Sukses

Jejak WNI di Konflik Marawi

Liputan6.com, Jakarta - Kekerasan pecah di Marawi, Filipina, saat puluhan anggota kelompok militan menyerbu kota itu, setelah aparat keamanan berusaha menangkap Isnilon Hapilon, seorang veteran militan Filipina yang diyakini sebagai pemimpin ISIS di kawasan itu.

Segera setelahnya, bendera hitam ISIS berkibar dan kelompok militan dilaporkan menculik seorang pendeta dan 14 jemaat gereja. Mereka juga membakar sejumlah bangunan.

Dari total 85 korban tewas, terdapat 51 anggota kelompok militan dan 13 tentara. Sementara itu, sebagian besar penduduk Marawi memutuskan mengungsi.

"Penolakan mereka untuk menyerah membuat kota tersandera. Oleh karena itu, semakin penting untuk menggunakan lebih banyak serangan udara demi membersihkan kota dan mengakhiri pemberontakan ini," terang juru bicara militer Filipina Brigadir Jenderal Restituto Padilla.

Presiden Duterte dan pimpinan militer mengatakan, sebagian besar militan berasal dari kelompok Maute yang diperkirakan memiliki sekitar 260 pengikut. Maute telah berikrar setia kepada ISIS.

Duterte menambahkan, penjahat lokal juga turut mendukung kelompok Maute di Marawi.

Konflik di Marawi mengundang perhatian pemerintah Indonesia. Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) dikabarkan terjebak di wilayah tersebut.

Mereka terjebak di pertempuran antara pemerintah setempat dengan kelompok pemberontak. Satu orang dikabarkan tewas, tapi hal itu belum dikonfirmasi pihak berwenang.

Seorang pria memperlihatkan kain putih saat perjalanan warga Marawi yang mengungsi ke tempat yang lebih aman karena kota mereka, Marawi sedang situasi darurat perang, Filipina, Senin (29/5). (AP Photo / Bullit Marquez)

Kepala Subbagian Humas Direktorat Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Agung Sampurno, menjelaskan hasil pencatatan lalu lintas keimigrasian. Ia membenarkan ada 10 WNI yang menyeberang ke Filipina.

"Sembilan orang dari Indonesia tercatat pada 11 Mei terbang ke Filipina dengan rute penerbangan Jakarta-Malaysia, Malaysia-Manila, Manila-Dapau City," kata Agung saat berbincang dengan Liputan6.com, Senin 29 Mei 2017.

Sementara seorang lain tercatat terbang ke Filipina pada 14 Mei 2017. Rute penerbangan yang dilalui adalah Jakarta-Singapura, Singapura-Dapau.

"Setibanya di Dapau mereka dijemput oleh seorang WNI yang sudah menetap di Marawi," beber Agung.

Untuk menuju ke Marawi, mereka melalui jalan darat. Tiba di lokasi tujuan, mereka tinggal di Masjid Abu Bakar Assidiq.

"Kenapa di masjid? Karena tujuan mereka adalah untuk berdakwah," kata Agung.

Sepuluh orang ini berasal dari Jamaah Tabligh yang bermarkas di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

"Ada surat jalannya. Mereka dalam rangka khuruj untuk dakwah 40 hari. Begitu tiba di Marawi, mereka melapor ke polisi, kepala desa setempat. Jadi tidak dicurigai sebagai kelompok pemberontak. Semuanya legal," beber Agung.

Kepulan asap terlihat menyusul serangan udara oleh Angkatan Udara Filipina ke kawasan yang telah di kuasai militan Maute di kota Marawi , Filipina selatan Sabtu, (27/5). (AP Photo / Bullit Marquez)

Pertempuran pun pecah saat mereka dalam misi dakwah. Mereka lalu diselamatkan oleh masyarakat sekitar.

"Saat ini mereka sudah aman di bawah perlindungan polisi dan tentara di sana, tidak ada yang meninggal," kata Agung.

Marawi adalah wilayah di utara Mindanao. Wilayah ini berpenduduk mayoritas muslim. Daerah ini juga selalu menjadi tujuan dakwah. Tidak sedikit juga orang Indonesia yang menetap setelah kawin campur di Marawi.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menyatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Polri dan Kementerian Luar Negeri terkait informasi WNI di Marawi. Ia berharap pemerintah bisa dengan segera mengambil tindakan.

"Polri sudah mengantisipasinya. Ada beberapa orang yang ditengarai juga WNI," ucap Yasonna.

1 dari 4 halaman

Upaya Polri

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengungkapkan pihaknya masih terus mengupayakan kepulangan WNI di Marawi. Komunikasi kepada mereka pun masih terus berjalan.

"Sedang diupayakan untuk kembali ke Indonesia. Sementara mereka masih kontak terus dengan atase teknis Polri di Davao," kata Setyo Wasisto di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Minggu 28 Mei 2017.

Setyo mengaku pihaknya belum bisa memastikan, apakah 10 WNI itu tergabung dalam kelompok ISIS di Marawi. Yang pasti, kata dia, mereka berangkat ke Marawi dengan jalur resmi atau legal.

Selain itu, Polri juga masih mendalami informasi terkait tewasnya satu warga negara Indonesia di Marawi.

"Informasi ada satu korban yang diidentifikasi sebagai warga negara Indonesia," kata Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta, Senin 29 Mei 2017.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Setyo Wasisto (kanan) memberikan keterangan pers terkait ledakan yang terjadi di Kampung Melayu, Jakarta, Kamis (25/5). (Liputan6.com/Ferry Pradolo)

Otoritas perwakilan Indonesia di Filipina saat ini belum bisa menjangkau Marawi. "Masih perlu pendalaman lagi karena situasi masih tidak menentu di Marawi," kata Setyo.

