Sukses

Jokowi: Negara Pancasila Sudah Final, Jangan Cari Alternatifnya

Liputan6.com, Jakarta - Situasi nasional memanas sejak beberapa waktu belakangan. Sejumlah polemik mencuat ke permukaan. Terutama dipicu Pilkada DKI dan kasus dugaan penodaan agama yang melibatkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Presiden Joko Widodo juga memantau. Jokowi beranggapan, ada pihak yang mencoba merongrong dan menunggangi di tengah naiknya suhu politik. Pihak-pihak itu diyakini mencoba mengganti haluan dan fondasi bangsa.

Bagi Jokowi, ini bukan perkara sepele. Sebab, Pancasila yang sudah menjadi ideologi dasar NKRI adalah harga mati. “Lebih dari 70 tahun membuktikan bahwa memang kita bersatu karena kita memiliki dasar Pancasila,” ucap Jokowi.

Berpolitik merupakan hak warga negara. Tapi, mengubah haluan negara merupakan tindakan keliru. Inilah yang membuat pemerintah bersikap tegas. Lewat Menko Polhukam, pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia, yang diduga berusaha mengampanyekan sistem khilafah untuk mengubah sistem Pancasila.

Di sisi ketegasannya sebagai pemimpin, Jokowi tetaplah manusia biasa. Ia pun senang bersenda gurau. Belakangan, kakek seorang cucu ini mulai senang mendongeng cerita rakyat. Hal yang jarang dilakukan beberapa presiden di era sebelumnya.

Pada Selasa 23 Mei 2017, Joko Widodo menerima tim Liputan 6 SCTV ke Kompleks Istana Kepresidenan, di Bogor, Jawa Barat. Berikut perbincangan dengan mantan Wali Kota Solo ini. 

1 dari 4 halaman

Menguji Anak-anak

Bapak kerap kali memberi kejutan. Di Hari Buku Nasional, Bapak mengetes anak-anak silat, nari, dan perkalian untuk duduk di samping bapak. Bapak menyebutnya ini apa? Gaya kepemimpinan Joko Widodo?

Kita setiap hari bergelut dengan hal serius. Sehingga kita lupa kadang dengan hal-hal yang human, pentingnya bertemu dengan anak-anak kita. Anak-anak masa depan bangsa. Saya selalu tes kadang-kadang Pancasila, kadang juga prestasi, apakah juara di kelas, dan juga mengenai budaya kita. Apa misalnya, bisa silat enggak? Coba satu dua tiga jurus. Kemudian ada yang bisa nari.

Saya kira, kita lupa bahwa anak-anak kita memerlukan nilai-nilai yang harus mereka tahu. Bukan hanya matematika, biologi, atau fisika dan sebagainya. Tapi, nilai-nilai kebinekaan, budaya, moralitas, kejujuran, sopan santun. Saya kira, ini perlu disampaikan ke anak muda kita.

Seorang siswa berdiri berbicara didepan Presiden Jokowi dan siswa lainnya di halaman tengah Istana, Jakarta, Rabu (17/5). Kegiatan mendongeng ini untuk memperingati hari buku nasional. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bapak juga sempat mendongeng Lutung Kasarung, dengan pesan bekerja keras. Kenapa cerita ini yang dipilih?

Ini kan dongeng rakyat dari Sabang-Merauke, ada ribuan, banyak sekali. Kita juga lupa dan sudah lama tidak pernah mendongeng kepada anak kita. Mungkin juga bapak dan ibu guru juga sudah lama tidak mendongeng.

Saya ingin mengingatkan, di situ ada banyak value yang harus dikenalkan kepada anak-anak kita. Seperti kemarin saya bercerita tentang Lutung Kasarung. Bercerita tentang Purbalarang yang mempunyai sifat-sifat jahat, iri, kemudian pemalas, dan Purbasari yang mempunyai sifat yang jujur, kerja keras.

Nilai-nilai seperti itu harus dikenalkan kepada anak-anak kita, dalam sebuah penyampaian dongeng yang menarik. Itu bercerita mengenai kebaikan dan keburukan. Karena kebaikan pasti mengalahkan keburukan, seperti Purbasari dan Purbalarang. Anak-anak itu harus tahu dan ngerti.

