Sukses

Pakaian Mahal Ini Hanya Dimiliki Paskibraka

Liputan6.com, Jakarta Senyum mengembang di wajah calon anggota Paskibraka begitu menerima PDU (pakaian dinas upacara) dari panitia. Mereka tidak sabar ingin mencoba baju paling mahal yang tidak bisa diukur dengan nominal uang. Konglomerat saja belum tentu bisa membeli PDU yang sekilas mirip pakaian upacara biasa.

Laurensius G.R. Rentanubun (Maluku) dan Amarik Fakhri Marliansyah (DKI Jakarta) tidak sungkan memamerkan PDU yang sudah mereka tunggu selama beberapa hari ini. Kedua calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di Istana Negara itu terlihat sangat hati-hati mengeluarkan PDU yang tergantung di dalam sarung berwarna hitam.

"Banyak rintangan yang harus kami lalui untuk mendapatkan PDU ini. Harus seleksi kabupaten dan kota dulu. Dari situ digojlok lagi biar terpilih di tingkat provinsi. Dari provinsi ke nasional juga harus kerja keras lagi. Makanya, PDU layak disebut pakaian mahal karena mendapatkannya susah," kata Amarik.

Gaya Anggota Paskibraka Tingkat Nasional 2016 dari DKI Jakarta Amarik Fakhri Marliansyah Saat Pamerkan Baju PDU Miliknya (Foto: Aditya Eka Prawira)

Perayaan detik-detik Proklamasi tinggal tujuh hari lagi. Peserta Diklat Paskibraka 2016 mulai mencoba PDU dan sepatu yang akan mereka kenakan ketika bertugas nanti. Selain tentunya latihan pemantapan di bawah pantauan tim Garnisun.

Para calon anggota Paskibraka harus mengecek detail yang tertempel di PDU. Sudah benarkah letak logo provinsi. Benar tidak nama yang tercantum di "baju kebesaran Paskibraka". Dan sudah nyamankah rok atau celana panjang ketika dipakai untuk langkah tegap. Kalau merasa rada sempit atau kebesaran akan segera diperbaiki.

Andrea Nuzulia dari Bangka Belitung semringah menerima PDU yang dirasa pas di badan. Yang kurang hanya nama provinsi yang seharusnya berada di atas logo provinsi. "Bahannya bagus. Aku suka banget. Cuma nama provinsi tidak ada," ujar penyuka semua karya Andrea Hirata.

Laurensius G.R Rentanubun, Peserta Diklat Paskibraka 2016 dari Maluku, Mengingat Kembali Perjuangannya untuk Mendapatkan PDU yang Kini Berada di Genggaman. Seleksi Demi Seleksi Ia Ikuti. Sudah Lulus Sebagai Calon Paskibraka Nasional 2016 Saja Ia Masih Digojlok untuk Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Ketua Panitia Diklat Paskibraka 2016 Bastaman Harahap merasa wajar apabila putra dan putri calon Paskibraka menganggap PDU adalah pakaian paling mahal yang mereka punya di sepanjang hidupnya.

"Tidak sembarangan menciptakan PDU tersebut. Semua simbol yang tertempel di pakaian warna itu memiliki makna yang dalam. Ketika Idik Sulaiman dan Mutahar menciptakan PDU untuk dikenakan para Paskibraka pada zaman itu, dipikirkan betul pernak-pernik apa saja yang harus ada di PDU. Runtutan prosesnya ada semua," kata Bastaman di Wisma-C PP-PON Menpora, Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (10/8/2016)

Mutahar atau Mayor Laut Husen Mutahar adalah bapak Paskibraka Nasional. Beliau orang pertama yang berinisiatif menggerakkan lima pelajar dari berbagai daerah untuk mengerek bendera di Istana Negara yang saat itu ibukota Indonesia masih DI Yogyakarta. Sementara Idik Sulaiman, kata Bastaman, adalah murid Mutahar yang pernah menjabat sebagai Direktur Kesiswaan di Diknas.

Konon, di tingkat kabupaten, kota, dan provinsi, memiliki "ritual khusus" yang harus dilakukan calon penerima PDU. Misal satu hari sebelum menerima PDU, para Paskibraka harus berlari dan melakukan banyak hal sebagai bukti bahwa mereka layak mendapatkan baju tersebut.

"Kalau kita tidak perlu sampai seperti itu. Mereka dilatih, digembleng, kurang tidur selama sebulan saja sudah termasuk perjuangan yang tidak semua orang kuat melakukannya," kata Bastaman.

"Jangan sampai karena merasa sulit mendapatkan PDU, mereka jadi memaki ibu sendiri gara-gara salah ketika mencuci pakaian tersebut. Nggak mau kami membenturkan hal-hal semacam itu," kata Bastaman menambahkan.

Bastaman hanya mau para peserta Diklat Paskibraka 2016 menjaga sikap selama mengenakan PDU. Tutur kata dan tingkah laku tidak bisa seenak jidat lagi.

Salah seorang pembina Paskibraka 2016 Wahyu Saputra kurang lebih mengatakan hal yang sama. Justru peserta Diklat Paskibraka 2016 mengemban pekerjaan berat setelah mendapatkan PDU.  Sikap, tingkah laku, dan gaya berbicara harus mereka sesuaikan.

"Sebetulnya semua bisa beli PDU. Cuma dalam Paskibraka ada kekhasan yang membuat mereka merasa bangga ketika mengenakannya. Pas fitting saja sudah senang. Apalagi nanti pas mereka pakai saat pengukuhan dan bertugas di Istana Negara," kata Wahyu.

"Dalam Paskibraka juga harus menghormati etika dalam berpakaian. Tidak sembarangan bersikap ketika sudah mengekana PDU. Semua harus dijaga dengan benar oleh adik-adik Paskibraka," kata Wahyu menekankan.