Sukses

Jurus Cerdas Pangkas Beban Tas

Liputan6.com, Jakarta - Kerap terlihat anak-anak Sekolah Dasar menggendong tas besar, bahkan kadang lebih besar dari badannya. Terbayang betapa berat beban yang ditanggung.  

Pemandangan itu tentu membuat orangtua-nya galau. Bagaimana tidak, sang buah hati harus kesulitan berjalan lantaran beban yang digendong melebihi batas toleransi tubuhnya.

Masalah beban tas ini rupanya sudah kronis. Fenomena tas besar ini menjamur di sejumlah tempat di Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan untuk gaya, ini keniscayaan seiring kewajiban bocah SD membawa buku pelajaran.

Eva Nilam Sari, ibunda salah seorang pelajar Sekolah Dasar, selalu tak tega melihat buah hatinya harus berjalan dengan tas berat. “Saya kasihan, anak saya kan badannya kecil,” ucap Eva kepada Journal Liputan6.com, Rabu 26 April 2017. 

Beban tas ini tak bisa dilepaskan dari barang yang harus dibawa anak saat ke sekolah. Journal Liputan6.com sempat memeriksa sebuah tas milik Aulia Namira, pelajar SD di kawasan Jakarta Timur.

Sekilas, tak ada yang aneh dengan isi tas. Di dalam tas tersebut, kami menemukan buku, peralatan tulis, dan botol minum. Berapa beratnya? 

Saat ditimbang, berat tas mencapai 4,8 kilogram. Angka ini melebihi batas toleransi tubuh seberat 3,3 kilogram atau 15 persen dari berat tubuh Aulia yang hanya 22 kilogram.

Menilik kondisi ini, pemerintah rupanya sudah mulai sadar. Fenomena beban tas tak bisa dilepaskan dari faktor buku pelajaran. Buku pelajaran menjadi penyumbang terbesar beban tas. Aulia misalnya, wajib membawa seabrek buku setiap hari.

Temuan yang kami dapati, berat buku bergantung tahun kurikulum. Rata-rata berat buku untuk Kurikulum 2006 adalah 520 gram hingga 850 gram per buku. Sedangkan Kurikulum 2013 punya berat buku rata-rata 200 gram hingga 350 gram.

Saat ini, Kementerian Pendidikan sedang berupaya mengalihkan kurikulum dari Kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menuju Kurikulum 2013. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan peralihan rampung tahun depan.

“DKI Jakarta paling lambat 2018 sudah kurikulum 2013,” kata Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Sopan Adrianto.

Sejumlah Anak SD Menggendong Tas yang kelebihan Beban (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Sopan mengakui peralihan kurikulum dilakukan buat menjawab kritik masyarakat. Sejauh ini banyak keluhan beban buku terlalu berat dan banyaknya jumlah pelajaran.

Pada kurikulum 2013 pemerintah menyederhanakan jumlah mata pelajaran dari 13 menjadi delapan mata pelajaran. Selain itu, pemerintah menawarkan pembelajaran tematik. Pembelajaran ini mengintegrasikan kompetensi IPA dan IPS ke dalam mata pelajaran lain.

“Supaya anak-anak dapat mempelajari banyak hal sekaligus dalam satu buku,” kata Sopan.

Terkait rencana pengalihan, Arief Rachman, ahli pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta punya pandangan lain. Menurut dia persoalan sebenarnya tidak berasal dari beratnya buku. Buku hanya benda mati. Fungsi buku tak beda jauh dengan perpustakaan atau laboratorium.

Pokok masalah pun tak hanya soal kurikulum. Arief menandaskan problem utama terdapat dalam kompetensi seorang pengajar. Ia mencontohkan banyak sekolah dengan fasilitas komplet buat menunjang aktivitas murid. Sayang, sekolahnya tak bisa menjadi sekolah unggulan.

Jawabannya sederhana: gurunya tidak punya kompetensi. “Ya tidak ada gunanya,” ujar Arief.

Arief menegaskan, masalah beban tas tak semata musti diselesaikan dengan mengubah atau mengalihkan kurikulum. Namun, harus diiringi dengan standarisasi kualitas guru. “Karena buku kan hanya fasilitas.” 

Artikel Selanjutnya
Pengusaha Sukses Sebaiknya Punya 7 Barang Ini, Apa Saja?
Artikel Selanjutnya
Cara Cerdas Atasi Ritsleting yang Rusak