Sukses

Kelebihan Kapasitas Lapas Tak Perlu Terjadi

Liputan6.com, Jakarta Kelebihan kapasitas (over capacity) Lapas sebetulnya tidak perlu terjadi. Pasalnya, sejak tahun 2011 hingga tahun 2017 pertumbuhan Lapas sudah cukup baik. Pertanyaannya, apakah kelebihan kapasitas Lapas itu sumbernya dari luar. Apakah kepolisian dan BNN melakukan penanganan dengan baik, bukan penangkapan.

"Penangkapan itulah yang membuat over kapasitas. Sedangkan pencegahannya bagus atau tidak," kata Ketua Tim Kunker Komisi III DPR Desmond J.Mahesa, usai meninjau Lapas Kelas II Mataram, NTB Selasa (2/5/2017).

Persoalan kelebihan kapasitas terjadi di seluruh Indonesia tak terkecuali di NTB yang kapasitàanya 250 orang. Namun, dihuni 800 orang lebih.

Menurut Desmond, itulah masalahnya bahwa kelebihan kapasitas karena penangkapannya lebih banyak dibanding pencegahannya. "Ini yang akan kita evaluasi terhadap kinerja BNN. Kalau ada narkoba beredar di dalam Lapas, masalahnya di luar atau di dalam, kan, di luar. Berarti badan ini enggak beres.  Jangan Lapas yang disalahkan," tandasnya.

Politisi Partai Gerindra ini mengatakan, kunker ke NTB ini untuk evaluasi hal-hal sederhana. Dari laporan yang diterima Lapas se-Nusa Tenggara dari aspek penangkapan, kasus narkoba berjalan baik. Berarti gagal di bidang pencegahan. "Jangan ngaku berhasil tangkap orang, Itu berarti gagal dalam pencegahan," katanya lagi.

Ditekankan lagi bahwa kalau di luarnya beres, maka tidak ada narkoba di Lapas.

"Tidak mungkin ada peredaran narkoba dalam lapas kalau di luarnya beres," tekan dia. Kunjungan ke Lapas ini termasuk Lapas wanita, Tim Komisi III menerima masukan, salah satunya HP yang di dalamnya ada dokumen penting yang dihilangkan oleh petugas. Masalah ini akan ditindaklanjuti termasuk memanggil pengacara wanita terpidana kasus pembunuhan. Di Lapas wanita ini ada dua bayi yang ibunya terjerat kasus narkoba.

Dalam kunker kali ini ikut serta anggota-anggota Komisi III Ichsan Soelistio dan Eddy Kusuma Wijaya dari FPDIP, Adies Kadir dan Ahmad Zacky Siradj (FPG), Wihadi Wiyanto dan Didik Mukrianto (FPD),  M.Toha dan Rohani Vanath (F PKB), Arsul Sani dari FPP, Akbar Faisal dari Nasdem, dan Dossy Iskandar Prasetyo (Hanura).

(*)

Artikel Selanjutnya
Napi Teroris Risiko Tinggi di Lapas Batu Nusakambangan Pindah Sel
Artikel Selanjutnya
Begini Cara Instalasi Audio Mobil yang Aman