Sukses

Kampung Pekojan, Potret Keharmonisan Etnis Tionghoa dan Arab

Liputan6.com, Jakarta - Etnis Tionghoa dan Arab sudah berkelindan dengan masyarakat pribumi sejak lama di Jakarta. Ada kisah sedih, perang, cinta dan kebinekaan, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dua etnis yang kerap dianggap berseberangan itu ternyata begitu harmonis dalam beragama. Mereka tak saling mengganggu atau menghujat. Malah mereka saling melindungi dan bahu-membahu melawan penjajah.

Pekojan, Jakarta Barat, menjadi saksi sejarah keharmonisan itu. Bukti kasih sayang, saling menghormati, kebersamaan, dan saling toleransi kedua etnis itu tersimpan abadi.

Liputan6.com baru-baru ini menyusuri Pekojan yang persis berada di samping Kali Angke. Sebuah surau atau masjid kecil bernama Langgar Tinggi tersamarkan oleh bangunan-bangunan sekitarnya.

Sekilas jika kita melewati Jalan Bandengan​ Selatan, Langgar Tinggi hanyalah bangunan tua hampir roboh. Dinding batu di lantai satu dan jendela-jendela kayu di lantai dua itu sudah kusam.

Bahkan, bangunan tua dengan atap bergaya Tiongkok genteng merah itu akan terlewatkan jika kita tak cermat memperhatikan. Apalagi truk-truk besar yang bongkar muat barang setiap saat berseliweran di kawasan ini.

Langgar Tinggi yang dibangun pada 1829 Masehi itu merupakan saksi bisu betapa etnis Tionghoa dan Arab bergandengan erat melawan penjajah.

Bukti keharmonisan etnis Tionghoa dan Arab juga terlihat di sekitar Langgar Tinggi, yakni Jembatan Kambing. Jembatan ini sangat bersejarah bagi kaum Arab Pekojan.

Jembatan yang menghubungkan antara Jalan Bandengan Selatan dengan Pekojan Raya itu tak berubah selama lebih dari satu abad. Di sekitar jembatan ini memang bau kambing, karena selalu ramai penjual kambing. Di ujung jembatan ini juga terdapat gerbang Masjid​ Jami Annawier.

Wakil Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Ariko Andikabina mengatakan, Langgar Tinggi bukan saja bagian atap yang dipengaruhi gaya arsitek Tionghoa, tapi juga bentuk bangunan interiornya.

"Memang atapnya dipengaruhi oleh Tiongkok, tapi kita tak bisa mengesampingkan hal lainnya. Ornamen, dinding, ukiran, dan ciri bangunan lainnya," ujar Ariko saat dihubungi Liputan6.com di Jakarta.

Jika khas Tiongkok berada di atapnya, unsur arsitek Arab mengisi pola bangunan. Dinding bangunan langgar terdiri atas susunan khas bata merah, yang dipoles dengan warna krem.

Bahkan, dekat mihrab langgar terdapat plakat penghargaan: Bangunan Berlanggam Tionghoa 2016 dari Kelompok Pencinta dan Pemerhati Bangunan Tua Nusantara (Kecapi Betara).

Ariko menyebutkan Langgar Tinggi adalah satu di antara bukti nyata keharmonisan etnis Tionghoa dengan Arab yang tersisa di Jakarta. Di Ibu Kota hanya ada dua masjid besar serupa. Satunya berada di kawasan Sudirman, yang tenggelam oleh gedung-gedung tinggi.

"Kalau musala atau langgar-langgar kecil banyak di Jakarta, tapi kalau yang besar, ya cuma dua itu. Selebihnya hal serupa ada di Palembang," kata Ariko.

Sementara, seorang keturunan Arab yang berpengaruh di Pekojan Dikki Basandid mengatakan, etnis Arab dan Tionghoa di kawasan tersebut selalu bersatu dalam kerukunan dan saling menghargai.

Dikki menyebutkan, dari cerita leluhur yang ia dapatkan secara turun-temurun, arsitektur Langgar Tinggi memang dipengaruhi etnis Tionghoa.

"Dulu, ujung jalan itu merupakan penghubung jalan ke perkampungan Tionghoa, jadi kawasan itu tempat menyelundupnya pejuang dari kami (etnis Arab) dengan dari China Glodok, mereka berjuang demi kemerdekaan, bahu-membahu," ungkap Dikki, saat berbincang dengan Liputan6.com di Pekojan, baru-baru ini.

Demi mengadu domba, pemerintah kolonial Belanda sengaja memisahkan masyarakat Tionghoa dan Arab saat itu. Keturunan etnis Tionghoa di Glodok, sementara Arab di Pekojan.

