Sukses

Menyisir Jejak Komplotan Bomber Kampung Melayu

Liputan6.com, Jakarta - Orang-orang berlarian menyelamatkan diri ketika bom Kampung Melayu, Jakarta Timur meledak. Sebagian berteriak ketakutan. Tak lama kemudian, tak jauh dari lokasi teror pertama, bom kedua meledak.

Teror bom Kampung Melayu pada Rabu 24 Mei 2017 malam mengentak Tanah Air.

Lima orang tewas dan beberapa orang terluka. Tak lama kemudian, polisi memastikan dua orang yang tewas merupakan pelaku bom bunuh diri tersebut.

Kepolisian masih memastikan identitas kedua terduga tersebut melalui uji sampel DNA.

Dua inisial tersebut salah satunya adalah INS, warga Gang Warta, Jalan Cibangkong, Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung. INS diperkirakan memiliki keterkaitan dengan orang yang terlibat dengan insiden bom panci di Lapangan Pendawa, Kota Bandung, Jawa Barat bernama Agus.

Sementara pelaku lainnya berinisial AS, merupakan warga Kampung Ciranji, RT 04/05, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat.

Tiga orang lainnya yang meninggal dunia merupakan polisi yang tengah berjaga di Terminal Kampung Melayu. Mereka yang gugur itu adalah Britu Anumerta Ridho Setiawan, Briptu Anumerta Taufan Tsunami, dan Briptu Imam Gilang Adinata. Ketiganya gugur terkena ledakan bom di tengah pengamanan pawai obor.

Gerak cepat, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menyisir jejak jaringan dari teroris ini.

Densus 88 menangkap 3 terduga teroris di tiga tempat berbeda di Kota Bandung dan Bandung Barat (Liputan6.com/Aditya)

Densus 88 dibantu Polda Jawa Barat lalu menangkap tiga terduga teroris di tempat terpisah. Ketiga terduga tersebut ditangkap pada Jumat 26 Mei 2017 dini hari.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Yusri Yunus mengatakan, mereka yang ditangkap berinisial A, WS, dan J.

A ditangkap di Jalan Mohammad Toha, Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung. Sementara WS ditangkap di Jalan Rancasawo, Rancasari, Kota Bandung, dan J ditangkap di kawasan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

"Dari hasil pengembangan, kami telah mengamankan tiga pelaku berkaitan dengan tindak terorisme bom Kampung Melayu," ucap Yusri di lokasi penggeledahan Jalan Rancasari, Kota Bandung, Jumat 26 Mei 2017.

Anggota kepolisian melintas dekat karangan bunga di dekat lokasi ledakan bom, Terminal Kampung Melayu, Kamis (25/5). Karangan bunga itu tanda duka cita pihak kepolisian terhadap tiga polisi yang gugur dan para korban luka. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Densus pun memeriksa ketiganya secara intensif. Polisi masih mendalami peran mereka dalam peristiwa bom Kampung Melayu yang menewaskan tiga polisi tersebut.

Guna mencari barang bukti, penyidik Densus 88 kemudian menggeledah kediaman WS di Jalan Rancasawo, Kota Bandung.

Menurut dia, penyidik masih mendalami keterkaitan ketiga terduga bom Kampung Melayu dengan tersangka teror di Taman Pandawa, Kelurahan Arjuna, Cicendo, Bandung.

"Tetapi kemungkinan mengarah ke pelaku yang di Cicendo (bom Taman Pendawa). Tapi harus dipastikan lagi," kata Yusri.

Densus 88 Antiteror juga mengendus keberadaan anggota jaringan teroris Kampung Melayu di Garut. Densus pun menangkap seorang lagi yang diduga rekan bomber bunuh diri Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Pria berinisial H itu dibekuk di Kampung Paledang, RT 01, RW 13 kelurahan Suci Kaler, Kecamatan Karang Pawitan, Garut, Jawa Barat.

"Tadi saya juga kaget, tapi enggak boleh masuk, Sekarang sudah dibawa petugas (densus)," ujar Agus Sopandi, orangtua H, saat ditemui di rumahnya Jumat 26 Mei 2017.

Adik ipar bomber Kampung Melayu di Garut, diamankan Densus 88 Antiteror, Jumat (26/5/2017). (Liputan6.com/Jayadi Supriadin)

Menurut dia, proses penangkapan anaknya dilakukan secara mendadak tanpa pemberitahuan, termasuk dari ketua RT dan RW setempat.

