Sukses

Menguak Kejiwaan Jessica

Liputan6.com, Jakarta - Kejiwaan Jessica Kumala Wongso diungkap di persidangan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin. Dari kesimpulan pemeriksaan, ahli menyatakan kejiwaan Jessica normal dan tidak mendapati gangguan jiwa berat.

"Pada saat memeriksa di Departemen Psikiatri, tidak didapatkan gangguan jiwa berat," kata Psikiater Forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Natalia Widiasih Raharjanti‎ saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis 18 Agustus 2016.

Natalia dan tim dari RSCM memeriksa Jessica Wongso pada 11 Februari hingga 16 Februari 2016. Pihaknya melakukan lima tahap pemeriksaan kejiwaan terhadap Jessica Kumala Wongso dengan metode multiaksial diagnosis.

Dia menuturkan, Jessica baru akan menampakkan emosinya ketika mendapatkan tekanan atau masalah. Emosi tersebut, bisa terlihat dari adanya upaya bunuh diri atau melukai diri sendiri yang dilakukan Jessica di Australia.

Natalia mengatakan, kehidupan Jessica pada 2007-2008 baik-baik saja. Akan tetapi pada Desember 2015 banyak masalah yang membuatnya tidak nyaman.

Dari data kepolisian Australia yang dipelajarinya, ada perubahan terhadap kepribadian Jessica Wongso pada Januari 2016. Saat itu Jessica baru saja putus dengan pacarnya.

"Kalau kita pelajari dari pola relasi, transkrip SMS dan e-mail, memang perubahan pada Januari, setelah (Jessica) putus (dengan pacarnya). Sebelumnya, semua rekan kerjanya bilang Jessica sangat baik, ramah pada orang lain, tak pernah lihat ada yang salah. Baru kaget pas (Jessica) masuk rumah sakit, marah, (ini) ada hubungannya dengan putus pacar," beber Natalia.

 
Jessica Kumala Wongso bersama kuasa hukumnya saat menjalani sidang lanjutan di PN Jakarta Pusat, Senin (15/8). Sidang tersebut dengan agenda pendengaran Saksi ahli psikologi klinis Antonia Ratih Handayani. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selama menetap di Australia, Jessica dirundung berbagai masalah. Mulai dari Jessica mengancam mantan kekasihnya, Patrick, hingga Jessica mencoba mengakhiri hidup.

"Kami melihat rekaman CCTV saat dia (Jessica) mau masuk Rumah Sakit Royal Prince Alfred. Dia mengancam mau bunuh diri. Saat itu Jessica terlihat kontak seseorang, siapa itu yang kami ingin tahu. Kami kemudian ketemu Kristie. Dia adalah atasannya," kata Natalia ketika bersaksi untuk perkara Jessica di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kepada Natalia, atasan Jessica di New South Wales Ambulans, Australia Kristie Louise Carter bercerita bahwa Jessica adalah orang yang profesional dalam hal pekerjaan, tapi Jessica sangat tertutup.

Dari keterangan Kristie kepada Natalia dan penyidik Polda Metro Jaya saat di Australia, hidup Jessica mulai kacau ketika hubungannya dan Patrick bermasalah pada Januari sampai September 2015.

Jaksa penuntut umum (JPU) Sandy Handika lalu mengonfirmasi ungkapan hati Jessica yang dikatakan kepada Kristie saat Jessica dirawat di RS Royal Prince Alfred. Jessica marah karena diperlakukan seperti pembunuh oleh pihak rumah sakit dan kepolisian setempat.

"Saat di rumah sakit, Jessica mengatakan pada dia (Kristie), 'Para bangsat di rumah sakit ini tidak mengizinkanku pulang. Mereka memperlakukanku seolah-olah saya adalah pembunuh. Kalau saya akan membunuh orang, saya tahu pasti cara menggunakan pistol dan saya tahu dosis yang tepat," ucap Sandy menirukan curahan hati Jessica sesuai pengakuan Kristie.

"Saat ditanya maksudnya apa (berkata seperti itu), dia (Jessica) tidak bisa menjelaskan lebih lanjut," jawab Natalia.

Natalia menambahkan sejak keluar dari rumah sakit, hubungan Kristie dan Jessica mulai merenggang karena sikap Jessica berubah.