Sebetulnya ada pesan yang lebih luas lagi?

Pesannya, terutama pada anak-anak itu. Kebaikan akan mengalahkan keburukan. Seperti sifat-sifat Purbasari yang orangnya jujur dan pekerja keras, lalu akan disingkirkan oleh Purbalarang yang iri dan menginginkan sesuatu yang sebetulnya bukan menjadi haknya. Padahal yang menentukan kan Raja Tapak Agung. Cerita-cerita seperti itu akan menginspirasi siapa pun. Kebaikan akan mengalahkan keburukan.

 

2 dari 4 halaman

Gebuk

Setelah bapak bercanda dengan anak-anak, Bapak kemudian berbicara serius jika ada yang menggoyang NKRI, digebuk saja. Itu diulang berkali-kali disampaikan...

Itu sesuatu yang fundamental. Tidak boleh dibiarkan jika ada ada orang atau organisasi yang jelas-jelas ingin mengganti dasar negara kita Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan kebinekaan. Tidak ada cara lain, harus tersampaikan dengan jelas.

Kalau saya hanya menyampaikan, 'jewer saja' dipikir kita tidak serius. Kata yang paling pas ya digebuk! Tetapi digebuk dengan prosedur-prosedur hukum yang memang diperbolehkan. Apakah lewat Perppu, Keppres, atau lewat peringatan-peringatan.

Saya kira, banyak pilihan yang harus kita pakai. Tapi sekali lagi, ini sangat fundamental. Negara Pancasila itu sudah tidak boleh dibicarakan lagi alternatif-alternatifnya. Tidak, ini sudah final! Rakyat harus tahu bahwa Negara Pancasila sudah final.

Presiden Joko Widodo menyapa puluhan pelajar di halaman tengah Istana, Jakarta, Rabu (17/5). Dengan kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat meningkatkan dan menanamkan budaya baca. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Apakah hanya untuk HTI saja?

Tadi saya sampaikan ini. Entah untuk individu atau organisasi yang ingin dan bertentangan dengan Pancasila, NKRI, UUD 1945, Bineka Tunggal Ika, ya tidak ada pilihan lain buat saya. Gebuk itu sudah kata-kata yang pas. 

Ada gebuk plus tendang ketika bicara soal PKI. Itu keras sekali?

Kita ini kadang-kadang masih mengungkit-ungkit hal yang sudah jelas. Ada orang bicara bangkitnya PKI. Dulu, mungkin dua tahun yang lalu, katanya saya harus minta maaf pada PKI. Itu sudah jelas di TAP MPRS (Nomor XXVI/1966), bahwa PKI itu organisasi terlarang.

Kalau PKI nongol, jelas, tindakan kita harus diapakan ya sudah jelas. Kalau kata saya digebuk dan ditendang ya. Itu sudah clear. Enggak usah ditanyakan lagi. Itu sebuah isu politik murahan yang tidak kita ingin ungkit-ungkit lagi. Padahal PKI itu sudah jelas organisasi terlarang dan tidak boleh ada di Indonesia.

 

3 dari 4 halaman

Hoax dan Kebinekaan

Isu itu berarti salah atau palsu. Nah, apa cara efektif supaya kita tak terjebak dengan isu hoax di era media sosial?

Ya, ini yang sering main di media sosial. Anak-anak muda harus kita ingatkan, bahwa sosial media akan sangat baik digunakan untuk hal-hal produktif. Saling mengingatkan, bahwa kita itu Negara yang penduduknya beragam. Ada 714 suku, 1.100 lebih bahasa lokal, kita punya 516 kabupaten/kota, dan 34 provinsi. Ini negara besar yang beraneka ragam. 

Di media sosial harus selalu diingatkan, supaya kita tetap satu. Karena kekuatan kita dipersatukan. Potensi kita kalau kita satu dalam keberagaman. Ini yang harus terus didengungkan. Jangan sampai ada pemikiran-pemikiran lain yang ingin membawa negara ini kepada ideologi yang lain.

