Sukses

Menunggu Takdir Risma ke Jakarta

Liputan6.com, Jakarta - Sinyal yang menunjukkan Tri Rismaharini  melenggang ke Jakarta semakin menguat. Walau kerap menolak bila ditanya soal dukungan terhadapnya di Pilkada DKI, isyarat pasrah dan menyerahkan diri pada takdir mulai ditunjukkan oleh Wali Kota Surabaya itu.

Risma kini tak lagi menolak ketika ditanya ketersediaannya untuk maju di Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Saya tidak berani komentar jabatan itu, biarlah nanti Tuhan yang menentukan saya mau ke mana saya mau apa gitu," kata Risma usai menghadiri Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I Diperluas PDIP Aceh di Aula Hotel Grand Aceh, Banda Aceh, Sabtu 6 Agustus 2016.

Ia mengaku, jika nanti keputusan partai tetap mengusungnya, sebagai petugas partai, dirinya tidak dapat menolak. Penunjukan tersebut ia anggap sebagai takdir Tuhan yang tidak dapat ditolak.

"Kalau ternyata tetap turun (diusung) itu ya sudah itu sudah takdir Tuhan, tidak ada siapa pun yang bisa mengalahkan takdir Tuhan," Risma menjelaskan.

Bicara soal takdir, Risma yang belum lama ini mendapat cucu pertama itu sebelumnya juga pernah mengaku tak bisa menolak bila suratan takdir harus memintanya untuk meninggalkan Surabaya.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini mendampingi Ketua Umum PDIP dan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani saat mengunjungi eks Lokalisasi Dolly di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (2/8/2015) (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Risma mengatakan tidak bisa mengambil keputusan apa pun. Ia hanya bisa menjalani apa yang menjadi kewajibannya saat ini sebagai Wali Kota Surabaya.

"Aku enggak bisa mengadu warga Surabaya dengan warga Jakarta. Orang di sana (Jakarta) mengharapkan, orang di sini (Surabaya) enggak boleh. Lah mosok (masa) aku dipecah dadi loro (dibelah menjadi dua)," ujar Risma, 31 Juli 2016.

Mantan Kepala Dinas Pertamanan Kota Surabaya itu menegaskan, ia tidak pernah mengatakan bersedia dicalonkan sebagai gubernur di Pilgub DKI Jakarta 2017. Akan tetapi, Risma mengaku tidak tahu apakah takdir pada akhirnya akan mengantarnya ke sana.

"Aku enggak pernah ngomong bersedia. Aku hanya menjalani takdirku. Tuhan yang menentukan," ucap dia.

Risma Pasti Bersedia

Kendati belum ada kata 'bersedia' dari Risma, politikus PDIP Eva Kusuma Sundari menilai, ungkapan takdir Risma saat menghadiri Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I PDIP di Aceh merupakan sinyal jika dia bersedia diusung dian ditugaskan di Pilkada DKI Jakarta.

"Perkiraanku, kalau ditugasi Ketua Umum (Megawati Soekarnoputri). Dia harus maju," ucap Eva kepada Liputan6.com.

Tri Rismaharini memberikan paparan kepada DPD PDIP Aceh (foto: rilis PDIP)

Eva yakin, jika Risma akan diusung di Pilkada DKI Jakarta. Sebab, survei internal yang dilakukan partai berlambang kepala banteng moncong putih itu, Risma selalu berada di posisi atas.

"Maklum, dia (Risma) tertinggi di polling PDIP dan rekomendasi juga mempertimbangkan hasil survei," kata Eva.

Keyakinan serupa juga disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Eriko Sotarduga, ia meyakini Risma pasti bersedia bila perintah tersebut datang dari Megawati.

Menurut dia, aturan di partainya mengharuskan agar setiap perintah yang keluar dari mulut Megawati harus dipatuhi oleh setiap kadernya. "Kami punya keyakinan siapa pun kader yang ditunjuk nanti, yang diputuskan ketua umum, pasti bersedia," kata dia.

"Karena itu namanya kader sejati. Seorang masuk PDIP Perjuangan yang mempunyai ideologi Pancasila, ditugaskan di mana pun harus siap," Eriko menegaskan.

