Sukses

Journal: God Bless, Getar Jiwa Band Rock yang Melegenda

Liputan6.com, Jakarta - Seratusan orang menyesaki Studio 5 Indosiar, di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, Sabtu malam, 17 Desember 2016. Mereka tertib berdiri sembari menyalakan lampu telepon pintar dan menyanyikan lirik "Syair Kehidupan".

Di atas panggung, Achmad Albar yang duduk di kursi, mengarahkan pengeras suara ke arah penonton, diiringi petikan gitar Ian Antono dan Donny Fattah Gagola. Suara penonton pun terdengar keluar dari sound system yang berada di sekitar panggung.

“Beberapa dari kita nangis,” kata Asriat Ginting, saat menuturkan konser God Bless di Panggung Golden Memory, kepada Liputan6.com, Jumat (23/12/2016).

Lelaki berusia 45 tahun ini dikenal sebagai pengurus Komunitas God Bless Indonesia dan penulis buku biografi Donny Fattah Gagola, pemain bas God Bless. Asriat sudah sedari muda menjadi penggemar God Bless. Usianya lebih tua dua tahun dari usia band kegemarannya itu.

Vokalis God Bless, Achmad Albar saat membawakan lagu di album ketujuh 36 medio 2009 di Studio 5 INDOSIAR, Jakarta Barat, Sabtu (17/12/2016). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Air mata yang menetes tak sekadar keluar lantaran haru. Air mata itu menandakan kebahagiaan. Mereka, kata Asriat, kaget bisa menyaksikan idola sejak masa muda masih bisa manggung membawakan lagu-lagu yang masih hits hingga kini.

Meski senang dengan penampilan lima personel God Bless, Asriat mengaku selalu saja ada yang menyisa seusai menyaksikan konser. Yakni, rasa khawatir tentang masa depan band kegemaran. Bukan apa-apa, kata dia, personel God Bless bukan malaikat atau dewa. Mereka sama seperti kita, yang tentu akan bertemu dengan maut.

“Kalau mereka sudah enggak ada, kita mau ngapain?” ujar Asriat.

Band yang dibentuk 5 Mei 1973 ini punya arti besar untuk penggemar dan industri musik Tanah Air. Wendy Putranto, jurnalis sekaligus pengamat musik, mengatakan band yang kini digawangi Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah Gagola, Abadi Soesman, dan Fajar Satriatama itu menjadi pelopor dan pemberi inspirasi buat band rock lain bernyanyi dengan karya sendiri.

Grup band rock legendaris God Bless memotong tumpeng pada saat syukuran pembuatan album ke 7. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Menurut Wendy, band-band rock pada era 1970-an banyak yang membawakan lagu milik band Barat. Mereka tak berani menyanyikan lagu sendiri. “Mereka ini pioneer rock Indonesia. Mereka band yang merilis album original pertama, karena ketika itu banyak yang jadi epigon,” kata Wendy.

Tak hanya menjadi pendahulu, Wendy menyebut God Bless punya banyak keunikan. Ini tampak dari sisi personel dan lagu yang mereka bawakan. Selain keunikan, unsur kebersamaan di tubuh God Bless tak pernah lekang di makan waktu. Meski sering berganti personel, tiga penggawa utama tetap ada.

Bens Leo, pengamat musik, bersepakat dengan Wendy. Bagi Om Bens, sapaannya, unsur kebersamaan di tubuh God Bless tak hanya membikin band ini awet. Tapi, menjadi pengikat mereka dengan penggemar. “Sebuah band bertahan lama sepanjang pendirinya masih ada. Dan itu yang dipertahankan God Bless,” ucap Bens.

Donny Fattah Berlatih di Studio di Rumah Ian Antono (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Kekompakan ini nyatanya diamini Donny Fattah Gagola, sang bassist God Bless. Donny tak memungkiri banyak orang bertanya ihwal kekompakan band-nya. Apalagi, mereka masih bisa berkarya saat usia rata-rata pemainnya sudah melebihi kepala enam.

Donny bahkan menyebut God Bless bukan sekadar band. Tetapi, wujud sebuah keluarga yang sudah menjadi tempat anggotanya untuk berkreasi dan meleburkan jarak di antara mereka. “Kalau ada salah satu yang meninggal, saya lebih memilih untuk bubar,” ucap Donny.

