan di tiap-tiap pulau tadi diadakan penebaran," papar Gatot.

Gatot menyebut, saat ini sel-sel ISIS tengah "tertidur", tetapi TNI terus waspada.

"Sel-sel ini kan tidur. Selama ini dengan adanya bom, kan? Ada ISIS, kan? Sepakat kan, tidur, tinggal kapan bangunnya," kata dia.

"Bila ada kejadian dia (ISIS) akan bangun, ini yang sama-sama kita garap (tindak) di sini," pungkas Gatot.

 

 

1 dari 3 halaman

ISIS Berpotensi Masuk RI

Yang jelas, WNI yang bergabung dengan ISIS bukan rahasia lagi. Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut ada sekitar 1.200 militan ISIS di Filipina, 40 di antaranya berasal dari Indonesia. Hal itu diungkapkan dalam forum keamanan internasional di Singapura, 4 Juni 2017.

Bahkan, Ryamizard mengaku telah mengantongi data-data ISIS di Filipina. Namun, data itu tidak akan diungkapkan ke publik.

"Iya (ada 1.200 militan). Ada datanya semua dengan saya. Tapi enggak boleh disebutkan," ucap Ryamizard di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (12 Juni 2017.

Karena jumlahnya begitu besar, dia mengindikasikan potensi ISIS dari Filipina masuk ke Indonesia sangat besar. Menurut dia, ini sudah diprediksi jauh-jauh hari.

"Kan satu setengah tahun lalu saya ngomong. Omongan saya itu pasti dan bukan sembarangan. Kejadian, kan? Kejadian," tegas Ryamizard.

Karena itu, Ryamizard akan mengadakan pertemuan dengan para menteri pertahanan negara tetangga di Tarakan, Kalimantan Utara. Pertemuan membahas perkembangan ISIS di Asia Tenggara.

"Perkembangannya akan kita bahas 19 Juni kumpul Menhan Malaysia, Filipina, Indonesia, Singapura, dan dengan Brunei di Tarakan," kata Ryamizard di kantornya, Jakarta, Kamis 15 Juni 2017.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu saat tiba di KRI Raden Eddy Martadinata 331 di Kompleks Satuan I Koarmabar Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (7/4). (Liputan6.com)

Menurut dia, selain membicarakan soal perkembangan, juga menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa Indonesia telah siap menghadapi kelompok tersebut.

"Biar tahu, kalau ada apa-apa kita sudah siap," tegas Ryamizard.

Sementara itu, untuk memperlihatkan kalau Indonesia serius menanggapi ancaman ISIS serta memanasnya situasi politik dan keamanan terkait di Marawi, Filipina Selatan, rapat koordinasi terkait terorisme di Indonesia dan konflik Marawi Filipina digelar dan dipimpin langsung Menko Polhukam Wiranto.

"Kelompok Maute di Filipina merupakan kelompok jaringan ISIS. Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina, maka secara bersama-sama harus melakukan langkah koordinasi dalam membendung kemungkinan terobosan dari ISIS masuk Sulut," ujar Wiranto di Manado, Sulawesi Utara, Rabu 14 Juni 2017.

Rakor itu dihadiri Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey, Pangdam XIII Merdeka Mayjen TNI Ganip Warsito, Kapolda Sulut Irjen Pol Bambang Waskito, jajaran Forkompinda, serta seluruh bupati dan wali kota se-Sulut. Bahkan, Gubernur Gorontalo ikut hadir dalam rakor itu.

Presiden Joko Widodo didampingi Menkopolhukam Wiranto saat melakukan pertemuan dengan pimpinan MPR di Istana, Jakarta, Selasa (24/1). Dalam pertemuan itu presiden melakukan rapat konsultasi dengan MPR. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Wiranto menjelaskan, ancaman terorisme terhadap keamanan Indonesia mengalami perubahan. "Dulu ancamannya invasi dari negara lain. Namun, sekarang ancamannya terorisme dan radikalisme. Ini harus dihadapi bersama oleh semua negara," ujar dia.

Tak hanya menggelar rakor, Wiranto mengaku akan mengajak enam negara di sekitar Indonesia untuk duduk bersama dan membahas bahaya terkini gerakan ISIS.

"Nanti kita akan laksanakan koordinasi dengan lima negara lain, yaitu New Zealand, Australia, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Filipina. Bulan Juli akhir, Indonesia sebagai host, Australia sebagai co-host," kata Wiranto.

Dalam pertemuan itu, akan dilakukan koordinasi multilateral. Tujuan utamanya untuk mendukung dan membantu Filipina dalam menghancurkan basis ISIS di Marawi.

Selain itu, masing-masing negara saling memberi proteksi dan dukungan terhadap perlawanan gerakan ISIS, sehingga tidak ada satu pun basis ISIS di Asia Tenggara.

