Sukses


Wakil Ketua MPR Minta Corps Dai Bijak Berdakwah

Liputan6.com, Jakarta Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menerima delegasi Corps Dai Dhompet Dhuafa (Cordofa). Delegasi itu dipimpin oleh GM Sosial dan Dakwah Ahmad Fauzi Qasim.

Cordofa merupakan lembaga dakwah yang menyebarkan dainya untuk mensyiarkan Islam ke berbagai tempat seperti di daerah pedalaman dan perbatasan Indonesia, bahkan hingga luar negeri seperti Selandia Baru.

Kedatangan mereka selain memaparkan program kerja Cordofa, juga mengundang Hidayat untuk memberi pemahaman kepada Cordofa mengenai apa-apa yang perlu dilakukan dalam berdakwah.

Dalam pertemuan tersebut, Hidayat mengapresiasi aktivitas yang dilakukan oleh Cordofa. Ia juga memuji lembaga dakwah yang banyak diaktifkan oleh para ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) itu berhasil menggalang kerja sama dengan banyak pihak.

"Lembaga-lembaga dakwah yang sudah ada agar melakukan sinergi satu dengan yang lainnya. Sangat bagus bila antarlembaga dakwah bersinergi," kata Hidayat di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (6/9/2016).

Hal demikian ditekankan, lanjut dia, sebab apa yang dilakukan Cordofa bisa jadi sudah dilakukan oleh ormas Islam lainnya.

"Bila saling bersinergi, maka dakwah yang dilakukan akan saling menguatkan, bukan saling menafikan," ujar Hidayat.

Komunikasi antarlembaga dakwah, sambung dia, perlu ditekankan, sebab bisa jadi lembaga dakwah yang sudah lebih dahulu berdakwah mempunyai fikih atau sudut pandang yang berbeda dengan Cordofa.

"Bisa jadi ada perbedaan di masing-masing lembaga dakwah. Untuk itu di sini pentingnya komunikasi dengan aktivitas dakwah yang lain, sehingga kedatangan Cordofa bisa semakin menguatkan dakwah," papar politikus PKS ini.

"Dengan cara berkomunikasi atau bekerja sama dengan ormas Islam lainnya, maka membuat biaya dalam berdakwah menjadi lebih hemat. Semoga Cordofa memberdayakan dai-dai yang ada atau mencetak dai dari tempat di mana dakwah itu dilakukan," sambung dia.

Ditegaskan pula oleh Hidayat, dalam berdakwah harus bisa memahami apa yang terjadi di masyarakat.

"Kita tidak antitradisi. Ketika Islam masuk ke wilayah nusantara, bangunan struktur masyarakat sudah ada demikian kuatnya, ada kerajaan besar (Sriwijaya dan Majapahit), tatanan masyarakat yang teratur, dan perekonomian yang kuat," ujar dia.

"Anehnya, di tengah sistem masyarakat yang kuat itu, syiar Islam di Jawa dan Sumatera diterima. Islam masuk ke nusantara tanpa peperangan. Untuk itu sampaikan dakwah secara bijak. Metode penyebaran Islam pendahulu masih sangat relevan," tegas Hidayat.

Terakhir, Hidayat pun masih menyayangkan adanya pendakwah yang kadang-kadang belum tepat dalam mensyiarkan Islam.