Sukses

Sigi: Hitam Putih Zona Tambang Timah

Liputan6.com, Bangka Belitung - Camui sebutan masyarakat setempat untuk lahan garapan lahan di Bangka Belitung. Tebing-tebing tanah yang berpotensi butiran timah dirontokan alat air bertekanan tinggi  sebagai proses pencarian sebenarnya.

Resiko besar menunggu pekerja tambang. Karena mereka bekerja di lubang galian yang curam dengan kondisi tanah yang labil sehingga longsor mengancam.

Perontokkan tebing berlanjut ke proses pencucian yang biasa dikenal dengan istilah sakar. Disini material timah dipisahkan didalam pasir. Jika tidak cermat maka timah-timah ini akan ikut terbuang.

Ada yang menarik saat disinggung soal kepemilikan saham dan juga penahanan lingkungan saat penambangan usai. Lahan yang biasa dipakai menambang ternyata milik orang lain.

Para penambang mengeksplorasi lahan secara berlebihan. Sementara itu keuntungan yang mereka dapat dibagi dua dengan pemilik lahan. 

Tentu saja, akibat dari penambangan liar ini membawa imbas negatif kepada lokasi sekitar tambang. 

Romadon adalah salah satu petani yang hanya bisa pasrah dengan kenyataan yang ada. Hasil panen tanaman lada miliknya drop alias  terjun bebas gara-gara penambangan ini.

"Tadinya zaman bapak-bapak kami bisa menghasilkan satu pohonnya tiga kilo. Sekarang susah, sebab ada banyak kendala salah satunya tanahnya tandus dari pertambangan liar" ujar Romadon.

Tidak hanya menurunkan hasil panen, menurut Romadon faktor pertumbuhan tanaman pun ikut terganggu. Tinggi tanaman lada yang biasa mencapai satu meter, kini tanaman menjadi mengecil.

 

Primadona di Babel

Penambangan timah memang menjadi primadona khususnya bagi warga Bangka Belitung. Melimpahnya timah di pulau ini menjadikan aktifitas penambangan tidak terbatas di darat saja tetapi juga di laut. 

Timah masih menjanjikan keuntungan kepada para penambang. Namun, pengelolaan yang sederhana dan ala kadarnya membuat laut ikut tercemar. Perairan menjadi keruh serta terumbu karang pun menjadi rusak sehingga tidak bisa tumbuh lagi.

Dampak dari penambangan ini adalah tidak ada ikan lagi yang hidup di perairan. Nelayan pun ikut sengsara sehingga pendapatan mereka menjadi berkurang. 

Bahkan, kerusakan yang diakibatkan pulau Bangka itu sudah mencapai 60 persen akibat pencemaran limbah pertambangan.

Simak kisah selengkapnya dalam Sigi SCTV edisi Minggu (5/2/2017) berikut ini.

Simak tayangan video selengkapnya dalam tautan ini

 

Artikel Selanjutnya
Kapolda Metro: Angka Kejahatan di Jakarta Menurun 70 Persen
Artikel Selanjutnya
Ditinggal Mudik Warganya, Kualitas Udara Jakarta Membaik