Sukses

Tulisan Warisan Berbuah Ancaman

Liputan6.com, Jakarta - Umurnya masih 18 tahun. Gadis berhijab ini juga masih duduk di bangku SMA. Namun, tulisan-tulisannya di Facebook mampu menginspirasi banyak orang dan tak sedikit juga yang justru malah melayangkan ancaman.

Dia adalah Afi Nihaya Faradisa. Siswi SMA Negeri 1 Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur, ini belakangan jadi perbincangan netizen setelah akunnya ditangguhkan Facebook.

Banyak warganet yang menganggap status-status yang dibuatnya di Facebook cukup bernas dan tak patah logika. Banyak yang tidak menyangka, remaja seusianya bisa menulis pemikiran yang kritis.

Dalam salah satu tulisannya, ia berkisah mengenai pengalamannya selama 10 hari tak menggunakan gadget dan internet. Meski teknologi kini menjadi makanan bagi pikiran masyarakat, tapi ia merasa penggunaan teknologi kini telah mencemari hidup banyak orang karena telah menyebarkan hoax dan kebohongan.

Media sosial juga dinilainya menjadi ajang segala hal untuk diperdebatkan hingga menimbulkan kebencian sesama manusia, padahal perbedaan diciptakan Tuhan.

"Kita juga tidak pernah kehabisan alasan untuk saling membenci. Apa-apa dijadikan 'amunisi.' Sama-sama manusia, kalau beda negara rusuh. Sama-sama Indonesia, kalau beda agama rusuh. Sama agamanya, beda pandangan juga rusuh. Terus gimana nih maunya?" tulis Afi.

Selain itu, Afi juga menulis soal keberagaman di Indonesia. Ia memberi judul tulisannya 'Warisan'. Melalui tulisan itu, ia mengajak warga Indonesia untuk menjaga toleransi, khususnya di media sosial yang rawan dengan gesekan antar-pengguna.

Menurut dia, sebagai negara yang penduduknya beragam, tidaklah patut umat satu agama mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan. Berikut status lengkapnya:

"WARISAN

Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri. Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya.

Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya.

Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman". Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, "Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya".

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa. Tapi tidak, kan?

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan?

Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir."

Tulisan yang kritis dan lugas itu dibanjiri komentar-komentar positif dari warganet yang kagum dengan pemikiran gadis remaja itu. Statusnya telah dibagikan lebih dari 15 ribu kali, disukai lebih dari 30 ribu kali, dan dibanjiri ribuan komentar.

"Damn, this is totally insane. Tulisan yang sangat berbobot, namun begitu cair alurnya. Tulisannya menjawab apa yang ada di hati kita sekarang. Angkat topi buatmu, dik. Salut. Salam dari Singaraja, Bali," tulis akun Subianta Eka Kresnawan.

"Dek, tolong penuhi media sosial dengan tulisan-tulisan seperti ini. Banyak kakak-kakak, om-om, tante-tante, kakek, nenekmu di dunia ini yang ternyata tidak sedewasa usianya (baca: kekanak-kanakan) dan perlu belajar darimu," ujar akun Esther Iriani Hutapea.

"Afi, baca tulisnmu itu mesti meneduhkan hati setiap orang, saya doakan kamu menjadi penerus Bangsa Indonesia yang dapat dibanggakan oleh dunia," kata akun Endang S.

Namun, karena tulisan itulah, akun Facebook-nya tiba-tiba tak bisa diakses. Afi menduga akun Facebook-nya mendapat laporan dari banyak orang yang tak sepakat dengannya, hingga kemudian ditangguhkan pihak Facebook.

1 dari 3 halaman

Ancaman Pembunuhan

Afi Nihaya (18) belakangan jadi perbincangan netizen.

Selain akun Facebook-nya ditangguhkan, Afi juga mendapat hinaan. Bahkan, ia juga menerima ancaman pembunuhan.

"Saya pernah menerima ancaman pembunuhan karena status Facebook saya. Pernah juga di-bully lewat jalur pesan pribadi Facebook," ujar Afi Nihaya kepada Liputan6.com di Jakarta, Minggu (21/5/2017).

Pengancam itu bilang via telepon, "Kami juga bisa bunuh kamu, bukan cuma akunmu."

Pelaku tak menyebutkan jati diri pribadi atau organisasi. Afi langsung mematikan telepon. Kejadian berlangsung beberapa hari sebelum akunnya ditangguhkan Facebook.

