Sukses

Journal: Menguak Misteri Rambut Bob Marley di Dataran Dieng

Liputan6.com, Jakarta - Bunyi gunting saat memotong helai rambut masih terngiang di ingatan Naryono. Helai demi helai rambutnya yang tumbuh menggimbal sengaja dipotong Mbah Modin saat usianya baru 5 tahun. Peristiwa itu masih lekang di ingatan Naryono, yang kini menjadi pemangku adat di dataran Dieng. Meskipun peristiwa potong rambut itu sudah berlalu 60 tahun silam. “Namanya gembel itu dari zaman dulu kala,” ucap Naryono saat ditemui Liputan6.com, di rumahnya, awal Agustus lalu.

Peristiwa pada 1956 itu masih membekas di ingatan Naryono. Dia kini menjadi Mbah Modin--pemuka adat, yang biasa memotong rambut anak-anak gimbal di dataran Dieng. Tiap tahun, Naryono memotong rambut anak-anak yang disebut anak bajang ini oleh warga setempat. Rambut gembel anak bajang, menurut Naryono, adalah ciri khas Dieng. Menurut cerita yang didapat Naryono dari sesepuh-sesepuh kampung, rambut gembel adalah titipan dari leluhur mereka. Musababnya, ciri fisik ini muncul begitu saja.

Kepercayaan ini diamini masyarakat selama puluhan tahun. Mereka mempercayai tanpa harus mencari tahu asal-usulnya. Prapto Yuwono, pengajar di Program Studi Nusantara, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, menerangkan fenomena kemunculan anak gimbal tak pernah jelas diketahui warga. Ia menyebut tak ada catatan historis yang menuliskan sejak kapan anak-anak berambut gimbal mirip gaya Bob Marley itu ada di Dieng. Apalagi kemunculan rambut gimbal itu terjadi saat anak berusia antara 1 hingga 3 tahun. Bagi Prapto, fenomena tersebut menghadirkan sebuah pemahaman tersendiri bagi masyarakatnya, yakni sebagai tanda untuk setia menjaga akar tradisi. “Kalau tak diurus akan terjadi berbagai hal,” kata Prapto kepada Liputan6.com, Senin (22/8/2016).

Rambut gimbal ini terjadi secara alamiah (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Tak jelasnya asal-usul keberadaan anak bajang rupanya mengundang pertanyaan buat Suratsih, Veronika Hinuhili, dan Muhammad Lutfi Hidayat. Ketiganya akademikus dari FMIPA, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Mereka heran bagaimana fenomena ini muncul. Apalagi, rambut itu menggimbal secara alami. Suratsih bersama tim dari UNY kemudian meneliti proses genetika dalam fenomena tersebut. Kepada Liputan6.com, Suratsih menceritakan fenomena rambut gimbal di Dieng tidak ujug-ujug hadir. Ia bukan pula kejadian mistis seperti yang umumnya dipercaya masyarakat Dieng. “Itu pewarisan genetik,” ucap Suratsih.

Pendapat ini dikemukakan setelah dia bersama tim melakukan riset di Kelurahan Selomerto, Karangkobar, Wonosobo, pada 2008. Daerah tersebut berjarak 33,5 kilometer dari Dieng Kulon, tempat Naryono tinggal. Tapi, dua daerah itu masuk dalam dataran Dieng. Awalnya, riset dilakukan sekadar untuk membuat modul pembelajaran mata kuliah genetika. Toh, Suratsih mengaku, fenomena tersebut membuatnya tertarik. Barang tentu, kata dia, lantaran fenomena itu bisa dijelaskan secara ilmiah. Hasil studi yang dilakukan Suratsih dan tim dipublikasikan dalam Jurnal Cakrawala Pendidikan pada Juni 2009.

Seorang anak gimbal bermain di lapangan kampung, menjelang prosesi pemotongan rambut (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Dalam riset tersebut, Suratsih dan tim mengidentifikasi fenomena lahirnya rambut gimbal sebagai hasil ekspresi genetika. Ekspresi ini tak lepas dari pewarisan sifat orangtua si anak. Hasil yang ditemukan tak begitu mencengangkan. Asumsi dasar yang mereka jadikan aksioma pun tak terbantahkan.

“Dari hasil penelitian diperoleh informasi yang dapat dibuat sebuah klasifikasi data berdasarkan konsep yang diperlukan untuk menganalisis kasus rambut gembel, bahwa fenomena tersebut merupakan salah satu pewarisan gen,” tulis tim UNY dalam hasil penelitian berjudul Pengembangan Modul Penelitian Pembelajaran Genetika Berbasis Fenomena Lokal.

Mbah Naryono, sapaan akrab pemangku adat Dieng ini, hanya bisa tersenyum. Dia teringat akan pengalaman dan kisah yang didengar dari pendahulunya. Sesepuh-sesepuh kampung kerap bercerita, anak-anak yang memiliki rambut gembel lahir dari orangtua yang semasa kecilnya memiliki rambut gimbal. Itu pun seperti yang dialami dirinya. “Dulu saya dari tahun 1956, saya gembel, katanya dulu juga bapak saya gembel,” kata Naryono.

