Sukses

Rahmat Duhe Jadi Paskibraka agar Sang Ibu Bisa ke Istana Negara

Liputan6.com, Jakarta Sebentar lagi mimpi Rahmat Duhe mendatangkan sang ibunda ke Istana Negara akan segera terwujud. Duhe, calon Paskibraka dari Gorontalo, selalu terngiang dengan omongan wanita yang telah melahirkannya selama ia mengikuti proses seleksi Paskibraka tingkat nasional 2016 di Cibubur.

"Ibu ingin sekali melihat saya berdiri di bawah Sang Saka Merah Putih di Istana Negara. Ibu saya itu ingin banget bisa ke sini. Jadi, kalau ada orang yang bertanya apa motivasi saya ikut Paskibraka, karena saya ingin mewujudkan mimpi ibu saya itu," kata Rahmat Duhe di Lapangan PP-PON Menpora, Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (11/8/2016)

Kedua orangtua juga sudah berjanji akan melihat Duhe bertugas sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di hadapan Presiden Joko Widodo. "Kalau mereka datang, saya akan mencium tangan mereka dan memeluk mereka sambil berkata 'Ma, Pa, Dandi berhasil sampai sekarang ini berkat doa Mama dan Papa'," ujar Duhe yang biasa dipanggil Dandi.

Rahmat Duhe dari Gorontalo Diketahui Berteman Baik dengan Muhammad Akbar Calon Paskibraka Tingkat Nasional 2016 dari Kalimantan Barat dan Tri Wahyu Hambrata dari Sumatera Selatan (Foto: ADIITOO.com)

Rahmat Duhe pernah meraih juara tiga kejuaraan bulu tangkis tingkat kabupaten. Pemilik hobi bermain alat musik ini tidak pernah menyangka bisa mendapatkan satu tempat sebagai Paskibraka di tingkat nasional. Ia sudah bertemu dua orang menteri dan orang-orang hebat lainnya selama menjalankan Diklat Paskibraka 2016 di Cibubur. Padahal, harapan Duhe hanya sampai di tingkat provinsi saja.

"Enggak ada berharap bisa tembus sampai ke nasional. Tapi karena orangtua selalu memotivasi, memberikan apa yang saya butuhkan, tekad saya semakin bulat agar bisa sampai ke tingkat nasional. Semua demi mewujudkan mimpi kedua orangtua saya," kata Duhe menambahkan.

Duhe atau Dandi pertama kali menekuni kegiatan semacam ini sewaktu duduk di bangku kelas 2 SMP. Dua tahun berturut-turut ia menjadi menjadi anggota Paski di kecamatan.

"Dari Palu pindah Gorontalo waktu masuk SMP. Terus kelas 1 saya dipanggil untuk Paski kecamatan. Pertama saya enggak mau, karena merasa emosinya masih kekanak-kanakan. Baru ikut di kelas 2. Dan itu dua tahun berturut-turut," kata Duhe.

Teman-teman peserta Diklat Paskibraka 2016 mengenal Duhe sebagai sosok yang suka ngegombal.