Balapan Liar, Bentuk Lain Tindak Kriminal

on Sep 01, 2010 at 20:55 WIB

Liputan6.com, Jakarta: Deru suara mesin sepeda motor menggema memekakkan telinga. Kuda-kuda besi seakan meraung-raung siap bertarung. Ironisnya, motor ini diadu bukan di lintasan balap atau sirkuit, melainkan di jalan raya yang boleh dibilang tak lazim. Pembalap liar tak mau tahu. Jalan raya yang juga digunakan oleh pengguna jalan lain seolah menjadi sirkuit kelas dunia bagi mereka.

Faktor keamanan bukan lagi jadi prioritas. Mereka meninggalkan perlengkapan pelindung badan seperti helm dan jaket. Bagi sang joki, yang terpenting adalah bisa beraksi bebas memacu motor. Gairah memacu motor bahkan tetap tak terbendung saat Ramadan datang. Trek-trekan liar bukannya mereda justru semakin menjadi. Bagi sebagian joki yang haus tantangan, waktu sahur dimanfaatkan untuk beraksi di jalan.

Tak hanya di Jakarta, di Yogyakarta pun para pemuda lebih nekat lagi. Trek-trekan tidak dilakukan tengah malam, namun justru menjadi ajang ngabuburit alias menunggu waktu berbuka puasa. Sementara di Palu, Sulawesi Tengah, maraknya balapan liar saat jelang buka puasa membuat pihak berwajib rutin mengadakan razia. Pengendara motor yang melanggar aturan, langsung diberi sanksi [baca: Operasi Balap Liar Polisi Kerahkan Ratusan Personel].

Trek-trekan pun tak jarang harus membuat para pembalap liar kucing-kucingan dengan polisi yang berjaga untuk membubarkan aksi nekat mereka. Saat patroli tiba pembalap-pembalap jalanan langsung kocar-kacir. Tak semuanya bisa kabur mengandalkan kecepatan, dan ada saja yang dicokok.

Balapan liar tak semata-mata soal beradu memutar tuas gas di jalanan. Selain ketrampilan tinggi dan nyali besar yang mutlak dimiliki para joki, spesifikasi motor juga menjadi faktor pembalap turun ke jalan. Mereka berlomba menjadi yang tercepat dengan memodifikasi motornya untuk bisa melesat layaknya halilintar.

Tak jarang pula ditemukan bengkel yang biasa memodifikasi motor standard menjadi motor balap liar. Motor korekan, begitu biasanya sebutan motor-motor balap modifikasi ini. Beberapa komponen mesin dimodifikasi atau bahkan diganti dengan komponen lain. Dan bukan sembarangan suku cadang yang dipasang. Sparepart dengan harga yang melangit juga menjadi pilihan untuk menyulap kondisi motor menjadi yang paling disegani.

Bengkel motor ternyata tidak sekadar menjadi tempat memodifikasi. Di arena balap liar, dua motor yang bertarung kerap berasal dari bengkel yang berbeda. Persaingan bukan lagi antar joki. Melainkan gengsi antar bengkel.

Meskipun namanya balapan liar, alias tak resmi, mereka tidak asal bertemu di jalanan. Dibutuhkan pihak ketiga yang  disebut calo atau perantara. Jika spesifikasi mesin dan perangkat motor sudah dimodifikasi dan layak untuk diadu, sang calo mengajak motor dari bengkel lain untuk tarung di lintasan balap liar.

Balap liar seperti makanan tak bergaram jika tak melibatkan taruhan. Besarnya taruhan tidak main-main. Untuk motor yang dianggap sudah memiliki reputasi, harga taruhannya pun bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Begitu motor-motor yang beradu cepat menyentuh garis finish, penonton pun bergemuruh. Senyum kemenangan bukan hanya didapat dari pembalap tapi juga penonton. Jutaan rupiah pun didapat dari taruhan pinggiran, sebutan untuk taruhan antar penonton balapan liar.

Jumlah uang tak sedikit yang dipertaruhkan menyebabkan sering terjadi perselisihan pendapat tentang siapa yang menang dan terkadang berujung ricuh. Selain persoalan judi yang melanggar hukum kebut-kebutan tak resmi ini juga ikut menyumbang angka kecelakaan. Data dari Polda Metro Jaya kasus kecelakaan di Ibu Kota dari 2008-2009 naik 1.000 kasus dan 80 persen kecelakaan sepeda motor.(ASW/AYB)
Suka artikel ini?

0 Comments