Sukses


Mengenang Ide Monumental Nurcholish Madjid

Liputan6.com, Jakarta Selepas ashar, 27 Agustus 2016, di bilangan Jl Ampera Raya, Kemang, Jakarta Selatan, berkumpul akademisi, cendekiawan, tokoh agama, politisi, mahasiswa, dan pengamat politik. Hadir juga dalam kesempatan itu Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

Mereka berkumpul di tempat itu untuk memperingati hari ulang tahun (haul) almarhum Nurcholish Madjid. Nurcholish Madjid adalah seorang cendekiawan dan pembaharu Islam yang pemikirannya monumental dan kiprahnya diterima oleh semua golongan.

Dalam acara itu, masing-masing undangan menyampaikan kesan-kesannya tentang sosok Nurcholish Madjid. Dalam kesan-kesannya, Hidayat Nur Wahid mengatakan ide dari Nurcholish Madjid banyak seperti ide dalam soal Keislaman, Keindonesiaan, dan Kemoderenan.

"Itu ide yang cerdas, penting, sangat relevan untuk terus dihidupkan dan dikembangluaskan," ujarnya.

Dikatakan oleh Hidayat Nur Wahid, di tahun 1970-an, Nurcholish Madjid pernah mengatakan "Islam Yes, Partai Islam No." Namun di awal reformasi, Hidayat Nur Wahid mengatakan, "Islam Yes, Partai Islam Yes."

Menurut Hidayat Nur Wahid, pendapat Nurcholish Madjid yang terakhir menunjukkan bahwa antara Keindonesiaan, Keislaman, dan Kemodernan dan partai politik saling mendukung. "Indonesia itu gabungan dari itu semua," ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, ketika Nurcholish Madjid mengatakan "Partai Islam Yes" bukan berarti ia mendikotomikan dengan partai nasionalisme. Diungkapkan bahwa di awal reformasi, undang-undang membolehkan partai yang berhaluan agama, berbasis gender, dan suku.

"Partai berlatar apa saja boleh selama sesuai peraturan perundangan," ujar Hidayat Nur Wahid.

Ide Nurcholish Madjid soal pluralisme yang sempat heboh saat itu, ditanggapi oleh Hidayat Nur Wahid bahwa ide itu merupakan bagian dari pemahaman Nurcholish Madjid tentang Ketuhanan yang Maha Esa. Dikatakan bahwa Indonesia itu memang plural dan pluralisme itu di Indonesia dibingkai dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Untuk menerjemahkan ide pluralisme di tingkat lapangan, menurut Hidayat Nur Wahid diperlukan jiwa-jiwa yang mampu menghadirkan toleransi dan dapat menghargai yang lain. Dari ide itulah maka Nurcholish Madjid bisa berteman dengan siapa saja.

"Jiwa seperti itu merupakan jembatan yang perlu diperkokoh," ujarnya.

Sebagai sesama alumni Pondok Pesantren Gontor, Hidayat Nur Wahid mengatakan, ide-ide dari Nurcholish Madjid merupakan pendidikan yang diberikan di Gontor dalam soal pluralisme, toleransi, dan menghargai perbedaan.

 

(*)