Sukses

Intaian Maut dan Tragedi Cinta di Prambanan

Liputan6.com, Yogyakarta - Lumut menempel di sela-sela relief yang terukir di Candi Siwa. Warnanya mencolok di antara bebatuan yang kehitam-hitaman. Tumbuhan liar itu membuat candi tak sedap dipandang. Dengan sigap, Slamet mulai menggosok bagian relief yang ditumbuhi lumut dengan sapu lidi.

Tangan Slamet bergerak maju dan mundur, dari kanan ke kiri. Kemudian mengulangi gayanya dari depan ke belakang. Sebagian lidi dari sapu yang dipakai Slamet patah atau terlepas. Rupanya dia terlalu kuat menggosok.

"Kalau musim hujan, ibaratnya satu tahun itu enggak habis-habis lumutnya," kata Slamet sambil bekerja kepada Liputan6.com di Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, akhir April 2017. Candi Siwa merupakan bangunan tertinggi di kompleks tersebut.

Pria kelahiran 1963 ini tak hanya membersihkan bagian bawah Candi Siwa. Ia juga membersihkan bagian tengah atau badan dan atap atau kepala candi. Ini dilakukan karena lumut tak hanya hadir di bagian bawah.

Jika hendak membersihkan bagian atas, Slamet harus naik hingga 47 meter. Saat membersihkan atap candi, pekerjaan berat menanti. Sebab, menaiki atap candi berbeda dengan memanjat atap rumah atau tebing.

"Kadang-kadang gini, bisa naik, enggak bisa turun. Susahnya itu kalau mau turun ndak bisa,” ucap Slamet. Bekerja di atas membutuhkan kehati-hatian. Jika abai, maut mengintai.

Pria kelahiran 1963 itu merupakan satu di antara 18 juru pemelihara Candi Prambanan. Tugas mereka merawat kebersihan dan keasrian salah satu candi Hindu tercantik di Indonesia itu. Mereka ada di bawah kendali Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jauh sebelum Slamet dan kawan-kawannya membersihkan Prambanan, cerita menyedihkan pernah menghampiri. Kepala Unit Candi Prambanan BPCB DI Yogyakarta, Manggar Sari Ayuati, bercerita, sebelum ditemukan C.A. Lons pada 1733, Candi Prambanan tidak semegah sekarang.

Menurut Manggar Sari Ayuati, dibangun Rakai Pikatan, penguasa Mataram Hindu, pada 850 Masehi dan diresmikan Rakai Kayuwangi pada 856, Prambanan nyaris hilang ketika sebagian bangunannya runtuh. Konon, runtuhnya candi disebabkan letusan Gunung Merapi. "Tapi kita tidak tahu secara pasti," kata Manggar.

Juru Pelestari Candi Prambanan membersihkan Candi Wahana (Liputan6.com/Balgoraszky A. Marbun)

Pada History of Java, Sir Thomas Stamford Raffles juga menyebut keberadaan candi ini. Raffles menulisnya sebagai Brambanan.

Raffles mengatakan kondisi candi sudah jauh lebih baik ketimbang saat dirinya mendapat laporan dari Colin MacKenzie, utusannya, pada 1807. Meski demikian, Raffles tak lantas memerintahkan pemugaran tempat pemujaan umat Hindu ini ketika berkuasa di Nusantara pada 1811-1816.

Kondisi ini berlangsung cukup lama. Ketidaktahuan masyarakat dan kurangnya informasi yang didapat pemerintah kolonial bahkan nyaris membuat candi ini lenyap. Lihat, banyak batu candi yang digunakan sebagai bantalan rel saat jalur kereta Yogyakarta-Solo dibangun.

Makin parah saat rezim kolonial Belanda mendirikan pabrik di sekitar Prambanan. Menurut Daud Aris Tanudirjo dalam Candi Prambanan: Perspektif Multidisiplin dan Multistakholder, pengelola pabrik dengan seenaknya memanfaatkan batuan yang sudah terpahat halus menjadi bagian saluran air atau fondasi.

Sebagian batu juga ada yang dijadikan bahan bangunan stasiun dan perumahan warga di sekitar. Ini terungkap saat gempa dahsyat mengguncang Yogyakarta pada 2006. "Jadi memang batu sudah tersebar ke mana-mana," ungkap Manggar.

Candi Prambanan di D.I. Yogyakarta (Liputan6.com/Balgoraszky A. Marbun)

1 dari 2 halaman

Legenda Asmara yang Kandas

Keberadaan Candi Prambanan juga kerap dilekatkan dengan legenda Raden Bandung Bondowoso yang memburu seorang gadis tinggi semampai. Gadis itu dikenal dengan nama Rara Jonggrang, putri Raja Boko nan rupawan.

