Sukses

Ribuan Warga Surabaya Bakal Ikuti Rekonstruksi Perobekan Bendera

Liputan6.com, Jakarta - Ribuan warga Kota Surabaya akan mengikuti acara rekonstruksi perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato--sekarang Hotel Majapahit, yang digelar Pemerintah Kota Surabaya dan sejumlah komunitas pada Senin 19 September 2016.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya Wiwiek Widayati mengatakan, acara yang bertajuk Surabaya Merah Putih ini akan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari veteran, pelajar, hingga berbagai komunitas.

"Agenda historikal seperti ini merupakan salah satu sarana edukasi bagi pelajar yang masih muda," kata Wiwiek, seperti dilansir Antara, Minggu (18/9/2016).

Rencananya, kata Wiwiek, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini atau Risma akan berpidato kebangsaan di hadapan para partisipan yang hadir. Setelah acara ini, pihaknya akan terus melaksanakan berbagai rangkaian kegiatan.

Menurut Wiwiek, ini kali ke-dua Pemkot Surabaya beserta berbagai komunitas akan merekontruksi sejarah 71 tahun silam perobekan bendera di Hotel Yamato.

"Bagi warga yang ingin berpartisipasi, diharapkan mengenakan pakaian pejuang tempo dulu," kata dia.

Selain itu, lanjut Wiwiek, pihaknya akan melibatkan sekitar 2.000 pelajar untuk melakukan aubade, dan bersama seluruh partisipan akan menyanyikan lagu Berkibarlah Benderaku dengan membawa bendera kecil.

Wiwiek mengatakan rangkaian kegiatan ini adalah bagian upaya untuk tetap terus memberikan edukasi kepada para generasi muda, terutama para pelajar.

"Pemkot sendiri memiliki program sekolah kebangsaan dan heroic track, di mana pelajar sekolah diajak berkunjung ke situs-situs yang memiliki keterkaitan dengan momen 10 November," tandas Wiwiek.

Peristiwa Yamato

19 September 1945 menjadi hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, terutama warga Surabaya. Kala itu, para pemuda pemberani mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Arek-arek Suroboyo merobek bendera Belanda di Hotel Yamato, Jalan Tunjungan nomor 65 Surabaya.

Peristiwa bermula saat rakyat Indonesia sedang bersorak sorai mengibarkan bendera Merah Putih di seluruh penjuru tanah air, atas perintah Presiden Sukarno dalam maklumatnya yang dikeluarkan pada 31 Agustus 1945.

Surabaya menjadi salah satu kota yang paling ramai diwarnai kibaran Merah Putih. Bendera pusaka tampak gagah di ujung tiang berbagai tempat strategis, seperti Gedung Kantor Karsidenan -- gedung Gubernuran sekarang -- yang terletak di muka gedung Kempeitai -- sekarang Tugu Pahlawan -- dan di atas Gedung Internatio.

Selain itu, ribuan bendera merah putih pun melambai ramai pada acara rapat raksasa Barisan Pemuda Surabaya di Tambaksari atau lapangan Stadion Gelora 10 November.

Namun, pihak Jepang dan Belanda yang belum mengakui kemerdekaan Indonesia, menolak keras pengibaran bendera Merah Putih tersebut. Pihak Kampeitai, polisi bentukan Jepang, mencoba melarang sejumlah pengibaran bendera. Sementara Belanda di bawah Ploegman mengambil langkah lebih agresif.

Ploegman mengibarkan bendera Belanda di rooftop Hotel Yamato sebagai penegasan negaranya masih menguasai RI. Hotel Yamato saat itu dijadikan markas Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees (RAPWI): Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran atas kerja sama Jepang dan Belanda.

Para arek Suroboyo yang melihat bendera Belanda di Hotel Yamato tersebut langsung geram, karena pengibaran Merah Putih Oranye merupakan bentuk penghinaan atas kedaulatan Indonesia dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Perwakilan pemuda bernama Sudirman dan beberapa rekannya menemui Ploegman di dalam hotel untuk berunding. Sudirman meminta bendera Belanda diturunkan, namun Ploegman menolak.

Ploegman mengeluarkan pistol hingga pada akhirnya terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman. Sementara Sudirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.

Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui kacaunya perundingan tersebut langsung mendobrak masuk ke Hotel Yamato. Perkelahian antara massa pemuda Indonesia dan tentara Belanda pun terjadi di lobi hotel. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Hariyono yang semula bersama Sudirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera. Bersama Kusno Wibowo, Hariyono berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian biru dan hanya tersisa warna Merah dan Putih.

Bendera pun digerek kembali di puncak tiang Hotel Yamato. Peristiwa ini disambut oleh massa di bawah hotel dengan pekik 'Merdeka' berulang kali.