Sukses

Makna di Balik Gerak Simbolis Tukang Benjang

Liputan6.com, Jakarta - Benjang merupakan salah satu tradisi yang tumbuh di kawasan Bandung Timur, Jawa Barat. Tradisi yang berkembang sejak akhir abad ke-19 ini kini masih dihelat di sejumlah tempat yang dahulu masuk Karesidenan Ujungberung.

Seperti umumnya kesenian tradisional, tiap gerakan merupakan simbol. Simbol ini dikomunikasikan antarsesama tukang benjang atau tukang benjang dan penonton. "Aya maknana (ada maknanya)," kata Abdul Gani, Ketua Paguyuban Benjang Jawa Barat, kepada Liputan6.com, Jumat, 10 Maret 2017.

Namun, tak sembarang orang bisa menangkap makna dari simbol tersebut. Ini membuat, simbol yang dikomunikasikan antarpebenjang tak semuanya bisa dimengerti penonton.

Gani mencontohkan gerak ibingan atau tarian yang menjadi pembuka sebelum pertandingan dimulai. Saat ngibing (menari), tukang benjang akan menutup wajah dan mengacungkan jari telunjuk ke atas.

Dua Anak Laki-Laki Menari Sebelum Pertandingan Benjang (Liputan6.com/Balgo Marbun)

Gerakan ini berarti mencari lawan tanpa harus melihat bagaimana bentuk lawannya. "Karena kalau di benjang, lawan biasanya enggak seukuran. Bisa lebih gede atau lebih kecil," kata Gani menjelaskan.

Setelah menari dan ada lawan yang tertarik untuk bertanding, kata Gani, tukang benjang akan saling taksir. Saling taksir ini akan memicu penonton berteriak meminta pertandingan segera dilaksanakan.

"Peusek, peusek (buka, buka)," Begitu biasanya penonton berteriak meminta tukang benjang membuka baju dan memulai pertandingan. Teriakan ini akan dibarengi suara kendang yang semakin kencang bertalu-talu, dan suara terompet yang kian kencang.

Begitu pertandingan dihelat, sejumlah gerakan simbolis kedua muncul. Gerakan ini merupakan teknik benjang kembali muncul. Seperti tangkeupan (merangkul), beulitan (membelit).

Beulitan Merupakan Teknik Benjang untuk Menahan Tenaga Lawan (Liputan6.com/Balgo Marbun)

Menurut Gani, gerak teknik benjang tak sekadar gerakan. Tiap gerak punya fungsi menahan, melawan, hingga memanfaatkan tenaga lawan. Gani menjelaskan, teknik gerakan tersebut tak ditujukan membuat lawan cedera. Sebab, benjang merupakan permainan yang memanjangkan silaturahmi.

"Walaupun kita sering bertanding, tapi enggak jadi musuh," kata Gani.

Gerakan terakhir, kata Gani, yakni milang bentang (menghitung bintang). Milang bentang merupakan posisi yang terjadi saat seorang pebenjang telentang setelah dikalahkan lawan.

Milang bentang, kata Gani, menyimbolkan sikap menerima sekaligus optimistis. Sebab, kata dia, petarung yang telentang akan melihat ke langit yang sangat luas. Gani menyebut, dalam keluasan langit itu terkandung pemahaman untuk selalu berusaha. "Kan kita ngeliat ke atas yang luas, artinya carilah ilmu terus."

Dua Tukang Benjang Berlatih Saat Senja (Liputan6.com/Balgo Marbun)

Tapi, milang bentang tak hanya berlaku untuk yang kalah. Gerak simbolik ini juga berlaku untuk yang menang. Pemenang yang telungkup di atas tukang benjang yang kalah, tanpa sadar mengarahkan wajahnya ke tanah dan lawan yang terlentang.

Posisi ini, disebut Gani, menyimbolkan sikap untuk tidak pernah sombong. Sebab, sekuat-kuatnya pemenang, akan kembali ke asal, yakni ke dalam tanah. Sehingga pemenang harus tetap bisa menahan diri dan bersikap terus menghormati yang kalah.

"Harus bersih hate, handap asor," kata Gani menutup cerita tentang benjang.

 

Artikel Selanjutnya
Tradisi Unik Sambut Penyembelihan Hewan Kurban di Ternate