1 dari 3 halaman

Rumah Profesi God Bless

Donny Fattah Gagola sedang memainkan bas di studio latihan yang berada di bagian belakang rumah Ian Antono saat Liputan6.com berkunjung, Kamis malam, dua pekan lalu. Abadi Soesman dan Achmad Albar sedang duduk di ruang tengah sembari berbincang dengan istri-istri penggawa God Bless. 

Ian Antono baru selesai latihan gitar di studio. Dia hilir mudik lantaran masih harus mempersiapkan sejumlah alat. Sementara Fajar Satriatama belum datang lantaran masih dalam perjalanan pulang kerja dari kantor.

Malam itu, mereka tengah bersiap menjelang konser dan peluncuran album Cermin 7 yang akan dihelat di Studio 5 Indosiar. Di rumah Ian Antono itu, personel God Bless biasanya berkumpul sejak 1990-an. Rumah yang terletak di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, itu menjadi rumah bersama untuk penggawa mempersiapkan segala hal terkait God Bless.

Personel God Bless Latihan Sebelum Konser (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Tempat itu sebenarnya bukan rumah yang menjadi latar kemunculan lagu Rumah Kita. Namun, Ian yang menjadi pencipta lagu itu bersama Theodore K.S, menjadikannya sebagai rumah berkumpul personel God Bless. Ini seperti yang dia lakukan sebelumnya saat masih mengontrak di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Sikap Ian menjadikan rumahnya sebagai tempat berkumpul tak lepas dari cara pandangnya dalam mengartikan God Bless. Lelaki asal Malang, Jawa Timur, itu mengatakan, God Bless baginya merupakan sebuah rumah. Di rumah tersebut mereka bisa berkarya dan berhimpun bersama. “God Bless yang saya rasakan bukan band lagi. Sudah seperti rumah saya,” ucap Ian kepada Liputan6.com.

Seperti Ian, Achmad Albar, sang vokalis, juga punya pandangan serupa. Hanya, Iyek, sapaan Achmad Albar, menyebut God Bless juga sebagai profesi. Bagi Iyek, dirinya tak lagi memikirkan pekerjaan lagi ketika sudah berhubungan dengan God Bless. “God Bless itu profesi kita, hidup kita kan di God Bless. Enggak mikirin kerjaan lain,” ujar Iyek. 

Achmad Albar menyapa penggemar saat peluncuran Album Cermin 7 (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Abadi Soesman, pemain kibor, bercerita God Bless bukan sekadar rumah yang ditempati. Tapi juga tempat berkreasi dan menyalurkan hasrat seni yang mereka miliki. Lantaran itu, bagi Abadi, God Bless punya arti besar dalam hidupnya. “Tempat kita menggantungkan kehidupan berkreasi, dan itu adalah God Bless,” kata bapak tiga anak ini.

Rumah, profesi, dan kreasi yang menjadi wujud God Bless ini, diakui Donny Fattah, sebagai sebuah hasil dari perjalanan panjang. Donny yang menjadi personel awal God Bless bersama almarhum Fuad Hassan, mengatakan God Bless menjadi tempat yang merangkum perjalanan anggotanya. Sebab, arti God Bless yang dipahami tiap personel sudah terwujud nyata.

“God Bless itu sebuah perjalanan bersama dalam sebuah perjalanan bermusik, dari tahun 70-an awal hingga kini. Betul kata Mas Ian sebagai rumah, sudah terwujud. Tempat berkumpul dan berkreasi kata Mas Iyek, dan Mas Abadi, sudah terwujud. Dalam perjalanan inilah, kedahsyatan lima orang dari sebuah grup mengkristal,” ucap Donny. 

2 dari 3 halaman

Menjaga Rock untuk Indonesia

God Bless sudah berusia 43 tahun kala album Cermin 7, dirilis pada Sabtu, 17 Desember 2016. Usia mereka nyaris setengah abad berdiri. Untuk band Indonesia, usia 43 tahun merupakan sebuah pencapaian luar biasa. Sebab, personel God Bless rata-rata sudah berusia 60 tahun ke atas.

