Sukses

Dirut Barata Silmy Karim: Roda Kereta Buatan RI Masuk Amerika

Liputan6.com, Jakarta Silmy Karim mampu membawa nama PT Pindad ke dunia internasional. Di bawah tangan dingin Silmy, produk Pindad mampu menembus pasar Asia hingga Timur Tengah. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pun memberikan tugas baru kepada Silmy. Pada 8 Agustus lalu, dia didaulat memimpin PT Barata Indonesia.

Bagaimana cara Silmy memperkenalkan perusahaan engineering atau penghasil alat berat tersebut kepada dunia?

"Barata itu sebenarnya sudah berada di Indonesia sejak dari 1901. Ketika masih zaman Kolonial Belanda sebelum dinasionalisasi kemudian menjadi BUMN," ucap Direktur Utama (Dirut) Barata Indonesia Silmy Karim saat berbincang di Studio Liputan6.com, SCTV Tower, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Menurut Silmy, Barata dahulu tugasnya merawat pabrik gula atau pabrik milik Belanda yang berhubungan dengan pertanian. Selanjutnya di era pemerintahan Presiden BJ Habibie, Barata direvitalisasi untuk masuk ke perusahaan engineering.

"Nah, perusahaan engineering itu kan berarti perusahaan yang memiliki nilai tambah dari sisi teknologi. Nah itu dari 1971 sampai sekarang," ujar pria lulusan Leadership Program di Universitas Georgetown, Washington, Amerika Serikat tersebut.

Silmy pun mencontohkan hasil produksi Barata. Mulai dari pembangkit, alat-alat logistik, transportasi, rehabilitasi untuk pabrik-pabrik, pipa Pertamina, dan Perusahaan Gas Negara (PGN).

"Termasuk PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum Daerah), tetapi yang besar-besar. Kita bikin produk-produk yang memang berteknologi tinggi, mempunyai kemampuan engineering," ujar Dirut Barata Indonesia.

Ia mengungkapkan pula, ada salah satu produk Barata Indonesia yang menarik.

"Salah satu yang kita produksi itu diekspor ke Amerika seperti bogie (sistem kesatuan roda) kereta api. Jadi rutin setiap tahun kita ekspor untuk kereta-kereta, untuk pasar Amerika. Ini juga adalah salah satu yang mungkin akan menjadi andalan untuk ekspor dari konteks PT Barata Indonesia," ujar mantan Komisaris PT PAL tersebut.

Strategi Daya Saing

Selain itu, Silmy mengungkapkan strategi untuk memenangkan persaingan dengan produk alat berat dari negara lain, terutama produk terkenal.

"Untuk menjadi yang terbaik itu kan perlu supporting. Satu kita perlu kontrak economic of skill supaya terjadi efisiensi dan optimalisasi agar produk Indonesia bisa bersaing. Tanpa adanya itu, sebenarnya kalau produk itu kan ada dua: main harga atau main kualitas, kita mau main di mana?" tutur pria yang kini berusia 41 tahun.

Dirut PT Barata Indonesia Silmy Karim. (Liputan6.com/Andi Jatmiko)

Silmy menekankan, produk alat berat Indonesia tak kalah bersaing dengan negara-negara lain. Apalagi, banyak proyek infrastruktur di Tanah Air yang membutuhkan alat-alat berat. Hanya saja, ia mensyaratkan perlu menambah kemampuan kinerja industrinya.

"Ya, (produk alat berat) kita harus bisa menjadi tuan rumah, kesempatan ini yang harus kita ambil. Dan saya sudah cek walaupun saya baru beberapa hari di Barata, ternyata kita punya kemampuan itu tidak jelek. kita bisa. Dan ini kan perusahaan yang usianya sudah lebih dari 100 tahun," ujar pria yang sempat mengenyam pendidikan di Universitas Harvard dan Naval Postgraduate School, Monterey, AS.

Ia mencontohkan pengalaman saat memimpin PT Pindad. "Ketika dulu saya di Pindad, banyak yang tidak tahu Pindad itu apa. Tetapi kemudian ada momentum yang menunjukkan bahwa kualitas produk Pindad itu bagus. Di sini ada momentum yang bisa dimanfaatkan kalau produk Barata itu bisa bersaing," ucap dia.

Silmy berpendapat, Indonesia harus membangun suatu industri bernilai tambah tinggi yang kemudian berbasis kepada komoditas lokal.

Bagaimana cara Barata Indonesia meningkatkan kepercayaan konsumen? Dan, apa visi misi Silmy lima tahun ke depan? Simak selengkapnya wawancara khusus Liputan6.com dengan Dirut Barata Indonesia Silmy Karim berikut ini.