Saat hendak dipinang Bandung, Raja Boko tak langsung setuju. Sang Raja memberi syarat kepada Bandung, yakni harus bisa mengalahkan dirinya dalam pertempuran.

Alkisah, Raja Boko tumbang dalam pertempuran. Bandung pun siap meminang sang gadis. Gadis itu rupanya tak ingin dipersunting. Namun, dia takut menolak pinangan lelaki yang telah membunuh ayahnya. Sebagai siasat, sang gadis pun meminta Bandung membangun 1.000 candi, lengkap dengan arca dalam satu malam.  Kerja mustahil dalam pikiran Rara Jonggrang.

Ternyata, Bandung menyanggupi dan nyaris tuntas menyelesaikan keinginan si gadis dengan bantuan jin. Tiba-tiba, jin berhamburan pergi sebelum janji 1.000 candi terlunasi. Sebab, langit di ufuk timur telah memerah dan terdengar ayam berkokok. Padahal, sebenarnya itu utusan Rara Jonggrang yang membakar jerami dan memukul alu.

Bandunggeram, merasa terperdaya. Lantas ia mengutuk Rara Jonggrang menjadi salah satu arca.

Cerita Rara Jonggrang konon muncul setelah Prambanan diresmikan pada 856. Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia, Agus Arismunandar menjelaskan kemunculan cerita ini diduga karena masyarakat setempat awalnya tak memahami keberadaan candi.

"Cerita itu dibangun untuk menjelaskan fenomena budaya yang tak lagi dipahami masyarakat," ucap Agus.

Legenda ini kerap dinisbatkan dengan arca Batari Durga Mahisasuramardini yang berada di bilik utara Candi Siwa. Batari Durga merupakan shaktinya Dewa Siwa, atau perwujudan lain dari Dewa Siwa ketika murka.

Tiga candi utama di Kompleks Candi Prambanan (Liputan6.com/Balgoraszky A. Marbun)

Lepas dari legenda ini, ada sisi lain dari Candi Prambanan yang tak banyak diketahui. Yaitu, soal perpindahan ibu kota Mataram Hindu pada abad ke-10, dari semula di Jawa bagian tengah dipindahkan ke bagian timur.

Menurut Agus, ada alasan kuat yang membikin tempat pemujaan ini akhirnya ditinggalkan. Alasan tersebut terkait masalah penyebaran dan keberadaan Hindu di tanah Jawa. Saat itu, Jawa bagian tengah sudah tak lagi menjadi tempat yang pas untuk penyebaran agama Hindu.

“Jawa bagian tengah, pada abad ke-10 itu, tak dianggap potensial sebagai tempat penyebaran agama,” jelas Agus.

Situasi ini membuat Prambanan kudu ditinggalkan. Jejak peninggalan ini kemudian baru kembali ditemukan Lons, tujuh abad setelah ditinggalkan pemuka agama Mataram Hindu.

Baru pada 1902, Candi Siwa dipugar. Pemugaran berlangsung cukup lama, terlebih ada Perang Dunia I yang menguras kocek rezim kolonial Hindia Belanda.

Setelah dipugar setengah abad, Si Cantik bisa berdiri utuh dan diresmikan Bung Karno pada 1953. Bangunan dari batuan andesit itu utuh menjulang. Sejak saat itu, nama Rara Jonggrang semakin melekat.

"Setelah lebih dari seribu tahun ditinggalkan pendirinya, kompleks percandian yang dikenal sebagai Candi Prambanan tetap memancarkan pesona luar biasa. Barangkali, itu pesona yang dimiliki Rara Jonggrang," demikian perumpamaan A.J. Bernet seperti dikutip Daud Aris Tanudirjo dalam Candi Prambanan: Perspektif Multidisiplin dan Multistakholder

 

Infografis Candi Prambanan (Liputan6.com/Abdillah)

64 tahun setelah pemugaran selesai, jemari Slamet masih rajin membersihkan kotoran atau tumbuhan liar di rumah Dewa Siwa itu. Gaji yang diterimanya terbilang tak besar: tak sampai Rp 5 juta per bulan. Meski begitu ia mengaku tetap ikhlas bekerja.

Pada usia yang tak lagi muda, Slamet mengaku senang dengan pekerjaannya. Ia merasa semua yang dilakukannya merupakan ikhtiar menjaga Prambanan. Bagi Slamet, candi ini merupakan warisan peradaban.

"Warisan ini perlu kita jaga dan lestarikan," ucap Slamet sembari tersenyum.