Sukses

Pekojan, Saksi Bisu Kedatangan Bangsa Arab di Nusantara

Liputan6.com, Jakarta Batavia pada abad ke 18-19 menjadi tempat terbesar bagi populasi keturunan Arab yang hijrah dari Hadramaut, yaitu sebuah lembah di Yaman Selatan. Menurut dosen dan peneliti di Departemen Antropologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, Belanda memisahkan setiap orang berdasarkan suku dan etnis tertentu dengan membentuk kelompok.

Tidak terkecuali bagi etnis keturunan Arab yang menempati beberapa wilayah di Nusantara. Salah satunya kampung Arab di Pekojan, Jakarta Barat.

"Dulu zaman kolonial, Belanda mengisolasi orang-orang menurut grupnya (suku) agar mereka tidak berinteraksi. Misalnya orang Ambon, Bali, termasuk orang Cina dan Arab," kata Yasmine kepada Liputan6.com Selasa, 7 Maret 2017.

Keturunan Arab datang ke Indonesia sudah sejak lama, yakni sejak Islam masuk ke Nusantara. Ada tiga gelombang masuknya keturunan Arab ke Indonesia, yaitu gelombang pertama pada abad ke 7, abad ke-14 kedatangan Wali Songo, dan abad ke-19.

Pemerintah kolonial pada saat itu menetapkan kawasan Pekojan sebagai kampung Arab. Kawasan Pekojan berada tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, kira-kira berjarak 1,6 kilometer.

Kedatangan bangsa Arab ke Nusantara selain untuk berdagang, juga melakukan misi untuk berdakwah.

Menurut Yasmine, berdakwah yang dilakukan oleh orang Arab, yaitu dengan cara mengajar mengaji, membuka majelis taklim di tempat mereka berdomisi, berhijrah dari tempat satu ke tempat lainnya atau mendirikan pesantren. Banyak murid mereka menjadi ulama besar.

L. W. C Van Den Berg dalam buku Orang Arab di Nusantara (2010) mengungkapkan, orang-orang dari Jazirah Arab merantau untuk mengadu nasib. Pepatah Arab mengatakan, para keturunan Arab ini merantau demi mencari cincin Nabi Sulaiman yang kaya raya.

"Tujuan mereka berdagang, mereka sama seperti perantau pada umumnya, yaitu karena tujuan ekonomi, sama seperti orang Minangkabau misalnya. Sambil berdagang, mereka menyebarkan agama Islam seperti dengan cara berdakwah," tutur Prof. Yasmien

Hijrahnya keturunan Arab dari Hadramaut, negeri miskin di lembah Yaman Selatan ke Nusantara, didominasi keturunan sayyid atau habib. Ada perbedaan mendasar antara habib dengan sayyid.

Menurut Habib Zein bin Umar bin Smith, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Rabithah Alawiyah, dalam suatu wawancara dengan salah satu situs online, orang bergelar sayyid belum tentu seorang habib. Namun, seorang yang bergelar habib sudah tentu adalah keturunan Nabi.

Pendapat lain dikemukakan Quraish Shihab dalam Mistik, Seks dan Ibadah (2004). Quraish Shihab berujar, siapa pun boleh pakai nama habib selama ia dicintai. Sebab, habib dalam bahasa Arab artinya 'dicintai'. Namun, bagi masyarakat Muslim di Indonesia, gelar habib diberikan kepada orang saleh dan berbudi luhur serta memiliki garis keturunan hingga ke Rasulullah.

Jalan Condet Raya, salah satu sentra motor bekas berkualitas di Jakarta (Foto: Fajar Kirana)

Pekojan tempo dulu memang tenar sebagai kampung Arab. Sebagai tempat dengan populasi Arab terbesar di Indonesia, nama Pekojan juga dipakai untuk masyarakat keturunan Arab yang berada di Semarang dan Kudus.

Van den Berg menyebut, Pekojan berasal dari kata Khoja, istilah yang digunakan untuk menyebut penduduk keturunan India yang beragama Islam asal Suku Bengali atau Bengala, Bangladesh.

Kini keturunan Arab di Pekojan mulai sulit ditemukan. Mereka hijrah dari Pekojan ke Condet, Jakarta Timur. Masyarakat keturunan Arab di Condet saat ini, menggantikan posisi masyarakat keturunan Arab yang semula berada di Pekojan pada zaman kolonial.

"Sekarang orang Arab menyebar ke Jakarta Timur, yaitu Kampung Melayu, Cawang, sampai yang paling banyak orang Arab adalah di Condet," ucap Yasmine.

