Sukses

Panas Dingin Jelang Happy Ending Ahok Djarot

Liputan6.com, Jakarta - Nada suara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) meninggi saat meninggalkan kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Padahal, ia baru saja memenuhi undangan makan bersama sejumlah petinggi partai berlambang banteng moncong putih.

"Tidak, saya mau pulang. Saya enggak tahu, tunggu pengumuman dulu," kata Ahok dengan pipi memerah, Selasa, 20 September 2016.

Namun, wajah tegang itu berganti dengan senyum lebar saat Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengumumkan dukungan resmi PDIP bagi Ahok dan pasangannya, Djarot Saiful Hidayat, sekitar pukul 20.20 WIB di kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

"Basuki itu artinya keselamatan. Kita minta Pak Ahok kembali ke khitahnya, membawa keselamatan," ujar Hasto yang disambut tawa hadirin.

Nama pasangan yang bakal berlaga di Pilkada DKI 2017 itu diumumkan paling akhir setelah Hasto menyebutkan lima nama calon gubernur provinsi lain pilihan PDIP untuk berlaga dalam Pilkada Serentak 2017.

Hasto menjabarkan beberapa pertimbangan yang mendasari pemberian restu PDIP bagi pasangan calon petahana itu. Salah satunya, Ahok diyakini bisa menjalankan ideologi partai yang mendasarkan pada Pancasila dan Trisakti. Mantan Bupati Belitung Timur itu juga diyakini mampu meneruskan visi dan misi Jakarta Baru yang sebelumnya diusung Jokowi-Ahok pada 2012 lalu.

Namun, dukungan bagi Ahok bukan tanpa syarat. Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah menyebutkan ada kontrak politik yang harus ditandatangani kedua belah pihak sebagai bukti komitmen yang saling menguntungkan. Ahok pun mengangguk saat disodorkan kesepakatan tersebut.

"Iya, saya bersedia," ujar Ahok sambil melengos lega. Satu-satunya kandidat cagub dari PDIP tak berbaju merah di malam itu bahkan sempat menepuk hangat punggung Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi yang sempat berseteru dengannya perihal kasus reklamasi Teluk Jakarta.

Senyum tak kalah lebar juga ditampilkan pasangan Ahok, Djarot. Mantan Bupati Blitar itu memang beberapa kali menyebut bahwa partainya bakal mendukungnya bersanding dengan Ahok untuk kursi DKI 1 dan DKI 2.

Padahal, sebelum jadian kembali, Djarot sempat terlibat saling sindir dengan Ahok saat Gubernur DKI itu memutuskan maju dalam pilkada lewat jalur independen. Saat itu, ia mengingatkan langkah Ahok rawan dijegal jika menang lewat jalur perseorangan.

Tak berhenti di situ, Djarot kembali menyinggung Ahok perihal penggunaan aset Pemprov DKI untuk kegiatan TemanAhok, kelompok relawan yang selama ini mengumpulkan KTP buat Ahok. Tak mau kalah, Ahok juga mengingatkan Djarot bahwa kantor yang menjadi kantor DPP PDIP juga berdiri di lahan milik Pemprov DKI.

Terakhir, sikap kontra dengan Gubernur DKI juga ditunjukkan Djarot terkait reklamasi Teluk Jakarta. Berbeda dengan Ahok yang mendukung reklamasi dengan syarat tertentu, Djarot menyebut reklamasi harus dipelajari kembali karena dampak lingkungannya yang begitu besar.

1 dari 3 halaman

Sindiran Sebelum Pengumuman

Sebelum senyum sumringah mengembang saat pengumuman, Ahok menyambangi rumah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Ia masuk melalui pintu samping rumah bernomor 27 A itu.

Kedatangan Ahok diketahui dari mobil yang biasa dipakainya, Toyota Land Cruiser B 1966 RFR. Ahok masuk pukul 17.26 WIB. Sejumlah petinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga sudah hadir di kediaman Megawati Soekarnoputri.

Pantuan Liputan6.com di lokasi, tampak Ketua DPP Bidang Keanggotaan dan Keorganisasian Djarot Saiful Hidayat hadir dengan menggunakan baju merah. Kemudian dilanjutkan kehadiran Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto.

