Sukses

Babak Baru Perseteruan Dua Bintang, Ahok Vs Risma

Liputan6.com, Jakarta - Jumat pagi Ahok kaget sang ibunda marah besar padanya. Belum juga memulai harinya sebagai Gubernur DKI Jakarta, pria bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu mendapatkan pesan singkat dari sang ibu yang bernada marah. Tidak hanya ibunda, adik, kerabat, teman-temannya juga marah pada Ahok.

"Aku dikritik sampai adik saya, semua, ibu saya kritik, lalu teman saya dokter, semua. Sampai pagi kirimin, kan mereka bangun pagi kirimin. Saya bangun pagi, saya baca, wah aku diomel-omelin," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Jumat 12 Agustus 2016.

Orang-orang dekatnya marah karena Ahok membuat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sakit hati. "Lu tahu enggak, ini Risma orang baik jujur kayak lu ya. Ini orang baik, kenapa lu cari musuh?" ujar Ahok ucapan ibu, adik dan rekan-rekannya saat memarahinya.

 

Ahok kaget pernyataannya soal luas Surabaya sama dengan Jakarta Selatan dinilai menyinggung warga Surabaya.

 
Amarah Risma kepada Ahok ini berawal pada Kamis 11 Agustus 2016 ketika mantan Bupati Belitung Timur itu membandingkan luas Jakarta dan Surabaya. Meski awalnya Ahok mengatakan ingin banyak belajar dari Risma soal pengelolaan kota, terutama trotoar. Tapi ujungnya dia justru menyinggungRisma.

"Jakarta beda banget sama Surabaya, Surabaya trotoarnya sudah rapi, Jakarta kok belum? Nah, itu yang sehat (pembandingan antar cagub). Kita akan jelaskan kepada masyarakat, Surabaya itu cuma Jakarta Selatan. Gitu, loh," ujar Ahok.

Menurut Ahok, Risma membutuhkan waktu lama untuk menyulap Surabaya menjadi kota yang rapi seperti saat ini.

"Bu Risma menata itu butuh tahun yang lama. Bu Risma kebetulan dari kepala dinas taman, lalu Bappeda, bisa anggarin, lalu wali kota, lalu wali kota lima tahun, itu sudah di atas 10 tahun itu," kata Ahok.

Ahok pun meminta waktu untuk membenahi trotoar di Ibu Kota. Sebab, trotoar Jakarta sepanjang 2.700 kilometer sama dengan jarak pulang balik Jakarta-Surabaya dan Surabaya-Jakarta.

"Makanya saya katakan di Jakarta, ada 2.700 kilometer trotoar yang harus total kita bangun. Kasih saya waktu. Saya beresin. Sekarang beberapa prototipe kita punya," pungkas Ahok.

1 dari 4 halaman

Risma Murka


Dengan pernyataan Ahok itu, Risma resah. Dia takut warga Surabaya marah dan menyerang Ahok. Oleh karena itu dia lebih memilih menanggapi komentar Ahok lebih dulu.

"Sebagai warga Surabaya, aku punya harga diri. Semua tahu bagaimana karakter orang Surabaya. Makanya sebelum warga Surabaya marah, biar saya yang ngomong duluan," ucap Risma dengan nada marah, Kamis 11 Agustus 2016.

"Kalau ngomong harus pakai data. Saya kalau ngomong selalu pakai data. Bukan berarti saya sombong, tapi saya enggak mau kalau Surabaya itu dibandingkan terus. Saya paham, dia lebih besar, dia gubernur, saya wali kota. Tapi janganlah berbuat sampai warga Surabaya marah," ucap Risma.

 

Walikota Surabaya Tri Rismaharini

 
Risma mengaku bingung mengapa Ahok sering menyebut Kota Surabaya seakan tidak bisa dibandingkan dengan Jakarta. Padahal, sejauh ini Risma tidak pernah membandingkan Surabaya dengan kota-kota lain.

"Di Surabaya, orang sakit bisa gratis karena kita ada dana, selain BPJS. Sekolah gratis. Bikin trotoar biaya mahal, tapi kita bisa melakukan semua itu. Kalau mau kerja keras dan efisien keuangan, pasti bisa. Kita sudah berupaya, tapi jangan dibanding-bandingkan," kata Risma.

Risma juga menegaskan dirinya enggan menemui Ahok untuk menyampaikan permasalahan tersebut. Sebab, baginya tidak ada gunanya. "Ngapain ke sana repot-repot menemui. Malah habiskan biaya yang tidak perlu. Saya hanya komentar begini biar tidak ada kekeliruan," tutur Risma.

2 dari 4 halaman

Ahok Bingung Risma Baper


Sehari setelah Risma marah dan diomeli ibunda, Ahok kemudian mengklarifikasi pernyataannya. Menurut Ahok, pernyataannya soal perbandingan Jakarta dan Surabaya itu hanya salah paham karena penulisan di media.

"Bukan saya mau mengecilkan Ibu Risma. Apalagi mau menyakiti orang Surabaya. Maksud saya media jangan ngomporin orang Surabaya dong. Ini kan gara-gara (salah tulis)," ujar Ahok.