Namun, usaha itu sia-sia. Masyarakat Tionghoa dan Arab justru secara diam-diam menggalang kekuatan. Mereka bersatu padu melawan Belanda demi kemerdekaan negeri ini.

1 dari 3 halaman

Kebinekaan

Huub de Jonge dalam esai "Sebuah Minoritas Terbelah, Orang Arab Batavia" di buku Jakarta Batavia menyebutkan etnis Arab dan Tionghoa digolongkan sebagai Vreemde Oosterlingen, Timur Asing.

Menurut Huub, orang yang masuk dalam kategori ini menyandang status resmi "setara" dengan golongan pribumi (Inlanders). Dalam beberapa hal mereka tunduk pada peraturan perundang-undangan tersendiri dari Belanda.

Tujuan pembedaan dalam peraturan perundang-undangan ini, kata Huub, adalah untuk melindungi golongan pribumi dari pengaruh berbahaya.

Karena alasan itulah, Huub melanjutkan, para imigran diwajibkan tinggal di kampung tertentu hingga 1919, dan tak diperbolehkan meninggalkan kampungnya tanpa izin hingga 1914.

Sistem permukiman dan perizinan ini membuat ruang gerak warga imigran tak bebas. Karena sebagian besar adalah pedagang, maka hal ini mengganggu bisnis mereka.

Dalam tulisan itu, Huub juga menyebut ada indikasi sangat kuat bahwa etnis Arab didiskriminasikan lebih ketat, ketimbang anggota kelompok minoritas lainnya.

Peneliti asal Belanda, Remco Raben, dalam esainya berjudul "Seputar Batavia" menyatakan dua etnis ini dan bahkan etnis lainnya melawan dan menolak sistem ini.

Batas-batas etnis yang diakui secara resmi oleh masing-masing kelompok etnis, tak pernah ditegaskan oleh etnis-etnis tersebut.

Remco menyebut mereka lebur dengan pribumi dan membuat mereka tak lagi berbeda. Hanya ciri fisik yang tak mampu mereka ubah. Namun, mental dan persaudaraan sebagai korban senasib, dijajah. Mereka pun bersatu.

"Jadi, kalau bicara kebinekaaan, di Pekojan sudah lama itu ada, hingga kini itu tetap terawat dan terjaga. Meski belakangan politik kita enggak sehat, kami tetap akan saling mengormati dan menghargai," kata Dikki Basandid, yang juga guru agama di Pekojan ini.

2 dari 3 halaman

Cikal Bakal Perlawanan Intelektual

Nuansa kebergaman, khususnya etnis Arab dan Tionghoa di Pekojan, memang cukup terasa. Tak jauh dari Langgar Tinggi, di sebuah gang kawasan Pekojan, hio berwarna merah terbakar di depan patung dewa.

Sudah menjadi pemandangan lazim sehari-hari para kaum muslim yang hendak menuju ke Langgar Tinggi, disambut aroma hio yang menyengat.

Pekojan, sebuah kampung Arab yang tak lagi ramai dihuni etnis Arab. Perkampungan yang dulunya tempat mula pendidikan modern di Batavia itu kini hanya menyisakan bangunan berupa gudang-gudang. Truk-truk besar silih berganti bongkar muat di kawasan ini.

Pekojan, konon berasal dari bahasa Koja, suku kata untuk sebutan bagi pendatang Gujarat dan juga dipakai untuk menyebut orang-orang yang berasal dari pesisir Coromandek dan Malabar.

Deliar Noer dalam bukunya soal Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942 mencatat Pekojan asal mula pemberontakan secara intelektual.

Puluhan orang di Pekojan menyusun siasat mereka mendirikan perkumpulan Jamiat Kheir, yang kelak jadi cikal bakal Muhammadiyah dan berbagai lembaga pendidikan modern.

Namun, kini Pekojan hanya satu dari sekian lokasi permukiman di Jakarta yang tak lagi membatasi orang sesuai suku, ras, agama, kepercayaan, dan pilihan politiknya.

Sesuai dengan pemberontakan etnis Arab di Pekojan, mereka tak mau tunduk pada kekuasaan yang mengotak-ngotakkan masyarakat sesuai dengan ciri fisik, agama, ras, dan sukunya.

 

Artikel Selanjutnya
2 Harapan Fahri Hamzah ke Pemerintah soal Mudik Lebaran 2017
Artikel Selanjutnya
Tenda Jemaah Haji Indonesia di Mina Miliki Pendingin Udara Baru