Sukses

Mengenal KH Soleh Iskandar, Ulama Pejuang Revolusi dari Bogor

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian warga Bogor, Jawa Barat, mungkin hanya mengenal nama KH Sholeh Iskandar sebagai sebuah nama jalan. Padahal, peran laki-laki kelahiran Pasarean, Cibungbulang, 22 Juni 1922 itu dalam berjuang melawan penjajah dan berdakwah agama Islam sangat besar.

Di kemudian hari, Mayor TNI AD Sholeh Iskandar memang lebih dikenal sebagai kiai haji dibanding veteran pejuang.

Pada masa revolusi, Indonesia adalah negara baru merdeka. Indonesia belum memiliki apa-apa, terutama di bidang kemiliteran dan persenjataan. Kemudian rakyat mulai membuat badan perjuangan yang disebut Laskar.

Laskar-laskar ini digagas dari berbagai elemen masyarakat. Ada yang dari ulama, aktivis, simpatisan partai hingga jawara dari tiap kampung dan desa. Edi Sudarjat, penulis Bogor Tempo Dulu, mencatat Bogor menjadi salah satu kota yang membentuk laskar pada masa revolusi.

"Laskar digagas oleh siapa saja yang mau. Ada ulama, ada aktivis dan simpatisan partai, seperti dari Laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo). Ada juga jagoan kampung seperti Laskar Berani Mati, Setan Gundul dan Begundal Krawang. Siapa saja yang berani, mau mengumpulkan teman-teman dan senjata, tentu bisa bikin laskar," tuturnya kepada Liputan6.com, Senin (13/3/2017).

Satu dari sekian banyak laskar di Bogor adalah Laskar Rakyat Markas Perjuangan Rakyat Leuwiliang (MPRL) yang dikomandoi oleh Mayor Sholeh Iskandar. "Laskar mematuhi dektrit Presiden Sukarno pada 20 Mei 1947 untuk digabungkan ke dalam TNI," tutur Edi Sudarjat.

Laskar MPRL dan Batalyon Hizbullah berganti nama menjadi Batalyon IV dan kemudian menjadi Bataylon O, Tirtayasa, Siliwangi.

Lawan Negara Boneka

Di laskar inilah peran Mayor Sholeh Iskandar mencuat. Di bawah pimpinannya, Batalyon O, mengawal pemerintah RI Bogor yang terpaksa mengungsi ke Desa Jasinga, kemudian ke Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, yang jaraknya sekitar 50 kilometer.

Pada waktu itu, Kota Bogor dikuasai oleh pemerintah Negara Pasundan, yakni negara boneka yang dibentuk pada masa pemerintahan kolonial. Batalyon O kemudian bertugas melindungi dan membangun organisasi pemerintahan Republik bersama R. Ipik Gandanama yang ditunjuk sebagai Bupati Bogor RI pada 1948.

Meski demikian banyak jasanya, tidak banyak orang yang mengenal kehebatan Sholeh Iskandar saat saat memimpin Batalyon O. Musababnya, Sholeh Iskandar mengundurkan diri dari TNI karena merasa perjuangannya di militer sudah usai.

"Sholeh mengundurkan diri dari ketentaraan karena merasa perjuangan militer sudah selesai. Dia bersama ribuan ulama lain mengangkat senjata karena ingin bangsa Indonesia merdeka," ujar Edi Sudarjat.

1 dari 3 halaman

Jadi Tahanan Orde Baru

Setelah pensiun sebagai tentara, Sholeh tak berpangku tangan. Bersama para ulama lainnya, ia bergerak mengurusi dakwah dan bidang pendidikan.

Sholeh Iskandar menjadi salah seorang pendiri Legiun Veteran RI (LVRI) pada 1957 dan sempat diangkat sebagai sekretaris jenderal serta Ketua II Badan Pekerja (BP) LVRI.

Sebelumnya, ia mendirikan organisasi Persatuan Bekas Anggota Tentara (Perbata) pada 1953, lalu dipilih menjadi Ketua Umum Persatuan Pejuang Islam Bekas Bersenjata Seluruh Indonesia (1954). Pada masa Orde Baru, Sholeh Iskandar menolak untuk diangkat sebagai menteri urusan veteran. Menurut Sholeh, ia tidak mencari jabatan. Ia hanya ingin mengabdikan dirinya kepada masyarakat.

"Dia tidak mencari jabatan. Semua jabatan di pemerintahan ditolak. Dia ingin mengabdi kepada masyarakat," kata Edi.

Mayor Sholeh Iskandar juga sempat ditunjuk sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Serikat Tani Islam Indonesia selama 18 tahun, yakni 1952-1970. Ia juga menjadi anggota Pimpinan Pusat (PP) Masyumi pada 1959-1960. Pada 1962-1966 Mayor Soleh Iskandar dipenjara lebih dari tiga tahun karena dituduh kontra dengan revolusi.

