Sukses

Penumpang Kurang Toleran, Keberadaan Gerbong Wanita Dipertanyakan

Liputan6.com, Jakarta - Penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) pada saat jam-jam sibuk memang terlihat penuh hingga berdesak-desakan. Pengamat Transportasi Azas Tigor Nainggolan menilai kondisi tersebut terjadi lantaran murah dan cepatnya moda transportasi tersebut.

"Mereka itu mau murah, cepat dan enggak terkena macet di jalan. Kalau naik kendaraan pribadi pasti macet," ujar Azas saat dihubungi Liputan6.com di Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Sedangkan mengenai adanya fenomena kurangnya toleransi para penumpang di gerbong khusus wanita, Azas justru mempertanyakan fungsi gerbong tersebut.

"Ketika dibikin gerbong wanita itu, saya juga bertanya buat apa. Karena katanya untuk mengurangi pelecehan dulu alasannya, kalau saya lihat enggak perlu, cukup pasangan CCTV saja, sudah cukup," ujar dia.

Sedangkan mengenai penumpukan penumpang, Azas menyarankan PT KAI Commuter Jabodetabek lebih konsisten dalam manajemen jadwal keberangkatan. Sebab pengguna saat jam-jam sibuk sudah terbiasa akan jadwal yang ada.

"Harusnya KRL seperti di tempat saya Bekasi, misalnya keberangkatan pukul 05.11 WIB, harus konsisten, jangan 20 menit berikutnya baru ada. Jadi kalau ada keterlambatan, pasti ada penumpukan, di gerbongnya jadi masalah," papar dia.

Selain itu, Azas memberikan solusi lainnya, yaitu adanya penambahan rute perjalanan dengan menggunakan pola operasi loop line. Seperti saat dirinya masih menjabat sebagai Dewan Transportasi Kota, pernah mengusulkan hal itu.

"Tapi memang semua belum bisa loop line, jadi strategi manajemen rute untuk perjalanan belum fasih, itu yang harus dipikirkan ke depan. Kan memang enggak bisa nambah gerbong KRL juga, lebih bagus bagaimana mengatur strategi rutenya saja," Azas menandaskan.

Artikel Selanjutnya
Visa Jemaah Haji Gelombang Pertama Sudah Siap
Artikel Selanjutnya
Truk Terguling di Tol JORR, Kendaraan Dialihkan