Afi Nihaya selalu memilih untuk mengabaikan semua serangan balik bernuansa negatif pada tulisan-tulisannya.

"Kalau saya bereaksi, akan memanaskan perdebatan. Itu yang mereka harapkan dan tidak akan berhenti mencari celah menyerang saya," kata dia.

Meski mengundang risiko, keluarga dan teman-temannya sangat mendukung langkahnya.

"Orangtua saya bangga dengan saya," ujar remaja berhijab ini.

Ia mengaku sudah siap dengan semua konsekuensi dari kekritisannya lewat media sosial.

Meski sempat ditangguhkan selama lebih dari 24 jam, akun Facebook Afi kini sudah aktif kembali.

Bila menilik ketentuan dari Facebook, akun pengguna ditangguhkan apabila pengguna melakukan aktivitas yang membuat Facebook mengiranya sebagai robot. Seperti mengirimkan terlalu banyak permintaan pertemanan, mengirimkan terlalu banyak pesan, atau menggunakan nama palsu.

Selain itu, akun juga dapat ditangguhkan bila dilaporkan beramai-ramai. Lalu, apa yang terjadi sebenarnya pada akun Afi Nihaya?

Afi menjawab hal tersebut dalam status terbaru dia setelah akun Facebook-nya kembali. Menurut remaja yang bernama lengkap Asa Firda Inayah ini, ia tidak habis pikir kerugian apa yang ia timbulkan sampai-sampai banyak orang melaporkan akun miliknya secara bersamaan.

Berikut status Afi selengkapnya:

"SIAPAKAH AFI NIHAYA FARADISA?

Saya hanyalah perempuan biasa yang lahir di Banyuwangi pada tanggal 23 Juli 1998. Afi Nihaya Faradisa adalah nama anagram atau nama pena dari Asa Firda Inayah.

Nama saya yang tercantum di kartu identitas adalah Asa Firda Inayah :)

Afi : (A)sa (F)irda (I)nayah

Nihaya : Inayah

Faradisa : Firdaasa

Mengapa saya menggunakan nama anagram? Karena saya ingin menyampaikan kebaikan-kebaikan secara anonim di dunia maya. Karena yang penting bagi saya bukanlah mengambil sebanyak mungkin keuntungan dari melambungnya nama. Karena yang penting bagi saya adalah tersampainya beragam pesan kebaikan pada sebanyak-banyaknya pembaca.

Saya adalah orang yang sangat jauh dari sempurna, berjuta-juta jumlah kekurangan pada diri. Saya hanya mencoba melakukan apapun yang gadis 18 tahun bisa lakukan untuk membuat dirinya berguna. Itu saja.

Menulis adalah salah satu hal yang saya pikir saya bisa lakukan untuk memberi kontribusi bagi bangsa ini dalam meluaskan sudut pandang, dalam menebarkan pesan perdamaian. Bahwa Kristen dan Islam tak harus bergesekan. Bahwa Cina dan Jawa sama-sama orang Indonesia.

Sampai suatu ketika, para wartawan mulai mendatangi saya di rumah dan di sekolah. Berita saya dimuat di surat kabar cetak, online, dan radio dengan catatan agar nama yang tercantum tetap nama pena. Saya diminta berbicara di beberapa seminar. Saya tampil di televisi. Saya memenuhi undangan makan pagi dari Pak Bupati Banyuwangi.

Ya, belakangan ini saya memang mendapat sorotan banyak orang, tapi hal itu bukanlah sebuah kesengajaan.

Saya ingin tahu apa kerugian yang saya timbulkan sampai-sampai banyak orang melaporkan akun saya secara bersamaan. Pihak Facebook telah men-suspend/melumpuhkan akun saya selama hampir 24 jam, saat tulisan berjudul WARISAN sedang ramai-ramainya dibagikan.

Selama kurun waktu tersebut, akun saya menghilang. Saya sedih.

Di depan mata, upaya saya sejak lama tiba-tiba sirna. Saya merasa bahwa inilah akhirnya.

Saya tidak menyangka, ternyata masih banyak orang yang menentang takdir Tuhan dengan meludahi perbedaan. Saya bertanya-tanya, mengapa jika ego berbicara, gaungnya melebihi nurani kita yang sama-sama ciptaan-Nya?

Siang tadi, saat saya masih ada di balai kota, saat saya menjawab pertanyaan rekan media, ada gerimis dalam hati ini ketika menyaksikan beberapa teman dan followers FB sedang mencoba memviralkan hashtag #FACEBOOKbringbackAFI dengan harapan agar akun saya bisa segera pulih.

