Sukses

Sigi: Simalakama Tembakau bagi Anak-Anak Sindoro-Sumbing

Liputan6.com, Jakarta - Keindahan anak adalah masa yang tak mungkin terulang. Namun tidak demikian dengan anak-anak di lereng Pegunungan Sindoro dan Sumbing, Jawa Tengah. Waktu bermain dan belajar terengut hanya karena harus bekerja keras membantu orangtua memetik hingga merajang tembakau. Belum lagi efek negatif aroma tembakau yang mau tak mau harus dihirup.

Desa Sunggingan, desa yang diapit oleh 2 pegunungan, Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Aroma khas tembakau tercium saat berada di lereng pegunungan karena dominasi tanaman tembakau.

Banyak bocah-bocah di daerah ini menghabiskan waktu luang bermain diantara tumpukan tembakau yang sedang dijemur. Namun nasib yang berbeda dialami anak-anak dari keluarga Jumari, mereka bekerja di ladang orang membantu orangtua menafkahi hidup mereka. Berjam-jam mereka memetik helai demi helai daun tembakau.

Jelang sore, mereka kembali ke rumah dengan panen daun tembakau. Pekerjaan para bocah ini belum usai, mereka harus memilah daun-daun tembakau untuk disimpan sampai layu.

Jam kerja terus berputar. Lompat ke tugas berikutnya, anak-anak itu menggulung tembakau yang telah kering. Jam yang bagi kebanyakan orang digunakan orang untuk beristirahat namun anak-anak bersama sejumlah pekerja lain terus menggulung daun tembakau kering.

Tak banyak pilihan mereka untuk menyambung hidup. Kerja keras sejak dini hari sampai malam, uang yang dihasilkan tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan, apalagi mereka masih di usia sekolah.

Para petani tembakau di lereng pegunungan ini terpaksa menelan pil pahit di musim panen kali ini. Panen gagal karena musim penghujan tak kunjung usai. Cuaca memang menjadi faktor utama yang berpengaruh terhadap mutu dan kualitas tembakau.

Kualitas tembakau yang turun berimbas pada penjualan. Mutu dan kualitas tembakau bisa terdeteksi oleh grader alias pencium tembakau. Semakin baik kualitas yang dimiliki daun tembakau harganya akan semakin mahal.

Efek harga tembakau yang sedang anjlok mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat. Kondisi ini berdampak pada pedagang rokok lintingan, minimnya pembeli tak mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Tekad dan semangat membantu mengangkat perekonomian keluarga memang patut dihargai meski segala kebahagiaan bersama teman-teman tak di dapatkan. Selayaknya pemerintah hadir meningkatkan kesejahteraan warganya.

Simak kisah selengkapnya dalam Sigi SCTV edisi Sabtu (22/10/2016) berikut ini.

 

 

Artikel Selanjutnya
Kapolda Metro: Angka Kejahatan di Jakarta Menurun 70 Persen
Artikel Selanjutnya
Ditinggal Mudik Warganya, Kualitas Udara Jakarta Membaik