by

Soposurung, Sekolah Unggulan di Pelosok Desa

  • Program Khusus
  • 0
  • 28 Jul 2010 19:40
Liputan6.com, Balige: Ayam jantan telah berkokok. Lembayung jingga, masih menggayut di bawah kaki langit di pinggir Danau Toba, danau terluas di Asia Tenggara. Bunyi pengeras suara memecah keheningan pagi, membuat dua ratus lima puluhan siswa asrama Soposurung terjaga di kamarnya masing-masing. Meski udara dingin, masih terasa di kaki bukit Dolok Tolong, tetapi tidak menyurutkan semangat para siswa, berlari ke lapangan untuk berolahraga.

Peluh keringat membuat sinar mentari pagi seakan tidak terasa. Para siswa pun kembali ke asrama untuk bersiap memulai pelajaran di sekolah. Mereka bergegas ke lapangan upacara. Bagi siswa yang terlambat, hukuman pun telah menanti. Pengawas asrama dari anggota marinir yang selalu bertidak tegas. Disiplin menjadi kunci utama hidup di sini.

Di asrama yang diisi sekitar 250 siswa pilihan hasil seleksi ketat dari sekitar 10 ribu siswa yang berminat. Para siswa asrama Soposurung ini bergabung bersama 680 siswa di SMU Negeri 2 Soposurung,  Balige. Disini, proses belajar mengajar diupayakan memenuhi kualitas internasional.

Sejak berdiri tahun 1992, beberapa guru didatangkan khusus dari luar negeri, seperti dari Singapura, Cina dan Australia. Siswa pun dibiasakan menggunakan bahasa Inggris. Keberadaan sekolah unggulan dengan kualitas internasional ini, bukan berada di tengah kota besar, melainkan di pelosok desa, di kota Balige, sekitar enam jam perjalanan dari Medan, ibukota Sumatra Utara.

Tidak heran jika menjadi siswa Soposurung menjadi impian banyak siswa, bahkan dari siswa Madrasah sekalipun. Tidak seperti sekolah umum lainya, keluar sekolah dan masuk asrama pun dilakukan dengan tertib. Kegiatan usai jam sekolah diisi dengan kegiatan ekstra kurikuler seperti klub buku, klub film, tempat berdiskusi masalah film dan proses pembuatannya atau klub kesehatan yang dibimbing dokter dari alumni Soposurung.

Jelang malam, denyut kegiatan di asrama tak berhenti, belajar bersama di aula pun kian menambah keakraban. Beberapa siswa lebih memilih belajar bersama di kamar mereka masing-masing dan tepat jam 11 malam, para siswa harus sudah tidur. Hari yang melelahkan ditutup dengan doa yang khusuk, ucap syukur bagi sang pencipta.

Keesokan harinya usai lelah seharian belajar, jam makan siang pun tiba. Secara tertib, para siswa memasuki ruang aula. Keletihan belajar di sekolah dan kegiatan asrama terbayar dengan menggunungnya nasi dan lauk pauk yang disantap siswa. Jika masih lapar siswa diperbolehkan mengangkat tangan untuk meminta tambahan nasi dan lauk.

Usai makan siang, pendiri asrama Soposurung, mantan menteri Pemberdayagunaan Aparatur Negara dan Penasehat Presiden, TB Silalahi, langsung memberikan motivasi pada siswa, khususnya siswa yang baru masuk asrama untuk tetap teguh berdisiplin. Sementara bagi orang tua siswa, rasa kebanggaan terbersit karena anaknya bisa diterima di asrama Soposurung. Jaminan pendidikan memadai diyakini bisa mengubah penghidupan keluarga mereka kelak.

Siswa di asrama soposurung berasal dari kalangan yang beragam. Seorang siswa yang bernama Dedi Simanjuntak misalnya. Dia berasal dari keluarga petani penggarap. Tinggal di rumah adat Batak sederhana. Itu pun statusnya masih mengontrak. Namun ijin keluar asrama untuk bermalam di rumah pun tetap disambut hangat oleh Dedi dan orang tuanya. Rasa percaya diri dan prestasi cemerlang di sekolah, membuat kedua orang tuanya ikut bersemangat memenuhi kebutuhan pendidikan putranya.

