Sukses

Akhir Bahagia Gloria di Istana Merdeka

Liputan6.com, Jakarta - Gloria Natapradja Hammel boleh jadi tersisih dari 68 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang bertugas dalam upacara HUT ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta.

Rabu, 17 Agustus 2016 pagi, ia hanya bisa menyaksikan teman-temannya bertugas mengibarkan bendera Merah Putih. Namun, Gloria justru mendapatkan perhatian spesial dari Presiden Jokowi.

Setelah pengibaran bendera selesai, remaja blasteran Sunda- Prancis itu menjadi satu-satunya anggota Paskibraka yang diajak Jokowi makan siang bersama dengan para pejabat negara dan tamu penting di Istana.  

Tak hanya diundang jamuan makan siang, bahkan Gloria saat itu juga ditemui oleh Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla. "Ini dia nih yang terkenal banget di TV...," ucap Jokowi saat pertama bertemu Gloria.

Kesempatan bertemu Presiden, Ibu Negara Iriana dan Wapres Jusuf Kalla itu pun menjadi momen berharga bagi Gloria. Semangat dan motivasi disampaikan oleh Jokowi untuk dara asal Depok, Jawa Barat itu.

"Beliau (Jokowi) sampaikan, jangan pernah patah semangat. Pasti di balik semua kegagalan itu ada caranya kita bangkit lagi, itu yang paling penting," ucap Gloria.

Ibu Negara Iriana juga memberi semangat  kepada Gloria agar tidak berhenti berkarya untuk Tanah Air. "Ibu Negara bilang, 'Kamu tegar dan semangat ya', begitu," ujar dia.

Gloria Natapradja Hamel Bersama Presiden Jokowi (Biro Pers Istana)

Tak hanya memberi semangat dan motivasi, Jokowi juga memberi kabar bahagia untuknya. Gloria diizinkan bergabung dalam tim penurunan bendera di Istana Kepresidenan pada Rabu sore.  "Pak JK yang awalnya mengizinkan untuk ikut pengibaran sore ini," ucap dia.

Kabar ini membuat siswi SMA Dian Didaktika itu begitu bangga dan terharu. Setelah sempat diputuskan gagal bergabung di tim pengibar bendera, akhirnya dara asal Depok, Jawa Barat itu mampu mewujudkan cita-citanya.

Kabar gembira itu juga mendapat sambutan positif dari Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi yang memang sebelumnya mengusahakan Gloria agar dapat bergabung dalam tim Paskibraka.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu bersyukur dan berterima kasih kepada Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla yang telah memberikan kesempatan bagi remaja blasteran Sunda-Prancis itu untuk bergabung dalam pasukan pengibar bendera.

"Terima kasih Pak Presiden @jokowi Pak Wapres @Pak_JK yg telah mengizinkan Gloria bergabung sore ini di Paskibraka," cuitnya.

'Pagar Ayu' Jokowi-JK

Gloria pun akhirnya diputuskan terlibat dalam pasukan tim penurunan bendera dan berposisi sebagai penjaga gordon. Diposisinya, Gloria bertugas menyambut presiden dan wakil presiden ketika masuk ke arena upacara dan berdiri di belakang barisan Presiden dan tamu negara.

Kendati tak ikut serta dalam formasi tim penurunan atau kenaikan bendera Pusaka, Gloria mengaku tetap siap menerima segala posisi yang diberikan kepadanya. "Jadi gordon pun aku siap," kata puteri pasangan Didier Hummel dan Ira Natapradja itu.

Walau berposisi layaknya 'pagar ayu', ia menolak bila disebut dirinya mendapat posisi yang tak penting di tim Paskibraka.

"Gordon itu bukanlah hal yang lebih buruk dari pengibar. Semua di Paskibraka itu penting. Kelompok 8 dan 17 itu sama. Tanpa 17, 8 bukan apa-apa. Tanpa 8, 17 bukan apa-apa juga," ujar gadis berambut ikal itu.

1 dari 3 halaman

Jadi Perhatian Jokowi

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengatakan keputusan untuk kembali menarik Gloria bergabung dalam tim Paskibraka datang langsung dari Jokowi.

Menurut Pramono, banyak faktor yang dipertimbangkan oleh Jokowi terkait sosok Gloria saat ini. salah satunya, usia Gloria yang saat ini masih 16 tahun. Artinya, ia masih berpeluang untuk menentukan kewarganegaraan yang dipilihnya.

"Memang ada kesalahan. Seharusnya orangtuanya, waktu 2010 itu mengaplikasikan ini, tapi ini kan bukan kesalahan Gloria," jelas politisi PDI Perjuangan itu.

Selain itu, ketegaran, keinginan, nasionalisme dan kecintaan Gloria pada Indonesia menjadi perhatian khusus bagi Jokowi. Sehingga negara patut memberi ruang kepada pemuda seperti Gloria.

