Sukses

Demian: Saya Cinta Indonesia, tapi Sulap Saya Tidak Dihargai

Liputan6.com, Jakarta - Demian Aditya menjadi sosok yang ramai diperbincangkan beberapa waktu belakangan. Suami Sara Wijayanto ini baru saja beraksi di ajang pencarian bakat America’s Got Talent pada April lalu.

Aksi Demian sempat membuat Simon Cowell, juri di ajang tersebut, kagum. Itu menjadi momen mengharukan bagi lelaki bernama lengkap Aditya Prambudhi tersebut. Sebab, Cowell dikenal sebagai juri yang punya standar tinggi untuk memberikan penilaian.

“Begitu dia berdiri, tepuk tangan, saya langsung (berpikir) ini beneran, dia sampai berdiri,” ucap Damian.

Bagi Demian, apresiasi yang dihadirkan penonton America’s Got Talent membuat dirinya tersanjung. Maklum, menurut dia, apresiasi merupakan barang mahal untuk seni pertunjukan di Indonesia.

Cerita soal apresiasi ini menjadi salah satu kisah yang diutarakan Demian saat berkunjung ke Liputan6.com, Senin, 5 Juni 2017. Demian berkunjung bersama Sara Wijayanto. Saat berkunjung, Demian berdandan seperti dalam foto yang diunggahnya ke Instagram.

1 dari 5 halaman

Tampil di America's Got Talent

Bagaimana Anda bisa tampil di America’s Got Talent?

Pada Januari 2016, saya mendapat email yang tulisannya America’s Got Talent. Pas saya buka, ada seseorang dari tim America's Got Talent menawarkan perform. Saya sempat mendiamkan. Tiga minggu kemudian, dia email lagi. Dia nanya, "Lu nerima enggak email dari saya, kita nanya mau ikut atau tidak."

Saya crosscheck, email-nya saya copy. Saya cari di Facebook dengan email yang ada. Ternyata benar nama dan fotonya (pengirimnya) kerja di America’s Got Talent. Lalu saya screenshot email-nya, saya kirim ke official dari America's Got Talent. Saya bilang, “Ada seseorang mengirimkan email ini. Apakah ini benar atau penipuan?”

Sehari kemudian, saya dikirimi email balasan. Mereka bilang, “Dia (pengirim email) salah satu produser dari kami.” Jadi beneran ini serius. Semenjak itu saya kontak terus, kami berhubungan lewat Skype. 

Apa yang mereka mau?

Mereka mau saya main yang saya dicor 53 jam. Cuma saya bilang, enggak bisa karena buat bikin semen kering itu 24 jam. Sedangkan saya dikasih waktu cuma 3 menit dan saya bilang tidak bisa. Selama pembicaraan muncul permainan yang saya bikin itu kemarin. Itu permainan orisinal buatan saya sendiri dan belum pernah dimainkan oleh siapa pun di dunia.

Demian Aditya. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Setelah Anda tampil, apa yang terjadi?

Buat saya itu sudah kayak mimpi.

Kok bisa?

Kita semua tahu kalau Simon Cowell itu juri yang paling susah dibuat terkejut, terpukau. Dia benar-benar juri yang keras dan susah banget. Tapi saat saya keluar dan buka topi, dia berdiri tepuk tangan.

Anda kaget mendapat standing applause?

Saya tidak percaya. Ternyata apresiasinya luar biasa sekali. Di Indonesia, kita tidak mengenal kata standing applause. Melihat satu stadion berdiri itu bikin merinding. Saya tidak bisa berkata-kata.

2 dari 5 halaman

Sulap di Indonesia

Memang bagaimana di Indonesia?

Sebenarnya, sulap dari 2009 sampai 2011 itu lumayan tinggi apresiasinya. Terasa banget. Tapi semenjak 2012 ke atas, entah kenapa semuanya serba berubah.

Berubah bagaimana?

Saya ambil contoh. Semenjak 2012 sampai sekarang saya main di TV, saya sudah kena empat sampai lima teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena permainan saya dianggap terlalu berbahaya, klenik, terlalu ekstrem. Terus lagi acara live permainan saya disetop di tengah jalan.

Imbasnya apa buat Anda?

Jadi saya mesti melakukan apa lagi? Giliran main yang biasa, orang langsung mencap "Ya mainannya biasa-biasa aja." Akhirnya kan TV enggak dapat rating, enggak ada yang mau pakai lagi. Giliran main yang ekstrem, kena teguran.

Anda bingung?

Saya mikir terus saya mesti bagaimana. Sebenarnya sulap itu sama dengan seni yang lain. Contohnya kita berbicara film. Kalau di sulap ekstrem, di film juga ada. Die Hard kurang serem apa? Kurang ekstrem apa? Sebut peraturan yang ada di KPI, ada semua di sana. Tapi kenapa itu bisa sampai tayang dan dibolehkan, kenapa sulap tidak? Kami sama-sama menghibur.

Demian Aditya. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Harusnya bagaimana?

Saya tidak menyalahkan KPI yang bikin aturan, karena memang aturannya benar. Tapi seharusnya bisa bikin pengecualian untuk sulap. Karena sulap itu hiburan, bukan kayak orang tawuran. Saya harus bagaimana lagi? Di Indonesia mau berkarya dibatasi. Ketika berkarya sesuatu dibilang bohong, tipuan, itu yang saya alami.