Data dalam buku Orang Arab di Nusantara menyebutkan, populasi keturunan Arab tahun 1859 sebanyak 4.922 orang. Populasi tersebut mengalami peningkatan hingga mencapai 10.888 orang pada 1885. Namun, populasi keturunan Arab berangsur-angsur menurun sejak 1970.

Pada 1996, keturunan Arab Hadramaut mulai menetap di Condet, Jakarta Timur. Tidak hanya dari Pekojan, mereka datang dari berbagai daerah. Di antaranya Jawa Tengah dan Jawa Timur, Lampung, Palembang, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kedatangan orang Arab ke Nusantara sebagai pedagang dibuktikan dari kawasan Condet yang memiliki toko-toko minyak wangi. Kebanyakan keturunan Arab mempunyai usaha seperti buka toko, buka perusahaan jasa umrah dan haji, warung makan Arab, butik, dan jual beli kendaraan bemotor.

Zeffry Alkatiri dalam Jakarte Punya Cara menyebutkan sepinya Pekojan dari penghuni keturunan Arab karena beberapa faktor. Di antaranya banjir yang rutin merendam kawasan tersebut, konflik antar keluarga Arab lainnya, perpecahan warisan yang menyebabkan generasi berikutnya menjual rumah warisan peninggalan orangtuanya, dan lain sebagainya.

Hingga saat ini masih ada delapan keturunan Nabi yang bertahan di Pekojan. Tiga di antaranya bermarga Al-Attas, Al Jufri, dan Assegaf. Sedangkan orang Arab yang bukan keturunan Nabi di antaranya Al Amri, Zubaidi, dan Basendit.

Beberapa peninggalan keturunan Arab di Pekojan juga masih dipertahankan, termasuk Masjid Jami An-Nawier (1760), Masjid Langgar Tinggi (1829), Mushala Ar-Raudhah (1887), dan Masjid al-Anshor (1648). Jarak antara masjid satu dengan lainnya saling berdekatan.

Agak sulit menemukan Masjid Al-Anshor, karena saat ini dihimpit tengah-tengah permukiman warga dan terletak di gang kecil. (Liputan6.com/Abdul Aziz Prastowo)


Hijrahnya keturunan Arab dari Kampung Arab menjadikan sebagian rumah di Pekojan dibeli oleh keturunan Tionghoa. Masyarakat Tionghoa menyakini bahwa kampung Arab memiliki peruntungan dari segi bisnis, yang disebut dengan Kepala Naga. Kini perumahan di Kampung Arab menjadi gudang-gudang yang dijalankan perusahaan Tiongkok.

Kini etnis keturunan Tionghoa dan Arab berada di satu tempat karena bisnis yang dijalaninya. Mereka menjadi satu karena berbisnis. Orang Cina Kristen melakukan hal yang sama, yakni berbisnis.

"Sebagian dari mereka telah beralih profesi atau berganti mata dagangan, yang disesuaikan dengan konsidi kebutuhan zamannya, seperti menjual dan membeli mobil atau membuka toko keramik," tulis Zeffry Alkatiri, budayawan Betawi, dalam Jakarte Punya Cara.

Meski populasi keturunan Arab semakin menurun, beberapa wilayah di Jakarta masih ditempati oleh keturunan Arab. Misalnya Kampung Melayu di Jakarta Timur, kawasan Krukut, dan Rawa Belong di Jakarta Barat.

Di wilayah Jakarta Selatan, keturunan Arab ada di Pancoran, Pasar Minggu, dan Jagakarsa. Lalu di Kwitang di Jakarta Pusat dan Luar Batang di Jakarta Utara.

Menurut data Rabithah Alawiyah, jumlah keturunan Arab terbanyak berada di kawasan Condet, Jakarta Timur yaitu 4.787 orang. Terbanyak kedua berada di Jakarta Selatan sebanyak 2.465 orang. Lalu, 1.193 orang berada di Pekojan, Jakarta Barat.

Sejumlah 901 orang di Jakarta Pusat dan terkecil populasinya ialah di Jakarta Utara yaitu 348 orang. Secara keseluruhan populasi keturunan Arab di Jakarta yaitu 9.694 orang.

Bahkan, keturunan Arab juga memegang peranan penting dalam pergerakan Republik Indonesia melalui organisasi Jamiat Kheir dan Partai Arab Indonesia. Sumpah yang digagas oleh orang-orang Arab di Indonesia pada suatu kongres di Semarang pada 4-5 Oktober 1934 ini, memacu timbulnya kesadaran Indonesia sebagai tanah air mereka. (Fitra Yunita) 

Artikel Selanjutnya
Khatib Istiqlal Sebut Pancasila Kesepakatan Luar Biasa
Artikel Selanjutnya
Cerita Gedung Setan di Logeweg Bandung