Selain itu, mobil hitam dengan nopol RI 17 yang diketahui adalah mobil dari Menko PMK Puan Maharani juga masuk dari pintu samping rumah Megawati, sama seperti Ahok. Tak lama berselang, mobil Toyota Camry hitam dengan nopol B 1194 RFS, yang diketahui sering digunakan Seskab Pramono Anung juga sudah masuk.

Bukan hanya itu, Wakil Sekjen Utut Hadianto, Ketua DPP PDIP sekaligus Ketua Bamusi Hamka Haq, Ketua DPP PDIP Sukur Nababan, juga turut hadir. Yang menarik sebelum kedatangan Ahok, sejumlah petugas PPSU menyapu jalanan dari daun kering. Bahkan mereka menyapu sampai depan pintu gerbang utama rumah Megawati.

Pada pertemuan itu, ia sempat disindir sejumlah petinggi partai. Tapi bukan Ahok jika tak mampu menangkis walau belakangan wajah datar dipasang usai pertemuan sambil makan-makan itu.

"Ada Bambang DH juga di situ. Ada Mbak Puan juga. Terus bilang Pak Ahok jangan ngomong apa gitu (jelekkan PDIP di media). Saya bilang, habis (susah) dicegah, mereka (media) tanya gimana? Masa enggak saya jawab," ujar Ahok di Balai Kota Jakarta.

Menurut Ahok, habis disindir oleh para tetua DPP bukanlah alasannya cepat-cepat pulang ke Balkot dan bukan ke DPP. Alasannya hanya karena Ahok lapar.

"Lapar gue, enggak enak juga makan dong," ucap Ahok santai.

2 dari 3 halaman

Dinanti Partai Pendukung Lain

Keputusan PDIP memberikan dukungan kepada pasangan Ahok-Djarot sebenarnya sudah dinanti oleh partai pendukung pasangan itu yang sudah menyatakan suaranya jauh sebelum deklarasi PDIP.

Ketua DPP Hanura Sarifuddin Sudding sebelumnya menegaskan partainya menunggu PDIP mengumumkan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) yang akan mereka usung di Pilkada DKI Jakarta 2017. Ia pun mengaku komunikasi selama ini berjalan dengan baik.

"Komunikasi antarpartai terbangun intensif, Hanura, Nasdem, Golkar, PDIP, dan yang lain. Kita pahami parpol dalam tentukan calon yang akan diusung dengan mekanisme masing-masing internal partai. Kita harap yang diumumkan PDIP Ahok-Djarot," ucap Sudding.

Dia juga mengaku tak masalah kalau calon petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok kembali berpasangan dengan Djarot Syaiful Hidayat memimpin DKI kelak.

"Enggak ada masalah (Ahok-Djarot) karena kita berikan dukungan pada Ahok. Kita beri keleluasaan pada Ahok tentukan cagubnya," ucap Sudding.

Kalau pun PDIP bukan mendukung Ahok, Sudding berpendapat hal itu sah-sah saja dan biasa dalam demokrasi partai usung calon yang berbeda dalam pilkada. Ia juga sempat menyatakan pendaftaran pasangan ke KPUD terlaksana pada Rabu ini (21/9/2016).

Hal senada juga diungkapkan Golkar. Partai beringin itu bahkan terang-terangan menginginkan agar Ahok kembali berpasangan dengan Djarot Saiful Hidayat. Apalagi, Sekjen DPP Golkar Idrus Marham juga mengungkapkan komunikasi politik dengan PDIP, terutama Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto berjalan lancar.

"Saya dengan Mas Hasto. Kita sudah jelaskan ke Mas Hasto, kenapa masih dipikirkan? Faktanya (Ahok) punya pestasi. Persoalan belum semua terpenuhi wajar karena masa kerjanya tiga tahun, Mas Hasto ketawa aja," ucap Idrus.

Golkar percaya diri dengan keputusannya mendukung Ahok karena elektabilitas yang jauh mengungguli sejumlah calon yang digadang-gadang akan masuk bursa Pilkada DKI Jakarta.

"Elektabilitas Ahok masih sangat jauh, masih 60 persenan. Realitas politik ini enggak biasa diingkari, sebagian besar menginginkan Ahok," ujar Idrus.