Sukses

Sinergi, Modal Kementerian PU-PR Mengelola Air Sungai

Liputan6.com, Jakarta Memperingati Hari Air Dunia, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mengadakan acara yang bertajuk “Air dan Air Limbah”, Minggu, (26/3/2017). Acara yang bertepatan saat Car Free Day (CFD) ini, dipadati oleh masyarakat yang sedang berolahraga di jalan Sudirman, Thamrin.

“Acara ini sudah setiap tahun kami (Kemen PU-PR) rayakan. Dengan tema tersebut, kami sangat peduli mengenai kualitas dan kuantitas air demi kehidupan masyarakat,” ujar Imam Santoso, Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Mengenai acara tersebut, Imam melanjutkan, masyarakat bisa diberikan pemahaman mengenai pentingnya air bagi sumber kehidupan. Selain itu dengan adanya acara ini, akan membangun rasa kepedulian masyarakat terhadap penggunaan dan pengelolaan air.

“Menjaga air merupakan tanggung jawab bersama. Sebagai contoh, Kali Ciliwung yang terkenal kotor, belum bisa dimanfaatkan airnya untuk keperluan sehari-hari. Untuk itu, kita harus jaga dan peduli terhadap kali tersebut,” ujar Imam.

Ia melanjutkan, tak hanya masyarakat yang belum sepenuhnya menyadari pentingnya air bagi kehidupan. Pelaku industri atau home industri terkadang membuang limbahnya ke sungai. Hal itu justru merusak lingkungan dan air menjadi tercemar.

“Justru itu, kami akan mengawasi terhadap pelaku industri agar tidak membuang limbah ke sungai,” ujar Imam.

Hal yang sama disampaikan oleh Lolly Martina Martief, Ketua Umum Tim Pelaksana Panitia Nasional Hari Air Dunia 2017. Ia mengatakan masih banyak masyarakat atau pelaku industri yang belum memahami pentingnya air bagi masyarakat.

Untuk itu, ia menyampaikan saat ini Kementerian PU-PR berkerjasama dengan komunitas peduli sungai agar bisa membantu pemerintah. Komunitas-komunitas itu pun sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

“Ada 100 komunitas peduli sungai yang terdaftar di Kementerian PU-PR. Hal itu justru dapat membantu pemerintah untuk menjaga kualitas air di sungai,” ujar Lolly.

Ia melanjutkan, dengan adanya komunitas-komunitas tersebut, pemerintah sangat terbantu. Maka dari itu, mereka diundang untuk diberikan apresiasi dalam acara ini, yaitu diberikan piagam atas kerja keras mereka melindungi sungai.

“Komunitas-komunnitas itu ada yang datang dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jombang,” imbuh Lolly.

Ia juga memaparkan, ke depannya tak hanya komunitas peduli sungai saja yang dapat membantu, tetapi diharapkan komunitas-komunitas lainnya untuk menjaga dan melindungi sungai, seperti komunitas waduk.

Kementerian PU-PR memberikan piagam bagi komunitas peduli sungai terhadap kontribusi dalam menjaga sungai

Tak hanya komunitas saja, Kemen PU-PR, Lolly menjelaskan, ada kerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia untuk memberikan edukasi mengenai air baku . Melalui teori, mereka tergabung dalam komunitas sekolah sungai. Nantinya, dengan adanya kegiatan tersebutm akan menularkan sisi positif ke semual lapisan masyarakat.

“Sekarang sudah ada 15 perguruan tinggi yang bekerjasama dengan kami mengenai sekolah sungai tersebut,” ujar Lolly.

Di sisi lain, salah satu komunitas yang hadir dalam acara tersebut adalah Brantas Berdaya. Komunitas dari Jombang itu merasa sangat terbantu akan akomodasi dari pemerintah.

“Pemerintah tidak bisa sendirian dalam mengelola sungai. Maka dari itu, harus ada kerjasama dengan warga setempat, seperti bekerjasama dengan komunitas laiknya kami,” ujar Amik Purdinata, Ketua komunitas Brantas Berdaya.

Ia melanjutkan, dengan adanya komunitas peduli sampah, bisa mengedukasi masyarakat yang belum paham mengenai pengelolaan sungai. Dengan berbagai kegiatan seperti sekolah sungai, membuat kerajinan tangan dari limbah sungai, dan membuat tanaman hidroponik.

“Kami kerap mengikutsertakan warga setempat dalam kepedulian sungai, seperti mengajak ibu PKK dalam membuat kerajinan tangan dari limbah sungai. Selain itu juga ada kegiatan sekolah sungai brantas yang bisa mengedukasi warga sekitar,” imbuh Amik.

Kegiatan, lanjut Amik, dengan kegiatan positif yang dikerjakan komunitasnya tersebut, masyarakat akan semakin ter-edukasi terhadap kepedulian sungai. Selain itu, akomodasi dari pemerintah menjadi modal penting yang berarti komunitas ini diperhatikan oleh pemerintah.

 

 

Artikel Selanjutnya
Tekan Kebiasaan Buang Sampah di Sungai dengan Bank Sampah
Artikel Selanjutnya
Limbah Jadi Berkah ala Pelajar SMP di Brebes