"Dan Presiden, Wakil Presiden maka Panglima TNI dan Menpora diminta untuk mencari jalan keluar terhadap hal tersebut, kemudian Menkumham melihat bisa. Makanya ya nanti kita lihatlah," tambah Pramono.

Sempat Kecewa dan Marah

Gloria awalnya memang tak mengetahui kalau kegagalannya bergabung dengan Tim Paskibraka karena persoalan status kewarganegaraannya.

Kementerian Hukum dan HAM menyatakan Gloria dicoret dari daftar Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Merdeka pada perayaan HUT RI 71.

Dalam surat bernomor AHU.4.AH.10.01-123 bertanggal 15 Agustus 2016, yang ditandatangani Direktur Tata Negara Dirjen Administrasi Hukum Umum Kemenkumham Tehna Bana Sitepu, disebutkan Gloria memegang paspor Prancis Nomor 14AA66042 yang berlaku sejak 20 Februari 2014 sampai 19 Februari 2019.

Gloria Natapradja Hamel Bertemu Teman-temannya di Wisma Negara (Foto: Aditya Eka P)

"Saat itu saya hanya kaget. Dan bingung mau ngomong apa," kata Gloria.

Keputusan ini yang membuat Gloria tidak bisa mengikuti gladi kotor, dua hari sebelum upacara pengibaran bendera dimulai. Ia hanya berdiam diri di kamar sembari menunggu teman-temannya pulang latihan gabungan di Istana Merdeka.

"Karena sudah tidak diakui sebagai warga negara Indonesia, saya tidak memaksakan juga, karena itu konstitusi. Saya menghargai itu dan mengikuti prosedur yang ada. Toh, yang berwenang sudah angkat bicara," kata Gloria.

Meski hati kecil ingin sekali berlari ke Istana Merdeka untuk latihan bersama teman-temannya, Gloria hanya bisa pasrah disuruh menunggu di Wisma Soegondo PP-PON Menpora, Cibubur, Jakarta Timur.

"Mereka minta saya stay, saya stay. Mau lari ke sana tapi Garnisun juga kontra karena hukum dan saya nggak bisa latihan," kata Gloria.

Kekecewaan Gloria kian bertambah begitu tahu ia tidak bisa dikukuhkan sebagai Paskibraka seperti peserta Diklat Paskibraka 2016 yang lain. Gloria tak dapat berbuat banyak.

Ia hanya ingin orang tahu bahwa rasa cintanya terhadap Indonesia sangat besar. Gloria ingin mengubah Indonesia menjadi negara yang lebih baik lagi.

"Apa yang saya janjikan di bendera yang diam jauh lebih suci dibanding orang lain. Kemarin sewaktu malam renungan jiwa saya menangis di hadapan sang merah putih. Meski dia diam, tapi dia yang paling tahu perasaan saya," kata Gloria.

2 dari 3 halaman

Dukungan dari Menpora

Setelah tugas sebagai tim penurunan bendera selesai, Asa Gloria Natapradja Hammel untuk menjadi warga Indonesia pun terbuka lebar. Ia pun selalu mengimpikan agar dirinya dapat memberikan yang terbaik bagi Indonesia.  
 
Dukungan juga diberikan pemerintah, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi mengatakan, pihaknya akan membantu mengurus masalah kewarganegaraan Gloria.

"Ya tentu ini pengalaman berharga bagi kita semua, betapa indah koordinasi antar kementerian," kata Imam di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (17/8/2016).

Menurut Imam, pihaknya akan membantu proses pengurusan kewarganegaraan Gloria ketika seluruh kegiatan Paskibraka selesai.

"Sehingga ke depan setelah program Paskibraka selesai maka kita akan bantu, sehingga proses kewarganegaraan Gloria bisa segera terpenuhi dengan baik," jelas Imam.

Gloria Natapradja (depan, kedua dari kanan) sebagai anggota Paskibra

Ia berharap apa yang terjadi pada Gloria dapat menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat, khususnya kaum muda. Bahwa semangat untuk tetap mencintai tanah air tidak boleh berhenti dalam kondisi apapun.

"Ini sesungguhnya menjadi motivasi dan semangat bagi kita semua, kalau kita berjuang berusaha sabar ikhlas dan cinta tanah air sepenuh hati maka akan ada jalan keluar," kata Imam.

Tak hanya itu, Imam juga berniat menjadikan Gloria sebagai Duta Kemenpora. Sosoknya yang cerdas dan tangguh dapat dijadikan contoh bagi para pemuda lainnya.

"Ke depan akan jadikan Gloria sebagai salah satu duta di Kemenpora. Ini untuk memotivasi pelajar Indonesia agar tidak putus asa dengan apa pun kenyataan yang ada di depannya," ujar Imam.