 

 

2 dari 3 halaman

Jaminan dan Antisipasi Pemerintah 

Dengan semua langkah antisipasi yang sudah diambil pemerintah serta jalinan kerja sama di antara negara bertetangga, Wiranto mengimbau masyarakat tak perlu khawatir.

"Enggak ada (masyarakat khawatir). Yang khawatir itu kita. Mereka biasa saja kehidupannya," ucap Wiranto di kantornya, Jakarta, Jumat (16/6/2017).

Mantan Panglima ABRI tersebut mengatakan, pemerintah daerah, kepolisian, dan TNI sudah mengantisipasi.

"Rupa-rupanya memang para pemerintah daerah, Kapolda, Pangdam, dan tokoh-tokoh masyarakat sudah alert masalah itu. Sudah mewaspadai," kata dia.

Menurut Wiranto, ada yang membuat posko bersama. Selain itu, dari bentuk peningkatan kewaspadaan TNI juga dilakukan.

"Mereka sudah membuat langkah-langkah posko bersama, kemudian TNI ada penambahan pasukan di pulau-pulau terluar. Kemudian TNI AL melaksanakan patroli maritim yang lebih tepat, dengan menempatkan kapal perang kita di daerah-daerah itu," dia memaparkan.

"Dengan pos-pos, masyarakat bisa melakukan early warning system, melaporkan secepatnya kepada aparat keamanan," Wiranto menegaskan.

Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Perbatasan mengantre naik KRI Teluk Ratai 509 di Dermaga Mako Kolinlamil, Jakarta, Rabu (27/1). 1300 prajurit diberangkatkan untuk menjaga perbatasan darat RI-Malaysia. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Karena hal itu, kata Wiranto, sekarang tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Semua pihak sudah mengantisipasi dengan baik.

"Jadi saya kira kita tidak perlu khawatir soal itu. Kita sudah melakukan langkah-langkah yang cukup luar biasa," tegas Wiranto.

Tak hanya dengan aparat keamanan serta militer, Wiranto mengatakan pihaknya juga telah berkoordinasi dengan sejumlah kepala daerah.

Terkait pernyataan itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo memaparkan, dalam keadaan darurat para pemangku jabatan di daerah bisa langsung bergerak.

"Kalau daerah darurat, yang pegang kendali adalah kepala daerah. Itu ada TNI dengan ketiga matranya, polisi, BIN, semua terpadu," ucap Tjahjo di Jakarta, Rabu 7 Juni 2017.

Dia menegaskan, dalam menjaga keamanan di perbatasan, kepala daerah tidak perlu lagi melapor ke pusat.

"Enggak perlu (melapor ke pusat), sudah langsung (mengambil tindakan)," jelas Tjahjo.

Sementara itu, Gubernur Maluku Said Assagaff menyatakan wilayahnya hingga saat ini masih aman dari penyusupan anggota ISIS.

Tentara Filipina mengarahkan senjatanya saat bertempur melawan militan maute di kota Marawi, (28/5). Pasukan Filipina melancarkan serangan udara pada hari Minggu untuk mengusir militan yang terkait dengan kelompok ISIS. (AP Photo/Bullit Marquez)

"Maluku sampai saat ini masih dalam kondisi aman. Namun, perlu adanya masukan dari berbagai instansi guna penanggulangan dan langkah-langkah apa yang diambil dalam menghadapi ancaman terorisme dan radikalisme," ujar Said.

Sementara itu, Kapolda Maluku Irjen Pol Deden Juhara menegaskan telah menyelidiki adanya indikasi oknum warga di Kabupaten Bursel yang diduga terlibat organisasi ISIS.

"Itu sedang dalam proses penyelidikan oleh Polres Buru, makanya kita akan memantau perkembangannya," kata dia.

Namun, dia mengakui sejauh ini belum ada laporan resmi terkait dugaan yang dimaksud. "Tetapi sudah ada langkah antisipasi, termasuk langkah penyelidikan yang sementara dilaksanakan Polres Buru," tandas Deden.

Dengan semua kesiapsiagaan itu, bolehkah kita menepis kekhawatiran yang ada, bahwa ISIS akan menjadikan RI sebagai wilayah perang terbaru mereka. Mereka yang berlabel ISIS itu harus paham, tak mudah untuk mengubrak-abrik bangsa ini. Apalagi dengan jualan berupa kekejaman serta paham yang jauh dari akar budaya bangsa ini.

 

 

Artikel Selanjutnya
Militer Suriah Hancurkan Blokade ISIS di Deir al-Zour
Artikel Selanjutnya
Sudah Terkepung, ISIS Segera Terusir dari 'Ibu Kota' Mereka