Sukses

Badan Bahasa Gelar Lokakarya untuk Pemutakhiran KBBI 5

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai buku yang memuat kumpulan kata, istilah, atau nama beserta definisinya, kamus memiliki arti penting bagi masyarakat. Kamus dijadikan buku rujukan, sumber referensi, bahkan alat pendokumentasian sejumlah kosakata dalam sebuah bahasa.

Untuk itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Lokakarya Pemutakhiran Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di aula Gedung Samudra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Rawamangun, Jakarta, pada 31 Maret 2017.

Seperti yang disampaikan Kepala Bidang Pengembangan, Dr Dora Amalia, lokakarya ini bertujuan agar masyarakat dapat memberikan saran dan perbaikan untuk KBBI edisi 5 sebelum dicetak secara massal. Sebelumnya, KBBI edisi 5 telah diluncurkan dalam bentuk aplikasi daring (online) pada Oktober 2016 lalu.

“Kita berharap anggota masyarakat, terutama pakar bahasa dan berbagai bidang ilmu, dapat memberikan masukan bagi KBBI edisi 5 ini,” kata dia.

KBBI sejak awal kemunculannya sudah mengalami banyak perkembangan hingga saat ini. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kelima versi daring, sejumlah perbaikan dan penyempurnaan dilakukan oleh tim penyusun. Sejak edisi pertama terbit pada 1988 dan memiliki 62.000 lema, pada 2016 ini KBBI V telah memiliki 127.036 lema.

Lokakarya ini turut mengundang sejumlah panelis dari berbagai bidang yang memaparkan saran dan usul terkait masalah kamus dan kebahasaan. Mereka adalah Hasan Ashapani (penyair, jurnalis, penulis), M Djoko Yuwono (penulis, pegiat sosial dan budaya), Pendeta Daniel Budiman (rohaniwan GKI Depok), Junayah HM (pemerhati bahasa), Relly Komaruzaman (pemerhati bahasa), dan Totok Suhardijanto (akademisi FIB UI).

Dalam pemaparannya, Hasan Ashapani mengapresiasi
dilaksanakannya lokakarya ini. Baginya, kata-kata berperan sebagai pendukung imaji. Oleh karena itu, definisi yang tepat diperlukan untuk membantu pengguna kamus memahami sebuah kata.

“Kamus saya ibaratkan sebagai peta. Mungkin (definisinya) tidak akan persis seperti keadaan asli, tapi cukup mewakili keadaan bahasa sebenarnya. Sebagai peta, kamus digunakan untuk menentukan titik awal keberangkatan dalam menulis sebuah puisi,” ia menjelaskan.

Di sisi lain, Pendeta Daniel Budiman mencatat hanya ada 93 entri istilah dalam bidang agama Kristen di KBBI. Ia menilai ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan menyampaikan sesuatu.

Tak hanya itu, Pendeta Daniel juga mengkritik definisi istilah-istilah dalam agama Kristen yang dinilainya kurang tepat. “Adven misalnya, di KBBI hanya ditemukan satu aspek saja, yaitu aspek peringatan. Padahal, dalam agama Kristen ada aspek kedua, yaitu pengharapan, yaitu penantian kedatangan Yesus kembali pada akhir zaman,” ia menjelaskan.

Panelis lain, Totok Suhardijanto mengapresiasi lahirnya KBBI 5 versi daring. Namun, ia melihat kamus ini perlu mendapat beberapa penyempurnaan. Salah satunya, menurut dosen linguistik UI ini, karena KBBI 5 daring ini kurang ramah pada pengguna awam. Informasi pemakaian kamus, seperti yang terdapat dalam kamus konvensional, tidak ada.

“Ada fitur bantuan (help), tapi lebih fokus pada usulan. Selain itu, di KBBI 5 tidak ada daftar singkatan.
Contohnya, kita lihat entri ‘tse-tse’ yang terdapat singkatan ‘Ukp’ dan ‘Tsw’. Ini tentu membingungkan pengguna awam,” ucapnya. Totok menambahkan, contoh-contoh pemakaian di setiap entri juga harus dilengkapi, termasuk etimologi kata.

Artikel Selanjutnya
5 Bahasa Asing Tersulit di Dunia
Artikel Selanjutnya
Bahasa Jawa Punah Bila Tidak di Selamatkan Lewat Karya Sastra