"Totalnya (anggota Densus) saya juga tidak tahu," kata dia dengan raut muka yang masih menunjukkan kekagetan atas penangkapan anaknya.

Agus menambahkan, selain H anggota keluarga lainnya yang ikut digiring antara lain I, yang merupakan istri H dan anaknya yang masih berusia dua bulan. Keterangan H dibutuhkan petugas dalam kaitannya sebagai adik ipar dari Ahmad Sukri, seorang terduga pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu Jakarta Timur.

Dia menyatakan, hingga kini belum mengetahui alasan penangkapan anaknya yang bekerja sebagai tukang jahit di rumah itu.

Salah satu anggota Koramil 1102 Karangpawitan, Garut, Iwan Ridwan menambahkan, berdasarkan laporan pemberitahuan yang masuk melalui Muspika Kecamatan Karangpawitan, H ditangkap sekitar pukul 08.00 WIB.

"Setelah itu kami koordinasi dengan ketua RT untuk memastikan lokasi rumahnya," kata dia.

Dalam penangkapan tadi, selain H dan I serta anaknya yang masih bayi, diamankan pula beberapa berkas dan dokumen. "Soal isinya saya belum tahu karena sudah diamankan polisi," ucap Iwan.

1 dari 3 halaman

Klaim ISIS

ISIS mengklaim bertanggung jawab atas teror bom bunuh diri di Kampung Melayu yang terjadi pada Rabu 24 Mei 2017 lalu. Teror nahas itu menewaskan 5 orang, termasuk 2 terduga pelaku, dan menimbulkan korban luka sebanyak 12 orang.

Klaim itu dinyatakan oleh sebuah media ISIS, Amaq News Agency, seperti dilaporkan oleh SITE Inteliigence Group --firma analis dan intelijen privat berbasis di Maryland, Amerika Serikat-- dan diwartakan Turkish Radio and Television World (TRTWorld.com), Jumat 26 Mei 2017.

"Agensi berita Amaq ISIS melaporkan bahwa serangan anggota kepolisian pada 24 Mei 2017 di Jakarta Indonesia dilakukan oleh 'salah satu pejuang ISIS'," tulis Amaq yang dimuat dalam laman situs SITE Inteliigence Group, news.siteintelgroup.com, Jumat 26 Mei 2017.

Ilustrasi ISIS (Liputan6.com/Abdillah)

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto juga menyebut, bom Kampung Melayu mirip dengan aksi teror di negara lain. Dia pun mengutuk aksi bom bunuh diri tersebut.

"Aksi bom di Manchester Inggris dan di Kampung Melayu walaupun pelakunya berbeda, namun memiliki kesamaan karakter," kata Wiranto, Jakarta, Kamis 25 Mei 2017.

Wiranto menyebut, ada ada dua hal yang membuat bom Kampung Melayu dengan negara lain punya kesamaan.

"Pertama untuk menunjukkan eksistensi mereka, dan kedua untuk membuat korban sebesar-besarnya," kata Wiranto.

Menkopolhukam Wiranto bersiap memberi keterangan terkait isu pro dan kontra pembubaran ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Jakarta, Jumat (12/5). Pemerintah menyatakan tidak akan berkompromi dengan ormas yang mengancam NKRI. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Menurut dia, hal inilah yang tidak bisa dibiarkan. Sebab, ini akan mengancam keberadaan suatu negara.

"Pada akhirnya mengancam eksistensi negara," ujar Wiranto.

2 dari 3 halaman

Perketat Keamanan

Bom Kampung Melayu mengejutkan publik. Tak ingin hal itu terulang, Polri memperketat pengamanan. Tak hanya memperketat keamanan markasnya, polisi mengawasi pergerakan mantan narapidana teroris di beberapa daerah.

Polresta Cirebon adalah salah satu yang langsung menerapkannya. Polresta Cirebon memperketat pengawasan terhadap napi teroris yang bebas awal Mei 2017.

Kapolresta Cirebon AKBP Adi Vivid Agustiadi Bachtiar mengatakan, ada pengawasan khusus terhadap napi teroris asal Cirebon, Arief Budiman.

"Kami selalu melakukan pengawasan khusus terhadap napi teroris di Cirebon yang sudah bebas," ucap Adi Vivid usai mengikuti kegiatan Pawai Obor 2017, Kamis 25 Mei 2017.