Harapan orang tua Dedi dijawab oleh sang anak dengan belajar giat dan membantu meringankan pekerjaan orang tua. Keinginan kuat untuk menjadi orang sukses telah terpatri kuat. Hidup berdisiplin di asrama membuat setiap waktu digunakan dengan baik.

Siswa kelas 3 yang akan menghadapi ujian masuk perguruan tinggi negeri pun memanfaatkan sebaik-baiknya waktu belajar mereka. Nilai penting pendidikan tampaknya sudah sangat disadari siswa dan alumni. Hal ini juga dapat disaksikan ketika melihat keseharian Theresia Aruan, seorang siswa asrama SMA Soposurung yang mendapat kesempatan untuk pulang bermalam di rumah orang tuanya di sudut desa yang tidak jauh dari kota Balige. Kegiatan pulang ini digunakan untuk membantu orang tuanya di rumah. Kebiasaan mandiri yang ditanamkan di asrama menjadi kebiasaan baik yang dilakukan di keluarga. Meski di luar asrama disiplin belajar tidak pernah ditinggalkan.

Sementara itu di asrama sendiri para siswa tengah bergotong royong membersihkan tempat tinggal mereka. Rupanya banyak tamu penting yang akan hadir melihat asrama mereka. Selain itu siswa baru kelas satu akan dilantik menjadi penghuni asrama. Dan hari yang dinantikan itu pun tiba, pelantikan siswa baru. Terasa istimewa karena banyak menteri yang hadir dalam acara ini, seperti Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Malarangeng, Menteri Perhubungan Freddy Numberi, Gubernur Sumatra Utara Syamsul Arifin dan tida ketinggalan bupati-bupati di kawasan Danau Toba serta pengusaha-pengusaha nasional.

Di lapangan derap langkah siswa baru sambil memegang sang merah putih, menandakan semangat belajar yang menggelora. Di Soposurung, untuk memacu motivasi belajar, siswa berprestasi diberi penghargaan khusus yang diberikan pejabat negara dan beberapa pengusaha. Sekolah yang berdiri sejak 18 tahun lalu telah banyak melahirkan siswa berprestasi. Selain di dalam negeri, banyak alumni Soposurung yang telah mengenyam pendidikan di luar negeri. Salah satunya Joseph Sihite, kandidat doktor Universitas Kyoto, Jepang.

Nilai-nilai penting telah coba ditanamkan sejak berdirinya SMA dan asrama Soposurung. Selain pendidikan formal, para siswa juga ditanamkan mencintai budaya, mulai dari budaya tradisional seperti tari tor-tor, sampai tari internasional seperti Dansa Waltz yang biasa dilakukan oleh raja-raja Eropa. Tidak segan-segan, pendiri Soposurung, TB Silalahi pun ikut berdansa bersama para siswanya.

Kepada para pejabat dan tamu lain para siswa juga mempertunjukkan kebolehan seni bela diri seperti dasar-dasar kungfu dan karate. Lengkapnya kemampuan yang dimiliki para siswa SMA yang letaknya di pelosok ini mendapat pujian dari para tamu yang hadir ketika itu.

Pemerintah Daerah Sumatra Utara pun langsung tergerak untuk memberikan bantuan senilai 1,5 milyar rupiah dan berencana membangun sekolah unggulan sejenis di daerah lain usai kunjungan mereka ke Soposurung. Perhatian besar dari pemerintah telah diberikan pada siswa-siswa yang belajar giat. Sekolah ini membuktikan bahwa untuk mencetak generasi bangsa yang unggul bisa dilakukan di kampung halaman kita sendiri. Yang dibutuhkan hanyalah kerja keras dan niat tulus untuk membangun generasi bangsa. Mudah-mudahan Soposurung bisa dijadikan "blueprint" bagi lahirnya sekolah-sekolah dan asrama bertaraf Internasional di daerah-daerah lainnya.(CHR/AYB)
Comments
Sign in to post a comment