Kalau melihat kondisi NKRI, Bapak menakarnya ada di mana?

Ini akan baik dalam 6-8 bulan ini. Kalau ini bisa kita pakai sebagai sebuah alat untuk mengingatkan kita. Sehingga kita menyadari dan kita akan semakin dewasa dalam berpolitik. Dan masyarakat akan semakin matang dalam menghadapi situasi politik atau pun dalam pilkada dan pilpres.

Masyarakat bisa memilih mana wilayah politik, agama, pemerintah, hukum. Ini akan mendewasakan kita. Jadi kalau ada hoax atau fitnah, masyarakat akan biasa aja. Karena sudah bisa menyaring. Ini akan mematangkan kita.

Jangan sampai kita terjebak yang seperti ini berbulan-bulan. Ini menghabiskan energi kita. Energi kita habis untuk hal-hal yang tidak perlu. Tapi ada juga ada bagusnya untuk mematangkan kita.

Ribuan orang atau pengunjung sangat antusias mengikuti puncak acara Pesta Laut Mappanretasi 2017 yang digelar di Kabupaten Tanah Bumbu.

Terkait dengan kondisi tadi, bagaimana Bapak melihat Pilkada DKI?

Kita ini memiliki pilihan gubernur tidak hanya DKI. Ada 34 provinsi, 516 bupati/wali kota yang lalu itu 101 pilkada. Ke depan, ada 171 pilkada.

Untuk DKI, warga DKI sudah menentukan, dan sudah diputuskan KPUD. Kita berikan kesempatan yang terpilih untuk menjalankan tugasnya.

Kita harus dewasa terhadap pilihan politik rakyat. Jangan sampai berbulan-bulan terus terjebak suasana pilgub. Harus mulai konsentrasi pada pekerjaan masing-masing, bangun etos kerja, disiplin nasional.

Kita harapkan masyarakat sudah berubah dan bisa membedakan wilayah negara, pemerintah, hukum, dan tidak terjebak isu politik rendahan yang kadang dilakukan elite politik.

Bapak berulang kali mengundang tokoh agama untuk mengatasi bibit intoleransi. Bapak memandang tokoh agama efektif memberikan peranan?

Selain sisi pemerintahan, kita pesan kepada gubernur, bupati, wali kota, kita pun memerlukan tokoh-tokoh agama atau tokoh masyarakat untuk mengingatkan umatnya, bahwa kita ini beragam. Kita memiliki 714 suku.

Ini sebuah anugerah dari Allah SWT yang harus kita syukuri. Sehingga kalau ingat itu, kita adalah ciptaan-Nya. Kalau kita sadar, kita salah satu Indonesia, saudara. Kita harus bersatu untuk bangun negara.

Presiden Jokowi saat menerima delapan tokoh dari organisasi lintas agama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (16/5). Perwakilan organisasi yang hadir antara lain PBNU, Muhammadiyah, MUI, Wali Gereja Indonesia, PGI dan lainnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Artinya, masyarakat harus memandang kalau Pancasila adalah solusi jitu untuk menggabungkan keberagaman ini?

Kita ingin mengingatkan saja kepada seluruh rakyat, kita beragam. Anak-anak pakai baju daerah biar kita ingat bahwa ada banyak suku dan bahasa lokal, kulit berbeda, tapi tetap satu, karena kita miliki Pancasila.

Dalam dua tahun ke depan, apakah bapak akan tetap berjalan beriringan bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla?

Saya setiap hari bertemu dengan Wapres. Setiap saat kami makan bersama. Jangan sampai ada isu-isu yang berusaha untuk memecah kami. Karena kami ini bekerja bersama-sama untuk negara. Jadi, kalau saya setiap hari ketemu. Apalagi yang harus saya ceritakan.

Jadi tidak benar ada keretakan?

Tidak benar.

 

 

Artikel Selanjutnya
Menaker: 167 Ribu Pekerja Ikut program Mudik Lebaran Bersama
Artikel Selanjutnya
Golkar, Jokowi, dan AHY di Pilpres 2019