"Tentang kebenaran apakah yang bersangkutan warga negara Indonesia atau bukan, kami masih memerlukan waktu untuk mengecek kembali," Setyo menambahkan.

Selain upaya penyelamatan WNI, Polri memastikan akan memperketat wilayah yang berbatasan dengan Filipina.

"Pasti ya. Pemerintah sudah mengantisipasi baik ditingkat daerah maupun pusat," kata Setyo Wasisto.

Menurut Setyo, jarak antara Marawi dengan Indonesia cukup dekat. Apalagi ada beberapa pulau milik Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Oleh karena itu, Setyo berpendapat pengetatan di wilayah perbatasan penting dilakukan guna mencegah adanya kelompok teror masuk ke Indonesia.

"Ini memerlukan kepedulian kita semuanya agar jangan sampai ada yang masuk ke wilayah kita untuk melakukan aktivitas," terang Setyo.

2 dari 4 halaman

Untuk Berdakwah

Ada belasan warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal Marawi. Kota tersebut merupakan pusat pertempuran milisi Maute melawan militer Filipina.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanantha Nasir menyebut, belasan orang tersebut berasal dari latar belakang berbeda. Sebagian besar datang untuk berdakwah di Marawi.

"Di Marawi City saat ini ada 10 WNI Jamaah Tabligh (JT) asal Bandung dan Jakarta yang sedang melakukan Khuruj, meninggalkan rumah untuk ibadah dan dakwah di masjid selama 40 hari," ucap pria yang kerap di sapa Tata tersebut saat dihubungi oleh Liputan6.com, Senin 29 Mei 2017.

Juru bicara Kemenlu, Arrmanatha Nasir (tengah) saat memberikan pernyataan di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (19/1/2015). Pernyataan diberikan terkait sikap pemerintah Indonesia terkait penarikan Dubes Brasil dan Belanda. (Liputan6.com/Miftahul Hayat)

Sementara seorang lagi merupakan WNI yang menetap di sana. Ia berada di Marawi karena berkeluarga dengan penduduk lokal.

"Satu orang Indonesia lainnya adalah WNI yang menikah dengan orang setempat dan sudah lama tinggal di Marawi. Yang bersangkutan selama ini menjalin kontak dengan KJRI Davao," tambah dia.

Terkait apakah ada keterikatan para WNI dengan kelompok Maute, Tata mengatakan, pihak perwakilan Indonesia di Filipina belum mendapat laporan seperti itu.

"Sejauh ini belum ada informasi mengenai keterkaitan mereka dengan kelompok Maute atau ISIS atau kelompok teroris lain yang berhubungan dengan konflik bersenjata di Marawi tanggal 23-24 Mei 2017," paparnya.

"Saat ini kesepuluh WNI anggota JT dalam keadaan baik dan aman," tambah Tata.

Ia pun memastikan, keamanan seluruh WNI di Marawi dipantau perwakilan Indonesia di Filipina khususnya KJRI Davao. Komunikasi dengan aparat keamanan setempat terus diintensifkan.

"KJRI terus menjalin komunikasi dengan Kepolisian Provinsi Lanao del Sur di Marawi City untuk memberikan perlindungan bagi mereka," kata dia.

 

3 dari 4 halaman

Imbauan Menko Polhukam

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menegaskan pihaknya mendukung langkah pemerintah Filipina menggempur militan ISIS di Marawi.

Dia menyatakan tidak perlu khawatir terhadap anggota ISIS yang lari dari kejaran Filipina dan mencoba masuk ke Indonesia.

"Larinya mereka dalam gempuran itu tentunya ada yang iya ada yang melarikan diri ke wilayah Indonesia. Jadi kita sudah waspadai mereka itu dan jangan terlalu khawatir masalah itu," tutur Wiranto di Kantor DPP Partai Nasdem, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu 28 Mei 2017.

Menko Polhukam Wiranto (Liputan6.com/Switzy Sabandar)

Menurut Wiranto, dia sudah berkoordinasi dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam upaya memperketat perbatasan daerah Indonesia dengan Filipina. Termasuk juga memperbanyak intensitas patroli pasukan di sepanjang daerah batas wilayah dua negara.

"Kita juga sudah memiliki komitmen dengan Pemerintah Filipina untuk masalah kerja sama dalam rangka patroli maritim dan memperkuat patroli-patroli di wilayah perbatasan. Itu untuk menjaga jangan sampai ada kelolosan dari daerah Filipina ke Indonesia," jelas Wiranto.

Sementara, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menambahkan, penjagaan dilakukan baik di jalur darat maupun laut dekat perbatasan Filipina. Jika kedapatan penyusup, maka pihaknya langsung berkoordinasi dengan pihak kepolisian.

"TNI dengan Kepolisian (kerja sama). TNI melakukan patroli sepanjang mulai Maluku Utara sampai Sulawesi, patroli laut. Kemudian daratnya sama dengan kepolisian sepanjang pantai itu supaya nggak ada penyusupan," ujar Gatot.

Artikel Selanjutnya
Gelombang Pengungsi Rohingya Terus Mengalir ke Bangladesh
Artikel Selanjutnya
6.000 Pengungsi Rohingya Dihalau dari Perbatasan Bangladesh