Meski tak lagi muda, God Bless tak bisa dianggap enteng. Lagu yang mereka bawakan dari 1970-an masih bisa kita dengarkan hingga kini. Bahkan, lagu-lagu mereka menolak usang dan masih populer hingga kini.

Asriat Ginting, penggemar sekaligus penulis biografi Donny Fattah Gagola, menyebutkan God Bless merupakan penjaga musik rock di Tanah Air. Mereka muncul ketika musik rock nyaris hilang dari industri rekaman. Seperti saat album Raksasa, Apa Kabar, dan 36 muncul. Ketiganya hadir saat musik rock sedang layu.

“Album God Bless yang pas itu cuma tiga album pertama,” kata Asriat yang juga dosen di salah satu universitas swasta ini.

Basis God Bless  Donny Fattah saat konser di album ketujuh 36 medio 2009 di Studio 5 INDOSIAR, Jakarta Barat, Sabtu (17/12/2016). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Wendy Putranto tak memungkiri hal itu. Meski tak terlalu bersepakat dengan pandangan Asriat, Wendy tak mengamini konstribusi God Bless dalam merawat musik rock di Tanah Air. Menurut Wendy, personel God Bless konsisten dan tak pernah keluar dari kegemaran mereka untuk mengeksplorasi musik rock.

Konsistensi God Bless dalam memainkan musik rock ini, kata Wendy, berbuah hasil. Musik rock tak hilang dari telinga penggemarnya di Tanah Air, bahkan mancanegara. Wendy menyebut, ini terbukti dengan masih dinyanyikannya lagu-lagu yang pernah dibawakan God Bless, dan menjadi lagu legendaris yang masih diperdengarkan hingga kini.

Sebut saja lagu Rumah Kita, Kehidupan, dan Semut Hitam. “Umur lagunya sudah turun-temurun didengar. Selain lagunya bagus, lagunya tetap dimainkan di karaoke hingga panggung 17 Agustus,” ucap Wendy.

God Bless luncurkan album terbaru di akhir tahun 2016

Ian Antono, Donny Fattah Gagola, Abadi Soesman dan Achmad Albar pun hanya bisa tersenyum dengan label mereka sebagai penjaga trah rock. Bagi Ian, label tersebut tak bisa diterima begitu saja. Ian dan Achmad Albar tak mau jumawa dengan menerima begitu saja sanjungan penggemar.

“Bukan, hanya merasa terpanggil saja. Bukan kita merasa sok dewa,” ucap Ian dan ditimpali Achmad Albar. “Kita hanya sama-sama menghidupkan musik rock.”

Ian menambahkan, rasa terpanggil itu yang juga melatari God Bless meluncurkan album Cermin 7 pada tahun ini. Era musik rock saat ini disebutnya sudah seperti lampu kuning, yang menandakan waspada. Saat musik rock dalam tahap waspada ini, diakui Ian, mereka merasa terpanggil untuk kembali hadir.

Jika mereka tak meluncurkan album, kata Ian, dirinya khawatir musik rock semakin tenggelam dan makin hilang dari peredaran. Lantaran, banyak orang mulai tak berani berkarya.

“Akhirnya kita semacam tertantang, ‘sudah kita bikin saja.’ Mau laku, mau enggak, pokoknya kita bikin. Biar dunia ini rame. Kalau kita ikut berhenti, mati lagi, mati semua,” ucap Ian Antono penuh harap.

God Bless luncurkan album terbaru di akhir tahun 2016

Album Cermin 7 pun mengudara. God Bless kembali menyapa penggemarnya setelah tujuh tahun lamanya. Album ini menjadi penanda God Bless masih ada dan siap kembali memberi warna di belantika musik rock Indonesia.

Pada gitar kupetikkan nada indah… Dan kutuangkan bisik hati dalam kata… Dalam musik kutuangkan sanubari…Dengarlah... Ketuk nada dalam birama… Inilah... Getar jiwa bagi musisi...” demikian petikan lirik Musisi yang ada di album tersebut.

Artikel Selanjutnya
Sukses Band Metal Berhijab Bermodal Gitar Tua dan Drum Band Bekas
Artikel Selanjutnya
Beda Musik Rock Dulu dan Sekarang Versi Ahmad Albar