Menurut Ahok, dia tak pernah bermaksud membandingkan Jakarta dengan Surabaya. Ahok hanya menjawab pertanyaan dari media yang menanyakan Risma akan ikut Pilkada dan memiliki keunggulan dengan pengelolaan trotoar di Surabaya lebih baik dari Jakarta.

Ahok menjelaskan tak bermaksud membandingkan luas Jakarta Selatan dan Surabaya. Yang Ahok maksud adalah perbandingan Adipura, bukan luas geografis.

 

Wali Kota Tri Rismaharini berbagi pengalaman menata Kota Surabaya kepada delegasi Konferensi Permukiman di Perkotaan antar-Negara PBB.

"Soal banding-bandingin tuh gini, bukan luas. Bandinginnya enggak gitu. Misalnya Adipura. Adipura itu bandinginnya apa? Surabaya dengan Jakarta Pusat, Jaksel. Wali Kota sama gubernur beda nama loh. Jadi itu yang saya maksud, Surabaya itu setaranya itu kayak Jaksel, kan sama-sama kota," jelas Ahok.

Ahok mengaku sejak dulu konsisten ingin belajar banyak dari pemerintah Kota Pahlawan itu. "Kamu lihat konsisten saya. Saya selalu bilang belajar banyak dari bu Risma. Saya bilang, saya pengen banyak kepala daerah (yang baik) ikut (Pilkada DKI)," kata Ahok.

Ahok mencontohkan masalah perizinan online hingga fasilitas di rumah sakit adalah hasil pembelajarannya dari Risma.

"Saya panggil PTSP (dulu), eh Surabaya banyak sekali loh izin online. Masa punya kamu enggak belajar. Lo ke sana Surabaya belajar deh. Jadi saya justru mengikuti apa yang Surabaya lakukan. Jadi ini emang gara-gara (media) aja nih melintir, haduh," ucap Ahok.

Ahok menyatakan seharusnya tak ada salah paham antara dirinya dengan Risma, sebab jelang pilkada banyak isu yang mengadu domba.

"Gue bingung, gara-gara lo (media) bu Risma jadi baper, marah, konferensi pers seolah-olah aku diadu domba sama beliau. Kan saya bilang, saya senang kalau semua kepala daerah yang berhasil, nyalon gubernur. Supaya waktu nyalon gubernur itu terjadilah dialog kinerja, bukan SARA," pungkas Ahok.

3 dari 4 halaman

Sampai Telinga Istana


Kesalahpahaman antara Risma-Ahok ini terdengar hingga ke Istana. Wakil Presiden Jusuf Kalla justru menilai hal ini lumrah jelang pilkada.

"Ya namanya saja pilkada, selalu yang bertarung itu isu-isu," kata JK.

Ahok adalah calon gubernur petahana. Sementara Risma tengah didorong untuk maju di Pilkada DKI Jakarta oleh partai-partai non-Ahok.

 

Wakil Presiden Jusuf Kalla.


Bagi JK, yang saat ini menentukan arah pilkada DKI Jakarta ada dua hal. Keputusan partai politik akan mendukung sosok yang mana, dan tentunya rakyat sebagai pemilik suara.

"Saya kira itu akhirnya, pertama ini masalah politik. Jadi tergantung partai-partai politik. Khususnya PDIP mau ke mana ini?" jelas JK.

Rakyat tentu sangat memegang peran penting dalam hal ini. Sebagai pemilik suara, segala keputusan nanti akan berpengaruh pada kondisi daerah mereka ke depan.

"Setelah itu tergantung rakyat Jakarta. Biar terpilihlah yang terbaiklah untuk rakyat," pungkas JK.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pun ikut angkat bicara soal perseteruan antara Ahok dan Risma. Menurut Tjahjo, kedua kepala daerah itu tidak ada kaitannya dengan tata kelola pemerintah.

"Sebenarnya yang muncul di opini antara Pak Ahok dan Bu Risma itu tidak dalam konteks tata kelola pemerintahan. Ini pride pribadi, menyangkut harga diri pribadi," kata Tjahjo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (12/8/2016).

Setiap kepala daerah, kata Tjahjo, pasti tidak terima bila hasil karyanya dicemooh oleh orang lain. Ego mempertahankan daerah masing-masing merupakan hal yang wajar dilakukan oleh kepala daerah.

"Jadi kasus ini bukan dalam konteks tata kelola. Ini masalah pribadi yang eksesnya diawali dari pencalonan pilkada DKI," lanjut Tjahjo.

Politikus PDIP itu memastikan tidak ada yang terganggu dari sisi jalannya pemerintahan kedua daerah. Dalam pertemuan terakhir dengan Ahok dan Risma, keduanya masih menjalankan tugas mereka dengan baik sebagai kepala daerah.

"Selama ini tidak ada. Kami juga beberapa hari ini baru undang Bu Risma jelaskan e-planing juga enggak ada masalah. Ketemu pak Ahok juga enggak ada masalah," pungkas Tjahjo.