Padahal orang-orang itu tidak pernah bertemu secara langsung dengan saya, tapi mereka begitu peduli. Mereka percaya pada niat baik dan kesungguhan saya dalam menebarkan kebermanfaatan. Masih banyak orang yang mendukung kedamaian dalam diam. Masih banyak orang yang menopang saya untuk berdiri, walau mereka 'sunyi'.
    
Peristiwa ini menguji saya pribadi. Menguji apakah saya benar-benar bisa sebaik tulisan saya saat menghadapi persoalan sungguhan, sekaligus mengetahui mana teman yang bukan hanya datang saat senang.
    
Beribu terima kasih pada Anda semua. Tanpa Anda, saya tidak akan bisa apa-apa
    
Saya TIDAK memiliki akun lain di situs facebook kecuali www.facebook.com/afinihaya. Saya memiliki akun instagram di @afi.nihayafaradisa dan email afinihayafaradisa@gmail.com.

Selain yang saya sebutkan di atas, semuanya palsu termasuk fanpage, website, twitter, dan lainnya.
    
Saya muslim dan saya cinta saudara-saudara lain agama. Saya percaya bahwa saya bukanlah satu-satunya muslim yang menghargai perbedaan, mentoleransi keragaman yang adalah bagian dari kehendak Tuhan.

Masih ada banyak orang yang saya rasa perlu untuk membaca tulisan WARISAN. Sayangnya, viralnya tulisan itu berusaha dihentikan oleh "berbagai pihak" selama beberapa waktu.

Maka, jika Anda berkenan, saya meminta dengan sangat agar Anda yang belum/sudah share untuk share tulisan itu lagi. Semoga Tuhan merahmati.

Meski ada beberapa pihak yang tidak menyukai status-status Afi, namun orang-orang yang mendukung Afi juga tak kalah banyak. Hal ini terlihat dari dukungan netizen yang menggalang dukungan meminta akun Afi dikembalikan dengan tagar #FACEBOOKbringbackAFI."

 

2 dari 3 halaman

Tuai Simpati

Kebersamaan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Afi Nihaya Paradise

Meski mendapat acaman, banyak juga pihak-pihak yang bersimpati terhadap Afi Nihaya. Yang terbaru, Afi mendapat dukungan dari komposer terkenal Addie MS serta Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Dukungan juga datang dari warganet yang meminta Afi terus menulis, membaca, dan menyuarakan pemikirannya.

"Luar biasa Afi ini. Masih SMA tapi amat bijak dan pemikirannya dewasa sekali. Aku nge-fans.https://www.facebook.com/afinihaya," tulis Addie MS dalam akun twitternya @addiems.

Bahkan, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengajak Afi Nihaya bertemu di Kantor Pemerintah Banyuwangi pada Kamis 18 Mei lalu. Dalam kesempatan itu, Anas mengajak gadis kelahiran 23 Juni 1998 itu untuk sarapan bersama.

Momen pertemuan itu juga diabadikan Anas dalam InstaStory di akun Instagram pribadinya bernama @azwaranas.a3.

"Afi ini salah satu contoh pelajar yang memanfaatkan gadget untuk hal positif lewat tulisan. Tulisan Afi bagus, dan apa yang dilakukan Afi bisa menjadi inspirasi bagi pelajar lainnya," kata Anas.

Anas menambahkan, jika ia mengetahui kiprah Afi di media sosial, dan selalu menyita perhatian banyak orang.

"Terkait tulisan Afi, memang ada perbedaan pendapat, ada yang setuju dan ada yang tidak. Itu sesuatu yang wajar, banyak kepala pasti tidak bisa seragam sependapat," ia melanjutkan.

Bupati Anas juga menawarkan Afi Nihaya untuk mengikuti beasiswa Banyuwangi Cerdas yang bekerja sama dengan beberapa universitas negeri. Beasiswa tersebut nantinya akan membiayai kuliah beserta biaya hidup selama berkuliah.

"Ini merupakan apresiasi dari pemerintah daerah kepada pelajarnya yang berprestasi," ujar Anas.

Artikel Selanjutnya
VIDEO: Ribuan Orang Hadiri Protes Supremasi Kulit Putih di AS
Artikel Selanjutnya
Donald Trump dan Mitos Palsu 'Peluru Darah Babi untuk Muslim'