Sukses


Ketua MPR: Penggusuran Itu Tidak Pancasilais

Liputan6.com, Jakarta Mengenakan seragam Komando Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) beserta baret merahnya, ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyampaikan sosialisasi Empat Pilar MPR RI dihadapan anggota Muhammadiyah Tangerang Banten. Serta peserta Tanwir Pemuda Muhammadiyah I tahun 2016. Acara tersebut berlangsung Kota Tangerang Banten, Senin (28/11).

Dalam sambutannya, ketua MPR antara lain berharap, Pemuda Muhammadiyah bisa berkontribusi dalam upaya mempersatukan NKRI. Apalagi pada saat kondisi politik tanah air tengah menghangat, jelang pelaksanaan Pilkada serentak Februari nanti. Pemikiran- pemikiran yang baik atau program yang berguna buat persatuan bangsa tentu akan menjadi sumbangsih yang sangat berguna bagi bangsa dan negara.

Pada kesempatan itu, Zulkifli juga menyayangkan sikap sebagian masyarakat yang belum melaksanakan Pancasila. Sikap yang tidak mencerminkan Pancasila, itulah menurut Zulkifli yang menyebabkan masyarakat Indonesia tak kunjung mendapatkan kesejahteraan. Dan senantiasa bertikai untuk kepentingan sesaat.

Buktinya, di Indonesia ini terdapat 1119 izin tambang, milik swasta nasional dan asing. Selain itu ada juga 260 lebih izin batubara, tetapi masyarakat tak kunjung beroleh kesejahteraan. Masih banyak orang miskin, anak-anak tak bersekolah, serta pengangguran.

"Insan Pancasilais selalu disinari cahaya illahi. Ucapan dan tindak tanduknya mencerminkan Ketuhanan, sesuai sila pertama", kata Zulkifli menambahkan.

Orang yang bersikap Pancasiliais, kata Zulkifli, tidak bisa membiarkan rakyat yang miskin tertindas, tidak membiarkan anak tak sekolah. Karena sikap manusia Pancasilais selalu berpihak pada yang lemah. Mereka tidak pernah berkompromi, apalagi bernegosiasi kecuali terus berpihak pada masyarakat kelas bawah.

Merujuk pernyataan Ketua MK, kata Zulkifli saat ini banyak pemimpin yang mengalami disorientasi. Mereka tidak tahu, untuk apa menjadi pemimpin. Karena yang mereka pahami hanya mencari kekayaan dan keuntungan pribadi.

"Pemimpin yang main gusur itu tidak Pancasilais. Karena Pancasila itu mengajarkan musyawarah untuk mufakat", kata Zulkifli menambahkan.

Cara memindahkan manusia secara beradab, itu pernah diajarkan oleh Jokowi, saat ia menjadi walikota Solo. Ketika itu Jokowi tidak asal gusur. Ia mengajak masyarakat berdialog untuk mencari mufakat, bahkan oleh Jokowi musyawarah seperti itu dilaksanakan berulang-ulang sampai masyarakat faham dan bisa menerima. Bahkan setelah masyarakat menerima, Jokowi tidak memberikan ganti rugi. Karena ia memberikan ganti untung.

Artikel Selanjutnya
Kapolda Tetap Inginkan Rizieq Shihab Pulang Sendiri
Artikel Selanjutnya
Polri Larang Takbir Keliling Berlebihan