Sukses

Ketika Paskibraka Laki-laki Dihipnotis Jadi Pembawa Baki

Liputan6.com, Jakarta Seluruh peserta Diklat Paskibraka 2016 dan Purna Paskibraka Indonesia (PPI) tertawa terbahak-bahak melihat tingkah empat orang calon Paskibraka laki-laki yang terkena hipnotis sang pembina. Mereka adalah Muhammad Akbar (Kalimantan Barat), Tri Wahyu Hambrata (Sumatera Selatan), Abu Assadiki Ujudillah (Kalimantan Selatan), dan Bima Arivaza Danurahman (Kalimantan Tengah).

Sebelum Dihipnotis Sebagai Pembawa Baki dan Sebagainya, Keempat Peserta Terlebih Dulu

Akbar dihipnotis jadi pembawa baki, Tri Wahyu jadi komandan pasukan, Assadiki ditugaskan sebagai keamanan, dan Bima seolah-olah menjabat sebagai pelatih Paskibraka. Siapa yang mengira kalau calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka tingkat nasional 2016 tersebut memiliki sisi lain yang membuat orang lain geleng-geleng kepala.

Akbar selama hampir tiga minggu ini memang dikenal sebagai peserta Diklat Paskibraka 2016 yang paling konyol dan cowok banget. Tidak ada yang menyangka kalau Akbar begitu lihai meniru peserta perempuan membawa baki.

Cukup Sulit Membuat Keempat Peserta Tertidur. Namun, Sang Pembina Widi Berhasil Membuat Semuanya Tertidur dan Mudah Buat Dihipnotis

"Akbar, juara! Cewek lewat sama Akbar. Siap-siap kalah yang perempuan. Bisa-bisa Akbar yang ditunjuk sebagai pembawa baki," kata Ilham Massaid dari Bengkulu.

"Juaranya sudah tentu Akbar. Karena dia selama ini dikenal badannya gede, berotot, ternyata ketika bawa baki lucu juga," ujar Muhammad Ridho Agung dari Bangka Belitung menahan geli.

Muhammad Akbar, Peserta Diklat Paskibraka Tingkat Nasional 2016 dari Kalimantan Barat, Dihipnotis Jadi Pembawa Baki. Betapa Lucunya Dia Menghayati Perannya Sebagai Pembawa Baki. Di Balik Tubuhnya yang Tegap, Akbar Dinilai Cukup Lihai Sebagai Pembawa Baki

Begitu juga dengan Bima yang telah membuat peserta dari provinsi lain sempat tak percaya kalau ia bisa segila dan sekonyol itu. "Duh, kak, yang paling juara itu Bima. Dia yang paling mendalami profesinya sebagai pelatih. Asal kakak tahu, sifat aslinya Bima itu masih anak-anak banget. Mandi saja bisa satu jam. Tapi tadi sifatnya sudah kayak Letnal Kolonel saja," kata Aldi Trikurniawan siswa SMA Negeri 1 Merangin yang mewakili Jambi.

Elzi Febriantino dari Riau setuju dengan Aldi. Ia juga akan memilih Bima sebagai juara kalau saja tadi ada pemilihan siapa peserta paling konyol ketika dihipnotis. Di mata Elzi, Bima adalah sosok teman yang paling pendiam. Saking diamnya, Elzi suka bingung harus memulai obrolan dari mana kalau sudah duduk bersebalahan Bima.

"Dia orangnya pendiam banget. Nggak tahunya pas disuruh jadi pelatih lucu juga," kata Elzi siswa SMA Negeri 1 Teluk Kuantan.

Sempat Terjadi Kesalahpahaman Antara Assadiki dan Bima. Bima (Pelatih Paskibraka) Dihipnotis Harus Menyuruh Siapa Saja Orang yang Berpakain Putih untuk Membentuk Barisan. Sementara Assadiki (Petugas Keamanan) Harus Menyuruh yang Berpakaian Putih untuk Duduk.

Sedangkan  Achmad Aridkara dari Kepulauan Riau tidak menyangka kalau Tri Wahyudi bisa juga melakukan hal konyol tersebut. Bukan apa-apa, sama seperti Bima, Tri Wahyudi juga dikenal pendiam. Disuruh-suruh saja susah. Barulah ketahuan sifat aslinya ketika dihipnotis tadi.

"Aslinya pendiam kali si Tri Wahyudi itu. Tapi tadi dia tampil dengan tidak ada rasa malu sama sekali," kata Achmad.

Dari semua kelas yang sudah mereka ikuti selama beberapa hari ini cuma kelas semalam yang berhasil membuat mereka tidak mengantuk meski lelah habis latihan PBB dan formasi. "Seru, bikin kita betah. Lelah seharian pun terbayar dengan ketawa-ketawa kayak tadi," kata Ilham.

Tri Wahyu, Peserta Diklat Paskibraka 2016 dari Sumatera Selatan Kena Hipnotis Sebagai Komandan Pasukan. Ia yang Terkenal Diam Rupanya Bisa Berwajah Cukup Sangar Meski Tetap Tak Ada Beda

Sebelumnya, para peserta Diklat Paskibraka tingkat nasional 2016 diberi materi motivasi dengan tema "30 Hari, 30 Menit, 30 Tahun" oleh senior-senior mereka yang tergabung ke dalam PPI. Semua peserta terlihat mendengarkan pemamaparan tersebut dengan sangat serius Terlebih ketika salah seorang dari PPI membahas tentang semboyan BIG (bersahaja, inovatif, dan global) yang merupakan kunci dasar dari seorang Paskibraka. Dengan harapan semboyan tersebut mereka aplikasikan di kehidupan sehari-hari.

"Pastinya akan saya wujudkan di kehidupan sehari-hari. Misalnya, bersahaja dengan cara mengayomi teman-teman, jika mereka ada salah harus kita beritahu yang benarnya seperti apa. Terus inovatif, dituntut untuk berpikir kreatif dan memiliki imajinasi dan daya kreasi yang tinggi sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang selalu baru. Terus global, memiliki hubungan baik tidak hanya dengan sekitar, tapi juga dengan yang lain, atau bahkan berhubungan baik dengan negara-negara lain," kata Amarik Fakhri Marliansyah dari DKI Jakarta.

"Nanti ketika pulang ke daerah, harus bersahaja, tidak boleh sombong. Apa yang didapat di sini, harus kita bagikan ke junior yang ada di sana. Tentunya harus inovatif juga, melatih adik-adik junior dengan cara yang jauh lebih kreatif dari senior-senior sebelumnya. Terus, harus global, harus memiliki pola pikir yang terbuka, serta mampu berbicara di depan banyak orang," kata calon Paskibraka dari Bengkulu, Ilham.