by

Layang-layang Melukis Langit

  • Program Khusus
  • 0
  • 29 Sep 2010 20:43
Liputan6.com, Denpasar: Layang-layang, permainan sederhana yang tak menjerat batas usia, buah dari imajinasi kreatif. Permainan tua karena diperkirakan sudah ada sejak ribuan tahun silam. Ada beberapa versi jejak sejarah layang-layang.

Abad ke-5 SM, Archytas, ilmuwan Yunani ini dipercaya sebagai orang pertama yang menemukan layangan. Kendati demikian, catatan paling populer menyebut Cina sebagai negeri asal layang-layang. Tepatnya ketika rezim Dinasti Han berkuasa, sekitar 3.000 SM. Tak cuma sebagai permainan, pada 1749 ilmuwan Skotlandia yang bernama Alexander Wilson dan Thomas Mellvile menggantungkan termometer di ujung layang-layang untuk mengukur suhu awan.

Tiga tahun kemudian, Benjamin Franklin, salah satu Bapak Bangsa Amerika Serikat menggunakan kunci besi dan tali layang-layang untuk mendemonstrasikan aliran listrik dalam badai. Ada juga Douglas Archibald yang mengukur kecepatan angin dengan mencantelkan meteran pada benang layang-layang.

Gua Liang Kabori yang terletak di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, menjadi bukti bahwa sejarah layang-layang di Tanah Air sudah begitu tua. Bukti itu diperkuat dengan bertebarannya relief di dinding gua yang menggambarkan orang yang sedang menerbangkan layang-layang.

Jejak di Muna memecah polemik tentang asal muasal permainan layang-layang di dunia. Sejumlah versi menyebut layang-layang berasal dari Yunani atau Cina. Namun bukti arkeologis juga menguatkan bahwa Indonesia mempunyai jejak muasal layang-layang.

Masih soal layang-layang di Tanah Air, sebagian besar masyarakat Bali percaya mitos jika Bumi dipangku seekor kura-kura raksasa bernama Benawang Nala serta sekor Naga Besuki yang bertugas mengelilingi planet yang kita diami. Janggan atau layang-layang Bali adalah perwujudan Naga Besuki yang menjaga Bumi agar tetap stabil.

Ada tiga jenis layang-layang tradisi Bali. Pertama bernama Bebean, layangan yang mengambil bentuk ikan. Kedua, ada Janggan, yang bentuknya menyerupai burung. Terakhir, ada yang disebut Pecukan, layang-layang yang bentuknya sebagian dari aksara suci Ong Kara, simbol dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Untuk menerbangkan layang-layang besar, areal luas saja tidak cukup. Angin menjadi faktor penting untuk mengangkat layangan ke langit. Angin di bawah 20 knot justru akan membuat layangan besar susah naik atau bahkan malah terjungkal.

Layang-layang sering juga menjadi perlombaan, dan pantai menjadi tempat paling layak untuk kegiatan tersebut lantaran kecepatan angin di pantai bisa mencapai 50 knot lebih. Jika kecepatan anginnya berkisar di angkat itu, layangan tentunya dapat menari-nari di langit.

Kendati, angin yang kuat belum tentu membawa hasil yang baik. Kegagalan membuat kerangka atau talikama yang menghubungkan layang-layang dan tali justru bisa berakibat fatal. Komposisi warna dan keseimbangan juga menjadi faktor penentu. Bagi pelayang, tak ada yang membahagiakan selain menyaksikan layangan kreasi mereka yang sulit dibuat, terbang indah di langit.(ASW/AYB)
Comments
Sign in to post a comment