Sukses

Mengusut Tragedi Lift Jatuh Usai Jumatan

Liputan6.com, Jakarta - Usai salat Jumat, Abdul melangkahkan kaki menuju toilet untuk menunaikan hajatnya. Namun di tengah perjalanan, kakinya terhenti saat ia mendengar suara dentuman keras yang berasal dari dalam lift.

Sontak, pedagang di lantai basement pusat perbelanjaan Blok M itu kaget bukan kepalang. Keinginan untuk buang hajat pun diurungkan. Dia langsung bergegas menuju sumber suara. Ternyata suara keras itu berasal dari lift yang jatuh.

Tiba di lokasi, ia bersama pedagang lain berusaha membuka pintu lift secara paksa. "Langsung paksain aja buka pintunya. Orang-orang di dalam lift langsung kita keluarin," cerita Abdul, Jumat 17 Maret 2017.

Menurut kesaksian korban, Topo, saat kejadian suasana lift kondisinya penuh. Para pengguna saling dorong untuk dapat masuk ke dalam lift tersebut. "Liftnya penuh, overload. Begitu semuanya masuk, lift langsung ke bawah, langsung turun," ungkap dia.

Saksi mata lainnya, Endang Supriyatno menuturkan, kejadian mendebarkan itu berlangsung singkat yakni hanya 20 detik. Meski hanya terkilir, ia mengaku masih beruntung ketimbang lainnya yang tertimpa atap lift.

"Kayaknya kaki saya kebentur ini. Masih ngilu-ngilu gitu. Kalau saya sih, saat jatuh masih berdiri. Soalnya saya kan di depan. Nah yang belakang itu kayaknya ada yang ketiban atap, belakang. Atap belakang lift jatuh itu kan langsung roboh gitu," beber Endang.

1 dari 4 halaman

Abaikan Alarm

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Husein Murad yang meninjau langsung lokasi jatuhnya lift mengatakan, penyebab lift jatuh lantaran kelebihan muatan. Pasalnya, ketika itu alarm lift telah berbunyi.

"Iya sudah bunyi, menurut saksi tadi jadi lift tidak menutup. Memang masyarakat penumpang yang memaksa sekali untuk tetap bertahan dalam lift. Harusnya ketika bunyi kan ada yang keluar," kata Husein di Blok M Square, Jakarta Selatan.

Menurut Husein, lift nahas itu tidak langsung terjun ke lantai Basement Blok M Square. Melainkan sempat berhenti di lantai 3 untuk menurunkan menumpang. Hanya saja setelah dari lantai 3, lift langsung merosot ke basement.

"Lantai 7 belum, tapi dari lantai 3 itu. Dari lantai 7 penuh terus turun 'krek-krek', nah baru dari lantai 3 merosot," ucap dia.

Akibat kejadian tersebut, 24 orang menjadi korban lift jatuh. Mereka dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Dari total korban, 11 di antaranya dijadwalkan menjalani operasi Jumat malam.

"Total ada 24 pasien yang masuk di RSPP, jadi ada lima pasien yang diobservasi dan melakukan perawatan. Sebelas pasien akan melakukan operasi malam ini," kata Kepala Manajemen Bisnis RSPP Indra Maulana yang ditemui di RSPP Jakarta Selatan.

Indra juga menuturkan, korban yang dibawa ke rumah sakit pada umumnya mengalamai patah tulang akibat terjun bebas dari lift yang berada di Lantai 7 Blok M Square.

"Pasien yang dirawat rata-rata mengalami patah tulang," tutur dia.

2 dari 4 halaman

Semua Bertanggung Jawab

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono berpendapat semua pihak bertanggung jawab atas insiden anjloknya lift di Blok M Square, Jakarta Selatan, termasuk pihak manajemen mal.

"Semua pihak dimintai pertanggungjawaban. Karena posisinya di Blok M Square, nanti ada pembahasan internal. Termasuk di dalamnya Agung Podomoro sebagai penanggung jawab lift. Karena kawasan pada Pasar Jaya, mereka juga ikut pembahasannya," kata Sumarsono di kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan, Jumat (17/3/2017).

Menurut Sumarsono, kejadian ini merupakan musibah dan tidak ada unsur kesengajaan. Mewakili Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ia juga menyesalkan kejadian tersebut.