Jessica Kumala Wongso, tersangka pembunuhan Wayan Mirna Salihin, dikawal petugas menuju kursi pemeriksaan di ruang sidang PN Jakarta Pusat, Selasa (21/6). Sidang beragenda mendengarkan jawaban dari pihak Jaksa Penuntut Umum. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dari data Australia Federal Police (AFP), diketahui Jessica masuk rumah sakit dua kali karena melakukan percobaan bunuh diri. Pertama pada akhir Januari 2015, Jessica berupaya melukai diri sendiri. Percobaan bunuh diri kedua dilakukan Jessica pada September 2015 dengan cara menyalakan alat panggang hingga seisi kamar apartemennya dipenuhi asap.

"Kalau kami lihat, mulai dari Januari 2015 tanggal 28 itu hanya ancaman akan bunuh diri dengan menelepon Patrick. Namun tanggal 29 sampai 30-nya dia melakukan upaya bunuh diri. Lalu dia sampai menabrak panti jompo tanggal 22 Agustus," ujar Natalia.

Selanjutnya, pada 15 November Jessica menyayat tangannya sendiri dengan pisau. Dan pada 22 November, kepolisian setempat menemukan pesan yang ditulis Jessica, di mana Jessica menempatkan diri seolah-olah sudah meninggal.

"Tanggal 22 November ada suicide note. Dia minum alkohol dengan pesan bunuh diri seolah-olah pesan dia saat sudah meninggal."

Surat tersebut berisi kekecewaan Jessica karena Patrick tak menepati janji dan meninggalkannya. Padahal Jessica sudah melakukan banyak hal untuk Patrick.

Selain itu, Jessica merasa keluarganya tidak memperhatikannya, sehingga ia merasa tak ada guna melanjutkan hidup.

Darmawan Salihin, Ayah dari alm Mirna usai berbincang dengan pengacara Otto Hasibuan sebelum persidangan di PN Jakarta Pusat, Rabu (13/7). Sidang tersebut menampilkan video CCTV rekaman suasana kejadian di Kafe Olivier. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pengacara Jessica, Otto Hasibuan kecewa terhadap sikap jaksa penuntut umum (JPU) yang menggali hubungan pribadi kliennya selama tinggal di Australia. Apalagi yang ditanyakan tidak ada kaitannya sama sekali terhadap hubungan Jessica dengan Wayan Mirna Salihin.

"Jadi kalau tingkat emosinya (Jessica) tinggi, apa kaitannya dengan Mirna? Ini lost. Jadi saya menganggap menanyakan latar belakang Jessica ini hanya merupakan pembunuhan karakter Jessica. Secara hukum itu tidak ada artinya," ujar Otto di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016).

Dalam hal ini, JPU beralasan menggali latar belakang kehidupan Jessica dengan pacarnya untuk menunjukkan eskalasi emosi sang terdakwa. Namun itu dianggap Otto salah. Apalagi eskalasi emosi yang digali tidak berkaitan dengan Mirna yang dalam kasus ini sebagai korban.

Otto mengatakan, apa yang dikatakan teman Jessica terkait sikap buruknya adalah sesuatu hal yang wajar. Terlebih jika orang itu tidak suka dengan Jessica. Sehingga, kata Otto, keterangan mereka yang merupakan rumor itu tidak bisa dijadikan dasar pada persidangan.

"Wajar dong kalau marahan sama teman, orangnya jelek-jelekin. Itulah yang saya katakan tadi sebagai pembunuhan karakter. Jadi apa pun yang terjadi, itu risiko yang ditanggung oleh Jessica," ujar Otto.

Akibat hal ini, kata Otto, kondisi Jessica semakin tertekan. Apa yang dilakukan Jessica selalu dipandang salah.

1 dari 3 halaman

Inkonsistensi Jessica

Psikiater forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Natalia Widiasih Raharjanti mengatakan, ada perbedaan data antara yang dibicarakan Jessica dengan yang ditemukan tim psikiatri forensik.

"Pertama ia mengaku ikut menggoyang-goyang Mirna saat keracunan, tapi dari CCTV tidak kelihatan. Ini inkonsistensi," ungkap Natalia.

Jessica juga awalnya mengaku tidak datang ke pemakaman Mirna Salihin karena sakit demam dan asmanya kambuh. Tapi dari data yang ditemukan, asmanya tidak pernah kambuh lagi.

Pengakuan Jessica bahwa saksi Hanie Boon sejak 7 Januari 2016 setelah Mirna tewas, dilarang keluarga Mirna menghubunginya. Tapi ternyata Hanie mengaku masih menghubungi Jessica pada 8 Januari  2016 tapi tidak dibalas Jessica.

