Sukses


Wayang Kulit Berhadiah Kerbau di Bengkulu

Liputan6.com, Jakarta Pagelaran seni budaya dalam rangka sosialisasi Empat Pilar di Kota Bengkulu, Selasa malam, 6 September 2016, terasa begitu istimewa. Bukan karena pentas wayang kulit ini dibuka langsung Ketua MPR DR (HC) Zulkifli Hasan, dan dihadiri pula Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Muhadjir Effendi, MAP., tampi antusiame penontonnya begitu luar biasa. Ini mungkin rekor penonton yang paling banyak dibanding pagelaran sebelumnya.

Wayang kulit yang diselenggarakan oleh MPR bekerja sama dengan Pemda Kota Bengkulu ini dibuka secara resmi oleh Ketua MPR Zulkifli Hasan ditandai penyerahan toloh wayang Broto Seno kepada Prof. Muhadjir sebagai dalang pembuka dan Ki Wiwin Nusantara, dalang asal Jawa Tengah sebagai dalang utama. Pagelaran ini mengambil lakon: "Broto Seno Babat Alas."

Luar biasanya pertunjukan ini dilihat dari jumlah penonton yang membludak. Ribuan penonton memenuhi halaman kantor Walikota Bengkulu. Mereka itu para penggemar wayang kulit dari Kota Bengkulu dan sekitarnya. Selain itu, wayang kulit punya daya tarik lain.

Pihak panitia penyelenggara menyediakan hadiah untuk penonton yang beruntung berupa: 3 ekor kerbau, satu sepeda motor, 2 buah televisi 32 inc, 50 lembar vocher belanja masing-masing Rp 100.000.

Zulkifli Hasan dalam sambutannya kembali mengingatkan bahwa Pancasila berada dalam ancaman kepunahan, terancam lumpuh.

"Pancasila antara ada dan tiada," katanya. Banyak contoh yang membuktikan sila-sila Pancasila tidak lagi menjadi perilaku sehari-hari.

Sejumlah contoh dikemukan Zulkifli untuk menguatkan pendapat tersbut. Misalnya, musyawarah mufakat bukan menguat tapi malah melemah, orang lebih memilih menang-menangan. Lalu soal untuk kepentingkan pribadi dan golongan lebih menguat ketimbang untuk kepentingan bangsa dan negara. Dan, sejumlah contoh lainnya yang tak lagi mencerminkan perilaku Pancasila.

Kalau seseorang berperilaku Pancasila, menurut Zulkifli Hasan, maka setiap perbuatannya selalu disinari oleh cahaya Ilahi. Dia akan memanusiakan manusia lainnya. Kalau ada perbedaan tidak boleh main hakim sendiri, diselesaikan secara musyawarah.

"Juga kalau dia seorang gubernur atau kepala daerah tidak boleh main gusur, karena tidak Pancasilais," ujar Zulkifli. Jadi, menurut Zulkifli, begitulah sikap dan perilaku bangsa Indonesia seharusnya.

Sementara Purwadi mewakili Setjen MPR dalam laporannya menyatakan, pagelaran ini sebagai wujud apresiasi MPR terhadap seni budaya Indonesia dan dalam upaya internalisasi nilai-nilai Empat Pilar dalam kehidupan sehari-hari..

Salah bentuk apresiasi atau langkah kongkret yang diupayakan oleh MPR, menurut Purwadi, ikut melestarikan seni budaya Indonesia. Seni budaya ini tak hanya wayang, tapi seni budaya daerah lain. Seperti di Aceh dengan Didong, Palembang dengan Dul Muluk, Lampung dengan seni Warakas, NTB wayang Sasak dan lainnya.

(*)