Sukses


EE Mangindaan: Politik Tak Boleh Semena-mena

Liputan6.com, Jakarta Wakil Ketua MPR E. E Mangindaan menerima delegasi dari Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (KM-ITB), Senin (22/5) kemarin di ruang kerja, Lt. 9, Gedung Nusantara III, Komplek MPR/DPR/DPD. Dalam pertemuan tersebut, Presiden KM ITB, Ardhi Rasy Wardhana, menyampaikan banyak hal terkait masalah politik, ekonomi, dan hukum yang terjadi saat-saat ini. 

Dalam pertemuan itu, Ardhi mengutip Pasal 33 UUD NRI Tahun 1945. Selanjutnya dirinya menyesalkan bahwa hampir semua turunan produk hukum yang ada melenceng dari cita-cita konstitusi.

“Sekarang sistem perekonomian berdasarkan pasar,” ujarnya. Hal demikian menurutnya bisa jadi bangsa ini ditekan oleh kekuatan internasional semacam IMF sehingga aturan-aturan yang ada menjadi liberal.

Dalam masalah hukum dikatakan, sekarang supremasi hukum telah bergeser. Disebut dalam masalah kereta api cepat jurusan Jakarta-Bandung, banyak hal yang masih menjadi kendala proyek itu namun Ardhi merasa proyek itu sepertinya dipaksakan.

“Sekarang politik seolah-olah selalu dimenangkan,” paparnya. Ia pun juga menyikapi banyak hal lain seperti soal reklamasi di laut Jakarta dan soal pembangunan pabrik semen di Jawa Tengah.

Menanggapi pernyataan dan kehadiran KM ITB, Mangindaan merasa senang dan menyambut dengan terbuka. “Saya bangga dengan kalian, berarti anda mengikuti apa yang terjadi,” ujarnya. “Apa yang anda sampaikan merupakan hak kebebasan berpendapat yang juga anda miliki,” tambahnya.

Dalam pertemuan tersebut Mangindaan sepakat bahwa hukum harus menjadi panglima. “Politik harus ada koridornya tak boleh semena-mena,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Mangindaan memaparkan bagaimana proses amandemen UUD. Amandemen yang dilakukan sebagai upaya untuk membangun cek and balances. Dulu disebut kekuasaan Presiden sangat kuat sehingga dalam proses amandemen kekuasaan yang ada ditata, yang kekuasaannya berlebih dikurangi dan yang kekuasaannya belum maksimal diperkuat.

Dalam soal pembangunan, Menurut Mangindaan, sekarang ada keinginan untuk menghidupkan kembali haluan negara seperti GBHN. Keinginan untuk menghidupkan kembali haluan negara agar pembangunan yang dilaksanakan bisa berkesinambungan dan selaras.

“Sekarang ganti presiden ganti visi dan misi, demikian juga kepala daerah,” ungkapnya. Mangindaan membayangkan bagaimana 550 kepala daerah yang memiliki visi dan misi masing-masing. “Kalau masing-masing berbeda bagaimana nanti NKRI,”ujarnya.

Sebagai anggota DPR, Mangindaan juga akan mempertemukan KM ITB dengan DPR dan komisi terkait sebab apa yang diungkapkan oleh KM ITB itu secara langsung berhubungan dengan DPR.

“Kalian jangan putus asa, maju terus, kalian calon pemimpin bangsa,” Mangindaan menyemangati tamunya itu. 

(*)

Artikel Selanjutnya
Megawati: Memangnya Presiden Tak Boleh Bikin Perppu?
Artikel Selanjutnya
MUI: Jangan Libatkan Umat di Kasus Viktor Laiskodat