Menurut dia, belum ada hal yang mencurigakan dari aktivitas Arief. Dia menilai aktivitas sehari-hari Arief masih normal. Namun, tim gabungan terus memantau pergerakan Arief Budiman.

Polisi juga tengah memantau beberapa aktivitas kelompok yang ada di Kota Cirebon. "Pantauan dari kami, ada beberapa jaringan yang sedang dimonitor. Sejauh ini kegiatan mereka masih normal dan belum terlihat kegiatan yang sifatnya akan melakukan penyerangan," kata Adi Vivid.

Arief Budiman merupakan napi teroris yang bebas dari Lapas Pasir Putih Nusakambangan pada 6 Mei 2017. Arief Budiman telah menjalani masa hukuman penjara selama 7 tahun dan dinyatakan bebas murni berdasarkan Surat Lepas Nomor W13.PAS.PAS24.PK.01.01.02-100, tertanggal 6 Mei 2017.

Sarung tangan karet tergeletak dekat TKP bom bunuh diri di Halte TransJakarta Terminal Kampung Melayu, Kamis (26/5). Bom Kampung Melayu yang terjadi Rabu malam menewaskan tiga polisi dan dua orang yang diduga pelaku. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dia terlibat langsung dalam pengeboman di Masjid Adzikra Polresta Cirebon, yakni menyimpan sisa bom lain untuk diserahkan ke Ahmad Basuki.

Namun karena takut, Ahmad Basuki menolak dan menitipkan kembali ke Arief Budiman. Setelah itu Arief Budiman menemui Andri Siswanto dan musala. Keduanya menyarankan bom tersebut untuk dibuang ke kali.

"Kami juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait dalam upaya mencegah dan menangkal paham radikal di masyarakat Kota Cirebon," sebut Adi Vivid.

Kepolisian Daerah Kalimantan Timur pun meningkatkan kewaspadaan menyusul teror bom Kampung Melayu, Jakarta Timur. Aparat intelijen disiagakan mewaspadai perilaku mantan teroris.

"Kami tingkatkan kewaspadaan pengamanan di seluruh Kaltim dan Kaltara," kata Kepala Polda Kaltim Inspektur Jenderal Safaruddin, Kamis 25 Mei 2017.

Dia mengatakan, polisi sudah memegang data para mantan teroris yang berdomisili di Kaltim. Mayoritas di antaranya sudah mulai berbaur dengan masyarakat setempat.

"Kami tahu ada beberapa mantan pelaku teror yang berdomisili di Kaltim. Kami perintahkan pengawasan dan kewaspadaan," papar Safaruddin tanpa menyebutkan nama mantan pelaku aksi teror di Kaltim.

Aparat kepolisian memasang garis polisi di lokasi ledakan bom Kampung Melayu, Kamis (25/5). Lokasi terjadinya ledakan bom dipadati warga untuk berfoto dan melihat langsung peristiwa yang menewaskan tiga polisi tersebut. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Selain itu, dia meminta peningkatan pengamanan di sejumlah objek vital, sarana ibadah, hingga lokasi berkumpulnya masyarakat. Dia tak ingin kecolongan dan teror bom di Jakarta merembet ke kota lain jelang Ramadan.

Dua tahun terakhir, polisi mengamankan beberapa tersangka teroris di Balikpapan dan Samarinda, Kalimantan Timur. Pertama, Detasemen Khusus 88 menangkap Fajrun bin Slan, warga Ambon di Perumahan Herr I, Jalan Swadaya 1, RT 24, Balikpapan. Fajrun ditangkap berselang sehari saat Jakarta dihantui aksi teror bom Thamrin.

Kedua, teror terjadi di Samarinda, akhir 2016 lalu. Seorang residivis terorisme, Juhanda alias Joh alias Jo Bin Muhammad Aceng Kurnia (32 tahun), melempar bom molotov ke Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda.

Kronologi kejadian saat pelaksanaan ibadah Minggu di Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda. Saat umat kristiani beribadah, seorang pria mengenakan kaus hitam bertuliskan kata jihad melemparkan satu bungkusan yang kemudian diketahui sebagai bom molotov.

Warga sekitar lokasi kejadian sempat menangkap serta memukuli pelaku sebelum diserahkan ke Polsek Samarinda Seberang.

 

 

Artikel Selanjutnya
Rampas Pistol Polisi, Begal di Tangerang Akhirnya Tewas
Artikel Selanjutnya
Tiga Bersaudara Komplotan Curanmor Dibekuk Saat Pesta Sabu