Pada Orde Baru, Mayor Soleh Iskandar dipenjara lagi karena dianggap dirinya memiliki kemampuan dan intergritas dalam memobilisasi kekuatan politik untuk menentang kesewenang-wenangan pemerintah. Tidak hanya dirinya, beberapa pegurus Partai Masyumi, yakni partai Islam terbesar di Indonesia dan dunia pada periode 1945-1960 juga terseret dalam masa pemerintahan Soeharto.

"Pemimpin Masyumi punya keterampilan menggalang massa yang hebat, cerdas dan punya integritas," kata Edi.

Menurut Edi, pada 1956-1959, Partai Masyumi sudah membahas tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada saat perdebatan tentang dasar negara dan UUD RI. Hal ini pula yang membuat aparat pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah menghindari berhubungan dengan mantan tokoh Masyumi karena kebijakan “politik keamanan dan ketertiban” pada era Orde Baru.

2 dari 3 halaman

Prestasi-Prestasi KH Sholeh Iskandar

Meski demikian pentingnya jasa Sholeh Iskandar, hingga kini beliau belum diangkat sebagai pahlawan nasional. Dalam bukunya, Edi Sudarjat mengemukakan ini karena jasanya tak banyak diketahui. Apalagi KH Sholeh Iskandar senantiasa bersikap rendah hati serta menghindari perilaku membangga-banggakan diri, sombong, dan pamrih atau kurang bersih dalam niat.

Padahal, ujar Edi dalam peluncuran buku Bogor Masa Lalu di Universitas Indonesia, Depok, pada 8 Maret, 2017, prestasi KH Soleh Iskandar tidak hanya bersifat kedaerahan, tetapi juga nasional dan bahkan internasional.

Edi Sudarjat, penulis buku Bogor Masa Revolusi

"Dia komandan Batalion O yang punya peran penting dalam pergerakan Indonesia merdeka, salah satu pendiri LPPOM MUI, pendiri Rumah Sakit Islam Bogor, pendiri Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dan pendiri perusahaan karoseri pertama di Indonesia pada 1959 bernama PT Gunung Tirtayasa," tutur Edi Sudarjat.

Edi menjelaskan, KH Soleh Iskandar juga berperan dalam dunia pendidikan, seperti mendirikan Yayasan Pendidikan Darul Hijrah pada 1973 dan Pesantren Ulil Albaab pada 15 Juli 1987. Kemudian KH Sholeh Iskandar bersama KH Abdullah Maksum, KH Rifai Yasin mendirikan Pesantren Tahfizul Qur’an Manbaul Furqon di Karehkel, Leuwiliang, Bogor (1988), di atas tanah wakaf 1 ha dari H. Taufiq Rahman. Di tahun yang sama, KH. Sholeh Iskandar juga mendirikan Pesantren Darul Muttaqien di atas tanah wakaf seluas 1,8 ha dari H. Mohamad Nahar (alm.)

“Semua masih jalan (pondok pesantren). Ada yang berkembang pesat seperti Darul Muttaqin, ada yang lambat seperti Darul Fallah, Tarbiyatun Nisa, Tahfizul Qur'an, dan ada yang mati suri (tidak beroperasi) seperti Ulil Albaab. Ini karena yang dipercaya mengelola pesantren itu ogahmenguruso pesantren tersebut, malah plagiat dan korupsi pembangunan gedung,” kata Edi Sudarjat pada Senin, 13 Maret 2017. 

Pada 1958 KH Sholeh Iskandar mendirikan Museum Perdjoangan Bogor bersama rekan-rekannya di Jalan Cikeumeuh No. 28, sekarang menjadi Jalan Merdeka, Bogor. 

Dalam prestasi internasional, Sholeh Iskandar membangun perumahan modern Desa Pasarean, Pamijahan, dan Bogor pada 1950 yang mendapat penghargaan dari UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization/Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa), disebut sebagai desa modern pertama di dunia ketiga, yakni negara-negara yang baru merdeka setelah Perang Dunia II usai pada 1953.

"Selama ini tidak ada perumahan modern di desa, yang ada di kota atau pinggir kota. Tidak ada di negara-negara yang baru merdeka mikir bahwa perumahan modern itu harus dibangun di desa, para pemimpin kan mikirin kota, karena mereka dididik di kota. Pemerintah RI baru mendirikan perumahan modern di depok tahun 1976, itu pun bukan di desa, tapi di kota. Jauh ketinggalan dari Sholeh Iskandar," ujar Edi menegaskan. (Fitra Yunita)