Sukses

Cita-Cita Nilam, Bertemu Dahlan Iskan dan Jadi Penerbang Wanita

Liputan6.com, Jakarta Nilam Sukma Pawening ingin sekali dapat bertemu Dahlan Iskan. Paskibraka putri dari DKI Jakarta yang didapuk menjadi pembawa baki saat upacara penaikan bendera pada perayaan HUT ke-71 RI itu mengaku terinspirasi sosok sang menteri BUMN setelah membaca buku milik Dahlan yang berjudul Sepatu Dahlan.

"Gara-gara baca buku beliau, aku semakin termotivasi untuk menjadi seorang Paskibraka. Siapa tahu dengan menjadi Paskibraka, keinginanku bertemu dengan beliau semakin cepat terwujud," kata Nilam.

Nama Nilam Sukma semakin meroket setelah menjalankan tugas sebagai pembawa baki untuk menerima bendera Merah Putih duplikat dari Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan mimpinya ini seperti perwujudan dari omongan sang ayah yang pernah "menuntut" Nilam agar menjadi pembawa baki.

"Dulu aku pernah minta gadget baru ke papa. Papa belum mau ngasih sebelum Nilam berhasil masuk sebagai Paskibraka tingkat nasional. Pas sudah masuk ke tingkat nasional, Papa bilang ke Nilam baru akan membelikan gadget baru kalau Nilam jadi pembawa baki. Dan Papa percaya kalau Nilam bisa menjadi pembawa baki dan omongan Papa itu terwujud," kata Nilam yang lahir di Jakarta pada 19 Oktober 2000.

Nama Nilam Sukma Pawening, Paskibraka dari DKI Jakarta yang Juga Atlet Voli, Semakin Dikenal Banyak Orang Setelah Berhasil Menjalankan Tugas Sebagai Pembawa Baki. Apa Sebenarnya Cita-cita Nilam?

Nilam Sukma Pawening yang tercatat sebagai siswi SMA Negeri 67 Jakarta merupakan putri kedua pasangan Istohari dan Suwarti. Sang ayah diketahui memiliki gelar Peltu TNI yang bertugas sebagai mekanik pesawat terbang di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Tidak heran jika sang putri yang juga seorang atlet voli itu bercita-cita jadi seorang penerbang.

"Kalau Papa jadi mekanik pesawat terbang, aku yang menerbangkan pesawatnya. Jadi kalau pesawatku kenapa-kenapa, Papa yang bantu perbaiki," kata Nilam sambil tertawa.

Sebelum menghuni asrama Paskibraka di PP-PON Menpora, Cibubur, Nilam mengaku sudah terbiasa hidup ala militer di rumah. Sang ayah tidak pernah main-main soal disiplin. Begitu azan subuh berkumandang, tidak peduli anaknya baru tidur akan tetap dibangunkan. Tidak hanya itu, sang ayah, kata Nilam, juga memperhatikan hal-hal kecil seperti menaruh sepatu, sandal, baju, harus pada tempatnya.

"Makanya enggak kaget sama kehidupan di asrama," ungkap Nilam Sukma Pawening.