1 dari 2 halaman

Dinanti Partai Lain

Tak hanya dinanti oleh petinggi di internal partainya, 'takdir' Risma ke Jakarta juga dinanti oleh partai-partai lain yang telah memutuskan untuk tidak mendukung calon petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani menyatakan partainya sangat mendukung Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi salah satu kandidat kuat yang akan diusung pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Namun untuk mengusung Risma, PPP masih menunggu keputusan PDI Perjuangan apakah ingin mencalonkan kadernya atau tidak. "Risma kader PDIP, PPP menunggu keputusan dari PDIP," kata Arsul di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat, 5 Agustus 2016.

Sampai saat ini, Arsul berujar, PPP terus berkomunikasi dengan parpol lain yang tidak mendukung Ahok. "Level tertinggi Romi (Ketum PPP) telah bertemu dengan Megawati. Dan saya juga berkomunikasi dengan parpol lain seperti PAN, Demokrat, Gerindra, PKS, dan PKB," ujar dia.

Tak hanya PPP, partai berhaluan Islam lainnya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) juga menanti hal yang sama. Bahkan, para petinggi PKS dalam waktu dekat berencana untuk bertemu dengan Megawati selaku Ketua Umum PDIP.

"Kuncinya di Bu Mega. Kalau kami sejak awal sudah mengomunikasikan dengan pemimpin PDIP di tingkat provinsi atau pusat, kita sampaikan kalau bisa bareng. Untuk masalah dukung siapa, itu bagaimana Ibu Ketum (Megawati)," kata Ketua DPP PKS Syakir Purnomo saat dihubungi di Jakarta, Jumat, 5 Agustus 2016.

PKS berharap hanya ada dua pasang calon gubernur di Pilkada DKI Jakarta. "Harapannya head to head," dia menambahkan.

Dukungan Relawan

Dukungan bagi Risma juga mengalir dari komunitas masyarakat yang membentuk jaringan relawan. Tatal ada lebih dari lima organisasi relawan pendukung Risma yang telah dibentuk di ibu kota. Yang paling serius yaitu gerakan masyarakat yang menamakan diri Jakarta Love Risma (Jaklovers).

Dibanding kelompok relawan pendukung Risma lainnya, Jaklovers tampak lebih siap dari sisi manajerial. Mereka saat ini mulai berkampanye mengumpulkan dana kampanye Pilkada DKI Jakarta dengan menjual merchandise. Mereka juga menjual dagangannya itu melalui laman www.jaklovers.com.

Sekretaris Jenderal Jaklovers Arif Munandar tak menampik jika konsep Jaklovers mengumpulkan dana mengikuti jejak TemanAhok. "Kalau kesan sama (dengan TemanAhok), ya boleh saja menilainya seperti itu," ucap Arif di Jakarta Selatan, Kamis 21 Juli 2016.

Jaklovers gelar dukung Tri Risma Harini untuk maju di Pilkada DKI

Selain di Jakarta, kelompok relawan juga datang dari Surabaya, mereka menamakan diri Aliansi Pemuda Surabaya Jakarta. Koordinator Aliansi Pemuda Surabaya Jakarta Imam Budi Utomo menyebutkan empat alasan mengapa Risma harus melenggang ke Ibu Kota.

"Yang pertama ada dukungan dari masyarakat, yang kedua dukungan partai politik, yang ketiga adalah faktornya Ibu Risma sendiri mau atau tidak, yang keempat adalah takdir," ujar Imam usai menyerahkan surat permohonan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri agar Risma maju ke Pilkada DKI di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (7/8/2016).

Dia menegaskan, kalau sudah takdirnya Risma untuk maju menjadi DKI 1, maka tidak ada satu pun yang dapat menolak. "Kalau memang Tuhan sudah menakdirkan Risma untuk ada di Jakarta, maka terjadilah itu," sebut Imam.

Selain itu, lanjut dia, Risma adalah seorang wali kota yang mau dan mampu bekerja keras untuk kemajuan rakyat dan kotanya.

"Risma ini seorang tipikal pekerja, beliau memang tidak pernah berusaha mencari-cari jabatan dan beliau selalu melakukan apa yang menjadi amanah yang diberikan kepada beliau," Imam memungkasi.

24 Komentar

Video Populer

Foto Populer