Sulap itu tidak menjanjikan?

Kalau bicara seperti itu saya sendiri tidak setuju. Karena sampai 2012 sulap masih profesi menjanjikan. Kalau dibilang profesi menjanjikan ya menjanjikan, tapi tempatnya yang jadi permasalahan.

Maksudnya soal tempat?

Pesulap luar sana ada lo yang setiap hari show di Las Vegas seminggu tiga kali, seminggu tujuh kali, seperti Criss Angel. David Copperfield pun sudah tua, sudah lebih 50 tahun, tapi masih punya show sampai sekarang. Di Indonesia bisa kalau pesulapnya kuat.

3 dari 5 halaman

Dihargai di Luar Negeri

Artinya pesulap di luar negeri sangat dihargai?

Yang saya mau kayak gini sulap seharusnya. Pada saat saya main, penonton begini seharusnya. Jadi apresiasinya adalah apresiasi yang saya inginkan selama ini. Jadi luar biasa banget mereka benar-benar nanggepin apa yang saya mainkan kemarin.

Kalau kayak begini, Anda ingin pindah jadi warga negara asing?

Kalau pindah kewarganegaraan, sampai kapan pun saya orang Indonesia. Sampai kapan pun saya cinta Indonesia. Kalau misal ditanya mau enggak tinggal di Amerika? Saya tidak mikir panjang lagi. Karena saya di sana merasa benar-benar dihargai. Bukan tidak cinta Indonesia. "Lu mau di Indonesia tapi karya tidak dihargai, tapi lu mau enggak kerja di Las Vegas? Gua hargai karya lu, lu akan pilih mana?" Sesimpel itu kok.

Selain pembatasan, masih ada hambatan?

Hambatan lain sebenarnya banyak. Cuma tidak bisa saya ceritakan semua. Contohnya saat perform, sulap itu tinggal dijentikin jari, semua bisa. Misalnya, ada request dari klien, bisa enggak Demian menghilangkan Monas? Saya bilang bisa. Begitu saya deskripsikan persiapannya, nilainya sekian ratus juta rupiah. Komentarnya, wow mahal banget sulap.

Demian Aditya. (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Mohon dihargai juga saat saya bikin suatu karya, itu memang ada kerja kerasnya. Seni sulap dengan seni-seni lain sangat bertolak belakang. Kalau kita bicara soal penyanyi, dia mati-matian latihan nyanyi supaya dilihat orang, sedangkan pesulap latihan mati-matian supaya tidak kelihatan orang.

Kenapa dulu suka sulap?

Saya terinspirasi David Copperfield. Waktu kelas 6 SD, setiap hari Minggu, jam 7 malam ada acara David Copperfield. Saya merasa David Copperfield itu adalah superhero yang nyata.

Dari situ Anda mulai belajar?

Dari situ saya belajar trik pertama menghilangkan koin dan itu saya pakai sampai SMP. Trik yang sama saya pakai sampai SMP dan baru benar-benar mulai lagi belajar permainan baru itu kalau tidak salah ketika saya masuk mulai kuliah.

Aliran apa yang Anda pilih?

Ilusionis. Karena memang David Copperfield ilusionis.

Kenapa memilih aliran itu?

Enggak tahu kenapa, mungkin kalau bisa dilihat yang paling jago dari semua aliran. Maksudnya begini, ilusionis itu sebenarnya yang dilakukan itu grand. Contohnya menghilangkan mobil, menerbangkan orang. Kita harus berbicara tentang namanya universal language. Saat saya bermain saya tidak perlu ngomong bahasa lain, anggaplah saya di Nigeria. Saya tidak bisa bahasa Nigeria, tapi saya bisa perform buat mereka dan mereka mengerti.

 

4 dari 5 halaman

Obsesi Masa Depan

Masih punya obsesi?

Selalu.

Apa obsesinya?

Saya ingin punya show sendiri. Dalam arti show tunggal di mana orang datang beli tiket untuk menonton pertunjukan saya. Kenapa saya ingin orang datang beli tiket, karena saat dia beli dia mau dan well menikmati. Kalau misalnya gratis belum tentu orang itu menikmati.

Selain obsesi pribadi pasti ada obsesi permainan. Kira-kira, permainan yang paling hebat apa yang ingin Anda mainkan?

Ada satu mimpi saya tapi belum terwujud. Saya ingin dibekukan hidup-hidup. Itu mimpi saya, cuma belum terkabul karena belum dapat surat izin dari istri. Kalau kemarin kan saya dicor, kalau ini dibekukan hidup-hidup. Istilahnya kayak lalat dimasukkan ke freezer.

Saya mau kayak gitu bertahan dengan semampu saya dan itu sampai detik ini masih dalam tahap penelitian. Ini jauh lebih berbahaya karena berhubungan dengan kematian. Bisa brainfreeze, bisa frostbite. Banyak hal lain tantangannya lebih ke tubuh manusia.

Kapan rencananya?

Mudah-mudahan tahun depan, kalau dikasih izin. Seharusnya tahun lalu, tapi enggak diizinkan.

 

Artikel Selanjutnya
Baby and Daddy: Reza dan Putri Rea yang Gemar Menari
Artikel Selanjutnya
Sheila Marcia Ajak Anak Menetap di Bali, Anji Curhat di Medsos