Inkonsistensi keempat yakni pengakuan Jessica bahwa ia tidak mengalami gangguan kondisi psikologi dan tidak pernah masuk rumah sakit setelah putus dengan pacarnya. "Tapi (pengakuan itu) tidak sesuai dengan BAP (polisi Australia) dia dirawat tiga kali dipicu permasalahan dengan pacar," imbuh Natalia.

Mirna Wayan Salihin dikenal publik karena meninggal secara mendadak dan tidak wajar usai meneguk kopi dari gelasnya, awal Januari 2015

Inkonsistensi kelima, ada pengakuan Jessica selalu melihat sisi baik orang lain dari pada sisi buruknya. "Tapi rekan kerjanya mengatakan dia baik namun saat dalam tekanan dia terlihat munculnya marah, kalau marah yang dilihat adalah sisi buruk orang lain."

Inkonsistensi terakhir, sambung Natalia, terkait pengakuan Jessica Wongso tidak mendapat dukungan yang baik dari keluarga saat menghadapi masalah. "Tapi ibunya bilang selama ini berhubungan baik," ucap dia.

Natalia juga mengungkapkan kejanggalan sikap Jessica terkait hubungan dekatnya dengan Wayan.

"Ada satu momen yang kami sendiri juga bingung. Di keterangan kita mendapatkan informasi Jessica sempat bertemu Mirna di 2014, sebelum pertunangan. Lalu datang pas ulang tahun. Ketika ditanyakan kembali, kelihatan Jessica bingung, bilang enggak pernah ketemu," kata dia di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis.

Natalia Widiasih Raharjanti‎ juga mengungkapkan alasan di balik kedatangan terdakwa Jessica Kumala Wongso pulang ke Indonesia. Dari hasil pemeriksaan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jessica pulang ke Indonesia untuk liburan.

"Jessica bilang waktu itu alasan ke sini, ke Indonesia, untuk liburan," tutur Natalia.

Akan tetapi, pernyataan itu ini dianggap tidak sinkron dengan bukti percakapan Jessica kepada temannya, Bri. Dari bukti percakapan itu, alasan Jessica pulang ke Indonesia karena banyak permasalahan di Australia.

2 dari 3 halaman

Menyesal Pulang

Natalia juga mengatakan, Jessica Kumala Wongso menyatakan penyesalannya atas kematian Wayan Mirna Salihin. Terdakwa menilai kepulangannya ke Indonesia dari Australia berdampak tewasnya Mirna.

"Dia, Jessica, itu menjelaskan, hal yang paling disesalinya adalah kepulangannya ke Indonesia menyebabkan kematian almarhum Mirna. Menurutnya jika dirinya tidak kembali almarhum Mirna tidak akan meninggal," ujar Jaksa Penuntut Umum.

Kalimat tersebut muncul dari mulut Jessica ketika timnya menanyakan penyesalan terkait tewasnya Mirna Salihin. "Kalau aku enggak pulang, enggak akan ada kejadian ini. Dia cuma jelasin seperti itu," kata Natalia.

Otto Hasibuan selaku pengacara Jessica coba meluruskan maksud ungkapan penyesalan kliennya tersebut.

"Kalau saya tidak pulang ke Indonesia tidak akan terjadi. Dia menyesali begitu. Tapi orang berpikir kok seakan-akan membunuh. Enggak gitu," ujar Otto di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Advokat Otto Hasibuan (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Otto menjelaskan, apa yang disampaikan Natalia tidak menggiring opini bahwa Jessica mengakui melakukan pembunuhan. Natalia hanya menyampaikan apa yang diucapkan Jessica tanpa menjelaskan maksudnya. Sebab Natalia sendiri tidak sampai mendalami ‎ucapan itu.

"Kan ahli tadi dengan baik menceritakan, 'kalau saya pulang nggak ada kejadian ini' (Jessica tidak terseret kasus)," tutur dia.

Pengacara kondang itu menjelaskan, kliennya menyesal karena telah terjebak dalam kasus kematian Mirna yang rumit ini ketika pulang ke Indonesia. Karena jika dia tidak pulang, sekalipun Mirna tetap tewas saat itu, Jessica tidak mungkin terseret di kasus kematian tersebut.

"Dari situ kita menangkap (maksudnya) Jessica tidak melakukan apa-apa. Di situ dia regretful, menyesali dirinya 'kok aku pulang ya'," jelas Otto.

 

21 Komentar

Video Populer

Foto Populer