1 dari 2 halaman

Munculnya ‘Bob Marley’ dari Dieng

Proses penurunan gen gimbal di Dieng terjadi hampir di seluruh dataran tinggi tersebut. Anak-anak berambut gimbal terus hadir, meski mereka berasal dari orangtua yang dahulu tak mengalami kegimbalan. Fenomena ini jadi "daya magis" tersendiri buat Naryono, sang pemangku adat. Sebab, ini di luar kelogisan pikiran dia. Apalagi, jalan satu-satunya untuk "mengobati" kegimbalan ini adalah ruwatan.

"Daya magis" yang dipahami Mbah Naryono tak dinafikan Suratsih dan kolega. Akademikus-akademikus ini tak mempermasalahkan pola kepercayaan warga. Namun sebagai ilmuwan, peneliti dari UNY ini punya jawaban atas fenomena anak-anak bajang mirip Bob Marley ini. Bagi Suratsih dan rekan, fenomena tersebut merupakan kewajaran. Alasannya, susunan genetika dalam tubuh seorang anak dibangun dari komposisi kedua orangtuanya.

Anak berambut gimbal menaiki kuda saat acara ritual ruwatan potong rambut gimbal di komplek candi Arjuna dataran tinggi Dieng Desa Dieng Kulon, Jateng, Minggu (3/7).Prosesi adat ini akan memotong 11 anak berambut gimbal.(Gholib)

Pada umumnya organisme termasuk manusia, penurunan ini tertanam dalam dua kopi gen pada genom seorang anak. Dalam kasus anak gimbal di Dieng, penurunan dua kopi gen ini pun terjadi. Tim riset melakukan pelacakan silsilah keluarga terhadap tiga anak gimbal. Pelacakan ini dilakukan terhadap tiga generasi di atasnya. Temuan dari Tim Biologi FMIPA UNY dalam studi di Dieng menunjukkan ada penurunan gen autosomal resesif atau gen kromosom tubuh yang tidak dominan.

Suratsih menjelaskan, gen autosomal resesif dalam kasus anak gimbal muncul saat ada persilangan antara dua orang yang memiliki gen karier (pembawa) gimbal. Persilangan antara dua gen ini bisa menghasilkan keturunan yang berambut gimbal dan tidak gimbal. Sehingga, persilangan memungkinkan seorang anak memiliki rambut gimbal meski kedua orangtuanya tak mengalami kegimbalan saat kecil. “Kalau ketemu yang tak memiliki gen karier, tidak muncul. Kemudian kalau punya gen karier, tapi belum tentu keturunannya juga muncul,” kata Suratsih.

Seorang anak gimbal meminta turun dari kuda (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Dalam hal ini, kasus rambut gimbal seperti kasus penurunan cuping telinga yang dimiliki seorang anak. Yang membedakan, rambut gimbal yang dialami seorang anak di Dieng tak muncul saat anak lahir. Namun, terjadi selang satu hingga tiga tahun setelah si anak lahir. Menurut Suratsih, kemunculan rambut ini tak bisa dilepaskan dari proses hormonal dalam tubuh si anak.

Tim UNY mengidentifikasi sejumlah gejala yang datang sebelum kemunculan rambut gimbal. Gejala perubahan ini ditandai dengan demam dan kejang yang kemudian hilang tanpa perlu diobati. Saat demam dan kejang terjadi, kata Suratsih, gen autiosomal resesif berekspresi, sehingga menimbulkan perubahan fisiologis. Lantas saat demam dan kejang berhenti, homeostatis tubuh menormalisasi kondisi fisiologis tubuh. Perubahan hormonal ini kemudian memunculkan anak-anak berambut gimbal.

Anak-anak berambut gimbal berjejer sebelum menjalani ruwatan potong rambut (Liputan6.com/Mochamad Khadafi)

Gejala-gejala ini diakui Sriah, ibunda Ulfi Silviana, salah satu anak gimbal yang ditemui Liputan6.com. Menurut Sriah, anaknya mengalami sakit panas yang tak sembuh-sembuh hingga sebulan lamanya. Sriah bahkan sempat membawa anaknya ke puskesmas untuk diperiksa. Tapi, dokter setempat hanya memberi jawaban singkat. “Gimbalnya mau tukul,” kata Sriah.

Meski begitu, proses ini tak disadari warga Dieng sebagai proses alamiah dalam perubahan genetik di lingkungan mereka. Warga Dieng, kata Naryono, memahami arti keberadaan anak gimbal sebagai sesuatu yang harus mereka jaga. Terlebih, Naryono menyatakan, anak bajang ini merupakan titipan. “Titipan dari Mbah Agung Kolo Dete dan Nini Dewi Roro Runci dari pantai selatan. Dari Roro Kidul, begitu. Jadi anak bajang dari Roro Kidul,” ucap Naryono.