Sukses


HNW Hadiri Penutupan Pelatihan Bahasa Arab di Ponpes Darunnajah

Liputan6.com, Jakarta Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid menghadiri penutupan dauroh (pelatihan) bahasa Arab dan muqobalah (seleksi) calon mahasiswa Universitas Islam Madinah di Kampus Pondok Pesantren Darunnajah, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Selasa 23 Agustus 2015. Penutupan pelatihan bahasa Arab ini dihadiri pengasuh Pondok Pesantren Darunnajah K.H. Mahrus Amin, K. H. Sofwan Manaf dan K.H. Saifuddin serta utusan Universitas Islam Madinah Dr. Sulaiman bin Abdullah Ar Rumi.

Pelatihan dan seleksi bagi calon mahasiswa Universitas Islam Madinah ini diikuti sekitar 300 santri dari berbagai pondok pesantren. Pelatihan bahasa Arab berlangsung selama tiga minggu dan seleksi secara langsung dilakukan oleh perwakilan dari Universitas Islam Madinah. Pesantren Darunnajah memfasilitasi kegiatan pelatihan dan seleksi ini.

Dalam penutupan pelatihan ini Hidayat Nur Wahid mengapresiasi kegiatan pelatihan bahasa Arab dan seleksi masuk ke Universitas Islam Madinah. Hidayat berharap silaturahmi Universitas Islam Madinah dan Ponpes Darunnajah tetap terjaga dan terus berlanjut.

Hidayat menegaskan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan damai tanpa perang dan pertumpahan darah. "Ini sekaligus membantah tuduhan bahwa Islam menyebar melalui pedang. Maka sudah sepantasnya bangsa Indonesia menjaga keistimewaan ini," katanya dalam sambutan berbahasa Arab itu.

Kepada para santri Hidayat bercerita pengalaman mengikuti seleksi masuk Universitas Islam Madinah di Ponpes Darunnajah pada tahun 1980. "Saya mengikuti muqobalah kurang lebih sebulan. Kemudian saya mengikuti pendidikan di Universitas Islam Madinah hingga program doktoral," tuturnya.

Hidayat berpesan bila lulus ujian masuk Universitas Islam Madinah dan mendapat kesempatan belajar di sana maka pergunakan waktu sebaik-baiknya dan carilah ilmu sebanyak-banyaknya. "Lalu bergaul dengan mahasiswa dari negara lain untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab," pesannya.

Hidayat menambahkan banyak alumni Universitas Islam Madinah yang menjadi menteri, duta besar, pimpinan pondok pesantren tersebar di seluruh negeri. "Bagi yang belum diterima di Universitas Islam Madinah, percayalah ilmu yang didapat selama pelatihan sangat bermanfaat," pungkasnya.