Panti Rehabilitasi Khusus Sakit Jiwa

  • Daerah
  • 0
  • 24 Agu 2010 13:54

100824bcall-rico.jpg
Liputan6.com, Demak: Sejumlah pria tampak tengah memainkan alat musik rebana di satu ruangan ukuran 20 x 4 meter. Sementara yang lainnya berada di ruangan 2 x 4 meter. Mereka yang bermain alat musik adalah para pasien Panti Rehabilitasi Sakit Jiwa dan Narkoba Maunatul Mubarok di Dusun Lengkong, Kecamatan Sayung, Demak, Jawa Tengah.

Menurut Zainal Abidin, pengurus panti, pihaknya telah merawat 80 pasien. Mereka umumnya dikirim keluarganya dan beberapa di antaranya diambil dari jalan-jalan oleh pengurus panti. Zainal menambahkan, pihaknya merawat para pasien cacat mental serta narkoba dan lain sebagainya karena mempunyai prinsip manusia diciptakan sama.

"Kita ingin mengangkat martabat teman-teman kita yang barang kali mendapat kekurangan yang diberikan Allah," kata Zainal di Demak, Selasa (24/8) siang. "Kalau seandainya mereka bisa seperti kita, kenapa tidak."

Untuk menyembuhkan para pasien, setiap subuh mereka harus ikut salat berjemaah. Setelah itu, jam 08.00 WIB mereka olahraga. Ini untuk merangsang keceriaan para pasien. Kemudian salat zuhur berjemaah dan dilanjutkan dengan doa bersama. Pasien lalu mengikuti terapi tidur siang yang berguna untuk menenangkan jiwa dan pikirannya.

Setelah terapi tidur siang, para pasien mengikuti lagi salat ashar, magrib, serta isya berjemaah. Setelah itu, mereka wajib menonton televisi yang acaranya bersifat menghibur. Tujuannya, untuk merangsang safar bahagia. Setelah itu, mereka tidur.

Pukul 00.30, para pasien dibangunkan untuk mandi terapi. Airnya diambil dari kolam di alam terbuka karena mengandung embun yang menyehatkan. Pasien disemprot dengan air bersih di bagian-bagian pusat syaraf agar aliran darah yang tersumbat kembali lancar.

Selain itu, pasien juga diberi pengobatan herbal. Jamunya terbuat dari jahe, kunyit, dan daun sirih. Selain itu, pasein juga diberi jamu penenang yang terbuat dari daun waru. Ini penting supaya pasien lelap tidurnya serta tenang jiwanya. Selain itu, mereka juga diajarkan salat dan mengaji.

Proses penyembuhan berlangsung tiga bulan sampai tiga tahun. Dari 80 pasien yang dirawat, beberapa sudah kembali ke keluarga dan masyarakat. Bahkan, ada yang telah menjadi guru serta menggunakan terapi ini untuk menyembuhkan orang lain yang bernasib sama.(BOG)
Terpopuler