Sukses

Aleppo Hanya Sekelumit dari Rumitnya Konflik Timur Tengah

Liputan6.com, Jakarta Pengambilalihan Aleppo oleh pemerintah Suriah dari para pemberontak hanya satu bagian kecil dari besarnya konflik yang terjadi di Timur Tengah. Memang tak bisa dimungkiri wilayah satu ini identik dengan konflik.

Timur Tengah ialah wilayah yang secara politis dan budaya merupakan bagian dari Benua Asia atau Afrika-Eurasia. Pusat dari wilayah ini adalah daratan di antara Laut Mediterania dan Teluk Persia, serta wilayah yang memanjang dari Anatolia, Jazirah Arab, dan Semenanjung Sinai. 

Media dan beberapa organisasi internasional (seperti PBB) umumnya menganggap wilayah Timur Tengah adalah wilayah Asia Barat Daya (termasuk Siprus dan Iran) ditambah dengan Mesir.

Lalu konflik apa saja yang ada di sana? Jawabannya banyak sekali. 

Diambil dari laman cfr.org, hingga tahun ini masih ada sekitar tujuh wilayah di Timur Tengah yang tengah bergejolak. Pertama, perang sipil di Suriah. Pemberontakan melawan pemerintahan Assad diwarnai oleh munculnya kelompok-kelompok ekstremis muslim, seperti ISIS.

Begitu juga yang terjadi lima wilayah lainnya, seperti di Libya, Yaman, Irak, Mesir dan Lebanon. Satu lagi konflik antara Israel-Palestina sejak 1948 yang tak ada habisnya.

 

Masalahnya, konflik terjadi bukan hanya dari pemerintah negara bersangkutan dengan pemberontak. Atau, negara melawan negara, seperti Israel versus Palestina. Konflik di wilayah ini lebih rumit. Banyak pihak yang terlibat dengan kepentingan masing-masing.

Lihat saja yang terjadi di Suriah. Di satu sisi, pemerintahan Assad bersekutu dengan Rusia, diperbantukan oleh Iran dan Irak termasuk juga dibantu kelompok jihadis, Hizbullah dari Lebanon. Assad melawan pemberontak, yang didukung pemerintahan Turki, yang bersekutu dengan koalisi Amerika Serikat (termasuk di dalamnya Arab Saudi dan Qatar). Tidak hanya itu, munculnya ISIS, keberadaan kelompok Kurdis juga memperburuk situasi.

Apa yang melatarbelakangi?

Banyak hal. Faktor ideologi, politik, ekonomi, budaya, agama, bahkan sekte dan aliran saling berjalin berkelindan dan bercampur-aduk menjadi satu. Ditambah, beberapa ahli mengungkapkan, bukan hanya itu, persaingan geopolitik, berkaitan dengan minyak, menjadi salah satu sumber utama mengapa banyak pihak ikut campur dalam urusan Timur Tengah.

 

Artikel Selanjutnya
Serbuan Kera Dari Lereng Merapi
Artikel Selanjutnya
Malam Takbiran Idul Fitri, Masjid Istiqlal Sepi