"Namanya musibah tak bisa dihindari. Yang penting, alhamdulillah semuanya selamat, tak ada korban meninggal," ucap pria yang akrab disapa Soni ini.

Untuk mengungkap penyebab secara pasti, Tim dari Pusat Labolatorium Forensik (Puslabfor) Polri melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lift bernomor lima tersebut.

Pantauan Liputan6.com, Sabtu (18/3/2017, ) petugas mulai bekerja sekitar pukul 15.00 WIB. Mereka melakukan pengecekan mulai dari ruangan teratas tempat kendali kabel lift jatuh itu.

Mulai dari mesin operasi, kabel, tegangan daya, hingga struktur dukungan penyangga lift diperiksa. Mereka juga mengambil gambar demi kepentingan dokumentasi penyelidikan.

Usai dari lantai paling atas yang juga merupakan lokasi Masjid Nurul Iman, petugas menyisir setiap pintu lift mulai dari lantai 7 hingga basement. Garis polisi yang melintang di depan pintu lift dibuka sementara untuk melihat kondisi lorong lift dan kemudian dilekatkan kembali.

"Ini posisi setiap lantai begini?," ujar salah satu petugas sambil melihat posisi tombol lift.

 

3 dari 4 halaman

Beban Berlebih

Namun begitu, Penyidik Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan memiliki dugaan tersendiri atas kejadian tersebut. Kecelakaan itu ditengarai akibat kelebihan muatan. Sebab saat terjadinya musibah, ada 25 orang berada di lift nahas tersebut

"Tapi saat ini overload ada 25 orang artinya diduga karena overload," kata Kepala Satuan Resere Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Budi Hermanto di Blok M Square, Jakarta Selatan, Jumat (17/3/2017).

Menurut dia, lift jatuh tersebut memiliki daya angkut sebesar 1.600 kg dengan kapasitas maksimal 24 orang. Namun, pada saat musibah terjadi lift tersebut bermuatan 25 orang. "Artinya, tiap orang 68-70 kilogram," tambah Budi.

Bahkan dari keterangan saksi, kata dia, lift tersebut sudah memberikan tanda peringatan. Artinya, sudah ada warning lift tersebut sudah kelebihan beban.

"Kita melihat adanya warning di lift suara alarm. Kedua ada peringatan pintu tidak tertutup secara utuh, ketiga kalau enggak ke tutup kenapa tetap meluncur ke bawah ke lantai 3 baru jatuh ambruk ke lantai basement," terang Budi.

Untuk mengusut kejadian lift jatuh ini, pihaknya membawa barang bukti salah satunya adalah data dokumentasi perawatan dari lift bernomor lima tersebut.

"Sementara barang bukti kita masih mem-police line tempat kejadian perkara. Terus kita ada mengamankan kemarin beberapa dokumen terkait dengan perawatan lift tersebut," dia, Sabtu (18/3/2017).

Sejauh ini, polisi sudah mengambil keterangan lebih kurang 7 orang. Mereka adalah pihak pengelola, pihak manajemen, dan pihak engineering. "Mungkin hari Senin kami akan lakukan pemeriksaan estafet kembali sekitar 7 orang lagi," kata Budi.

Menurut Budi, ketujuh saksi tambahan tersebut terdiri dari korban, pihak manajemen, pihak pengelola, termasuk produsen dari lift itu sendiri. "Kami akan melakukan pemeriksaan secara intensif kembali," jelas Budi.

General Manager Operasional Blok M Square Darma Wallad menyampaikan, kalau soal perawatan, pihaknya sangat yakin dengan keprofesionalan para pekerja di sana. Semua sudah sesuai aturan dan standar prosedur operasi.

"Ada schedule-nya. Kami bisa mempertanggungjawabkan itu dan semuanya kami ikuti seluruh persyaratan dari Depnaker dan secara teknis dari pemegang merek. Rutin pasti (perawatan lift)," beber Darma.

 

 

Artikel Selanjutnya
Polri: Angka Kecelakaan Arus Mudik 2017 Menurun
Artikel Selanjutnya
Wakapolri: Medan Memang Daerah Merah, Patut Diwaspadai